PT PIK akan Bangun Sarang Orangutan Berlimpah Makanan di Lahan Eks Tambang

Jajaran PT PIK menggelar upacara peringatan Hari Orangutan Sedunia di lahan eks tambang mereka. (PT PIK)

Bengalon – Dalam rangka memperingati Hari Orangutan Sedunia 2025, PT Perkasa Inakakerta (PT PIK), anak usaha PT Bayan Resources Tbk, mencanangkan pembangunan demonstrasi plot (demplot) tanaman pakan dan sarang orangutan di lahan reklamasi bekas tambang batubara di Bengalon, Kutai Timur.

Orangutan merupakan salah satu satwa asli Kalimantan Timur yang berperan penting sebagai satwa payung (umbrella species). Kehadirannya menjadi indikator kesehatan ekosistem hutan tropis. Namun, keberadaan orangutan kian terancam akibat deforestasi besar-besaran yang terjadi di Kalimantan Timur.

Bacaan Lainnya

Alih fungsi hutan untuk permukiman, ladang, perkebunan, dan tambang telah menggerus habitat alami orangutan secara signifikan. Kondisi ini membuat mereka semakin sulit menemukan makanan maupun pohon besar untuk bersarang.

Upaya untuk mempertahankan orangutan bukan tak ada. Namun belum sebanding dengan laju deforestasi yang terjadi.

Melihat fakta ini, PT PIK berencana membangun sarang orangutan di bekas lahan tambang mereka.

Demplot 2.500 Bibit untuk Pulihkan Habitat

Kepala Teknik Tambang PT PIK, Yohanes Didit Setiarja, menjelaskan bahwa pembangunan demplot merupakan bagian dari upaya reklamasi tambang berwawasan konservasi.

“Kegiatan ini sudah menjadi agenda rutin sejak 2023. Tujuannya untuk mengingatkan pentingnya orangutan dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan,” ujarnya melalui siaran pers yang media ini terima pada Senin, 19 Agustus 2025.

Sementara itu, Rudiro Trisnardono, Senior Advisor PT Bayan Resources Tbk, menyebutkan demplot dibangun di lahan reklamasi seluas 4 hektar dengan supervisi peneliti BRIN.

“Sebanyak 2.500 bibit tanaman pakan orangutan kami siapkan, dengan fokus pada jenis buah hutan. Pohon ini akan mendukung ketersediaan makanan alami orangutan,” terangnya.

Beberapa tanaman yang ditanam antara lain tarap, nyatoh, kecapi, rambai, cempedak, dan kapul.

Populasi Orangutan Morio Kritis

Menurut peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, Tri Atmoko, orangutan adalah satu-satunya kera besar di Asia, dan Indonesia memiliki tiga spesies: orangutan Sumatera, Tapanuli, dan Kalimantan.

“Di wilayah PT PIK terdapat orangutan Kalimantan subspesies Pongo pygmaeus morio, yang kini berstatus Critically Endangered menurut IUCN Red List,” jelasnya.

Berdasarkan kajian PHVA 2016, populasi orangutan morio diperkirakan hanya 14.600 individu. Karena sebagian besar hidup di luar kawasan konservasi, kerja sama multipihak menjadi kunci penyelamatan spesies ini.

Lahan Reklamasi Jadi Koridor Ekologis

Melalui pembangunan demplot, lahan reklamasi tidak hanya dipulihkan secara vegetasi, tetapi juga berfungsi sebagai refugia (habitat pengungsian) dan koridor ekologis yang menghubungkan hutan sekitar dengan area bekas tambang.

Senior Manager PT Bayan Resources, Suhud Wahyudi, menegaskan komitmen perusahaan terhadap konservasi.

“Sejak 2023 kami melakukan survei populasi orangutan bersama BRIN. Tahun ini, langkah itu dilanjutkan dengan membangun demplot pakan dan sarang orangutan di lahan reklamasi tambang,” jelasnya.

Didukung 14 Mitra dan Pemerintah Daerah

Peringatan Hari Orangutan Sedunia 2025 di Bengalon ini dihadiri oleh manajemen PT Bayan Resources Tbk, PT PIK, peneliti BRIN, perwakilan Dinas Lingkungan Hidup Kutai Timur, Camat Bengalon, serta 14 mitra kerja perusahaan, termasuk PT Sucofindo, PT Antareja Mahada Makmur, PT Boston Trikora Mahardika, hingga Yayasan BBC.

Dengan program ini, PT Perkasa Inakakerta menegaskan bahwa reklamasi tambang tidak hanya sebatas pemulihan lahan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya nyata menjaga kelestarian orangutan dan memastikan keberlanjutan ekosistem hutan Kalimantan. (gis)

Bagikan:

Pos terkait