Membedah Laga PSBS Vs Borneo FC; Kewalahan Melawan Diri Sendiri

GAGAL TAKLUKKAN KEBERUNTUNGAN: Juan Villa berkali-kali meratapi diri setelah membuang kesempatan mencetak gol saat jumpa PSBS, kemarin. (BFCS)

Meski harus disyukuri, kemenangan Borneo FC dari PSBS tak bisa dirayakan dengan kelegaan. Sebab di laga itu, PSBS sudah bersedia menjadi samsak, namun Pesut Etam justru tak benar-benar memberi tinjuan serius.

Oleh: Ahmad A. Arifin (Dang Tebe) – Pengamat Borneo FC

Bacaan Lainnya

Dalam pandangan awam, saya melihat PSBS Biak sama sekali belum siap menghadapi kompetisi Super League musim ini. Di pekan pertama, mereka dibekap Arema FC dengan skor mencolok 4-1. Tiga dari 4 gol Singo Edan, dibuat di dalam kotak penalti. Apa artinya? Sistem pertahanan tim asal Biak sangat longgar.

Mereka punya waktu 6 hari persiapan sebelum menjamu Borneo FC di kandang sementara mereka di Jogjakarta. Waktu itu jelas terlalu singkat untuk mendapat peningkatan signifikan. Saya memperkirakan, kotak penalti PSBS akan tetap longgar ketika bersua Pasukan Samarinda.

Dan benar saja, sepanjang pertandingan, PSBS bermain tanpa bentuk. Kocar-kacir. Lini serang Pesut Etam yang dikomandoi Mariano Peralta tampak tak kesulitan membuat peluang dari dalam kotak penalti. Tanpa perlawanan berarti, PSBS sama sekali tak mencerminkan diri sebagai Badai Pasifik. Melainkan seperti sapuan angin ramah di Puncak Stelling kala senja –lembut.

Borneo FC Bereskan 2 PR

Di laga perdana kontra Bhayangkara Lampung, Pesut Etam memiliki 3 PR dalam permainan. Yakni chemistry, kreativitas, dan penyelesaian akhir. Pada pertandingan tersebut, mereka hanya mampu mengkreasi 2 peluang. Beruntung masih mampu keluar sebagai pemenang berkat gol semata wayang Peralta, yang sebenarnya berasal dari peluang yang sama sekali tak bisa disebut ‘peluang besar’.

Juan Villa yang bertindak sebagai playmaker masih terlihat bingung pada laga perdananya di Indonesia. Praktis Borneo FC hanya menumpukan kreasi serangan pada seorang Mariano Peralta.

Ketidakmampuan membuat banyak peluang meski unggul penguasaan bola tersebut, adalah akibat dari PR lainnya, yakni chemistry. Ada kesenjangan besar dalam hal komunikasi dan chemistry, dari pemain baru dan lama. Bola memang lebih banyak mengalir di kaki pemain Pesut Etam. Namun ketika hendak mengonversi menjadi peluang, tiba-tiba hilang arah.

Lalu soal penyelesaian akhir, sebenarnya di luar 2 peluang yang dicatat oleh Super League, Pesut Etam memiliki beberapa kans untuk mencetak gol. Tapi tak benar-benar menjadi gol karena sentuhan akhir yang –maaf- kacau!

Sebagai penonton, saya gemes sekaligus penuh pemakluman. Namanya juga laga perdana. Wajar lah kalau masih banyak kekurangan. Di pertandingan kedua, barulah saya berani pasang ekspektasi.

Dan … ya, hasil latihan seminggu terakhir, ditambah ketidakberdayaan PSBS membuat Borneo FC terlihat lebih matang. Chemistry mantap. Kreativitas muantapp. Saya tak berharap lebih dari apa yang mereka tunjukkan di lapangan. Khususnya dalam konteks chemistry dan kreativitas.

Tim statistik Super League mencatat, sepanjang laga, Pasukan Samarinda menguasai 64 persen bola, menciptakan 9 peluang matang (meningkat 7 dari laga sebelumnya), membuat 13 tembakan (meningkat 8), 5 tepat sasaran (meningkat 4).

Perkembangan yang menakjubkan bukan? Tapi anomalinya, dengan peluang sebanyak itu, dengan peningkatan sebesar itu. Mereka malah hanya mencetak 1 gol dari titik putih. Dalam hal penyelesaian akhir, ini bukan lagi jalan di tempat, tapi justru penurunan.

Masih Banyak Ruang untuk Berkembang

Borneo FC kini berada di posisi kedua pada klasemen sementara. Bersama Persija, mereka adalah 2 tim yang berhasil mencatatkan poin sempurna hingga pekan kedua. Juga sama-sama belum kebobolan.

Pencapaian ini, meski bukan dengan cara yang meyakinkan, tetaplah sebuah keuntungan. Secara moril, ini sangat positif. Penggawa Pesut Etam akan berpikir positif, percaya diri, dan punya mood yang bagus untuk menyempurnakan aspek yang masih kurang sip.

Naik turun penampilan pasti akan terjadi. Namun sejauh ini, para pemain yang diberi menit bermain, kebanyakan memiliki kualitas individu yang bagus. Juga komunikasi di lapangan yang semakin cair. Ini adalah pondasi dasar untuk perkembangan, yang harusnya bisa menyamai atau mendekati permainan Borneo FC di periode emas 2023/24 lalu.

Pemain yang Menarik Perhatian

Para pemain yang bermain bagus di pekan pertama, terlihat konsisten di laga kedua. Mereka adalah Nadeo, Komang Teguh, Christope, Hirose, Dwiki, dan Peralta. Lalu pemain yang menunjukkan potensi di pekan pertama seperti Caxambu, Juan Villa, dan Maicon mulai nyetel dengan tim. Nama pertama bahkan keluar sebagai pemain terbaik di laga tersebut.

Duet Caxambu-Peralta di pertandingan kemarin benar-benar cair, berbahaya, dan menghibur. Mengingatkan kita dengan duet Leo Gun-Fano Lilipaly di sisi lapangan yang sama pada periode sebelumnya.

Satu nama lagi yang mencuri perhatian adalah Ezzi Buffon. Entah dari mana datangnya kepercayaan dirinya. Pada laga melawan PSBS, Ezzi bermain lugas: saat menyerang dan bertahan, dan juga klinis. Kita dibuat melupakan kalau pos itu, sebelumnya adalah milik Fajar Fathur Rahman.

Cukup Rayakan 12 Jam

Kemenangan beruntun ini tentu layak dirayakan oleh penggawa Pesut Etam. Sudah sepantasnya mereka berbangga atas hasil sempurna tersebut. Tapi raihan 6 poin bukanlah segalanya.

Merayakan selama 12 jam setelah pertandingan harusnya sudah cukup. Setelahnya, mereka harus kembali fokus. Persijap yang akan mereka jamu baru saja membuat sensasi dengan mengalahkan juara bertahan Persib. Tim promosi tersebut pasti masih memiliki rasa lapar. Pesut Etam tak boleh lengah pada dua hal, yakni Persijap, dan tim mereka sendiri.

Ya, laga kontra PSBS harus jadi pelajaran besar. Mereka tak boleh lagi hanya sibuk melawan diri sendiri untuk mendapat keberuntungan memaksimalkan peluang. Dalam sepak bola, melewatkan 1 peluang saja bisa membuat perbedaan besar. Apalagi gagal membuat gol dari 8 peluang emas seperti laga kemarin. Tak boleh. Sama sekali tak boleh seperti itu. (has)

Bagikan:

Pos terkait