Petani Bawang Rapak Lambur Menjerit karena Kebunnya Terkubur Banjir Lumpur dari Pembukaan Lahan

Petani Didin memperlihatkan kondisi lahan pertanian miliknya di Desa Rapak Lambur. (Facebook/ Arian)

TENGGARONG – Kesedihan menyelimuti hamparan kebun di Desa Rapak Lambur, Kecamatan Tenggarong. Di atas tanah yang seharusnya menjanjikan harapan panen, kini hanya tersisa lumpur pekat yang menelan tanaman bawang merah milik petani bernama Didin Windi Astuti. Satu hektare lahan yang menjadi tumpuan hidupnya mendadak tak berbentuk kebun lagi setelah banjir lumpur menerjang selama empat hari terakhir.

Lumpur itu bukan datang dari hujan biasa. Warnanya pekat, berat, dan mematikan tanaman. Didin meyakini bencana kecil yang menghancurkan kebunnya tersebut dipicu oleh aktivitas pembukaan lahan di dekat area pertanian warga. Jaraknya hanya sekitar 20 meter—terlalu dekat untuk tak meninggalkan dampak.

Bacaan Lainnya

“Banjir itu kan biasanya air bening, tapi ini lumpur karena ada pembukaan lahan. Jaraknya cuma sekitar 20 meter dari kebun saya. Saya sudah tunggu itikad baik (pelaksana pembukaan lahan), tapi sampai sekarang belum ada yang datang ke kebun,” ungkap Didin dengan nada kecewa, Rabu (11/2/2026).

Tanaman Mati, Harapan Ikut Terkubur

Di lahan satu hektare itu, Didin menanam berbagai komoditas yang selama ini menjadi sumber penghidupan keluarga: jagung, cabai keriting, tomat, bawang merah, hingga cabai tiung. Namun genangan lumpur telah mengubah semuanya menjadi kerugian besar.

Bawang merah yang baru ditanam tak sempat tumbuh. Umbinya tertutup lumpur tebal, sebagian hanyut terbawa arus. Tomat yang semula hijau segar kini layu dan mati setelah terendam hampir sepekan. Hanya sedikit cabai yang masih bisa diselamatkan, itu pun dalam kondisi memprihatinkan.

“Kerugian untuk benih saja sekitar Rp6 juta. Kalau hitungan nilai panen, bisa belasan juta rupiah. Terutama tomat, banyak sekali yang layu seminggu kemarin,” bebernya.

Setiap jengkal kebun menyimpan cerita getir. Lumpur bukan sekadar tanah basah, melainkan simbol dari jerih payah yang lenyap begitu saja. Bagi Didin, ini bukan hanya soal uang, tetapi tentang masa depan panen yang direnggut sebelum sempat tumbuh.

Mengadu ke Bupati, Menanti Titik Terang

Tak ingin pasrah, Didin membawa persoalan ini hingga ke meja Bupati Kutai Kartanegara, Aulia Rahman Basri. Ia berharap ada tindakan tegas terhadap pihak yang melakukan pembukaan lahan tanpa memperhitungkan dampak bagi petani sekitar.

“Sudah saya lapor ke bupati. Respons beliau saat ini masih dikaji dan kami diminta menunggu tindak lanjutnya,” jelasnya.

Ancaman tak berhenti di kebun. Luapan lumpur kini mulai merayap ke permukiman. Satu unit rumah warga di ujung lahan dilaporkan telah terdampak, memunculkan kekhawatiran bahwa bencana ini bisa meluas jika tak segera ditangani.

Jeritan petani Desa Rapak Lambur menjadi alarm bagi semua pihak. Di balik setiap butir bawang merah yang tertimbun, ada keringat, modal, dan harapan hidup yang ikut terkubur bersama lumpur.

Nur Fadillah Indah/mediaetam.com

Bagikan:

Pos terkait