Saat bertanding, Christophe Nduwarugira kerap membentak dan memarahi Komang Teguh. Belakangan terungkap jika itu bukan ekspresi ketidaksukaan. Tapi cara Chris membantu ‘adiknya’ bertumbuh. Bek asal Burundi itu punya keyakinan, jika kelak Komang akan menjadi pilar penting Borneo FC Samarinda.
Oleh: Ahmad A. Arifin (Dang Tebe) –Pengamat Borneo FC
Di antara semua posisi dalam sepak bola, bek tengah adalah posisi yang sangat jarang dijadikan ajang eksperimen oleh pelatih manapun. Para pelatih lebih suka membongkar pasang posisi bek sayap, penyerang sayap, dan gelandang tengah.
Tidak ada yang tahu sebab pastinya. Tapi untuk posisi bek tengah, kita bisa memahami betapa krusialnya lini tersebut. Karena dalam organisasi pertahanan yang melibatkan penjaga gawang, bek tengah, bek sayap, dan gelandang bertahan. Bek tengah adalah jantungnya.
Saking pentingnya posisi tersebut, bek tengah umumnya diisi oleh pemain asing. Di Premier League misalnya, dalam daftar 25 bek tengah dengan menit bermain terbanyak. Hanya ada 8 pemain Inggris (2 lokal, 6 berkewarganegaraan ganda) yang masuk dalam daftar tersebut. Yakni Marc Guéhi (Palace), Maximilian Kilman (West Ham), James Tarkowski (Everton), Dan Burn (Newcastle), Lewis Dunk (Brighton), Michael Keane (Everton), Ezri Konsa (Aston Villa), Trevoh Chalobah (Chelsea) –mayoritas bermain di tim papan tengah dan bawah.
Serbuan pemain asing untuk posisi bek tengah juga terjadi di Indonesia Super League. Mayoritas tim mempercayakan pos tersebut pada pemain impor. Hingga artikel ini terbit, hanya 5 pemain Indonesia yang mampu bersaing hingga masuk ke dalam daftar 25 bek tengah dengan penampilan terbanyak. Yakni Jordi Amat, Risky Ridho (Persija), Rahmat Hidayat (Persijap), Nurhidayat (PSBS), dan Komang Teguh (Borneo FC).
Kepercayaan Lefundes pada Sosok Bek Muda
Musim ini, Borneo FC Samarinda mengontrak 10 pemain asing. Persebarannya: 4 pemain belakang (3 di antaranya bek tengah), 2 gelandang, dan 4 pemain serang. Komposisi 3 bek asing ini persis seperti musim lalu.
Bedanya, pada musim lalu, 3 bek asing tersebut bermain bergantian. Chris sebagai pemain reguler di pos bek tengah kiri, sementara Ronaldo dan Botak Furtado bergantian mengisi pos bek tengah kanan.
Sedangkan musim ini, hanya Chris yang mengisi tempat reguler. Sementara Aldair baru mencicipi sekali bertanding saat masuk di menit akhir pada laga kontra Persik. Dan Mohammad telah bermain 6 kali, sekali menjadi starter ketika Chris absen di laga kontra Persik. Btw, Mohammad Al-Husseini lebih senang dipanggil Mohammad.
Ketimbang menggilir 3 bek asingnya, Fabio Lefundes sejak awal justru mempercayakan 1 slot di posisi bek tengah untuk Komang Teguh –bek 23 tahun yang baru 14 kali bermain sebagai starter selama 4 musim sebelumnya.
Mungkin ada yang mengira jika keputusan menjadikan Komang sebagai pemain reguler, adalah karena Lefundes ingin memaksimalkan kuota asing untuk lini lainnya. Hingga pertandingan ketiga, asumsi ini masih tampak benar. Sebab Lefundes konsisten memainkan 3 penyerang asing (Peralta, Maicon, dan Douglas/Joel), 2 gelandang asing ( Villa dan Hirose), serta 2 bek asing (Caxambu dan Chris) –komplet 7 asing sesuai regulasi.
Namun sejak pertandingan keempat kontra PSIM, asumsi itu resmi patah. Lefundes menyadangkan Maicon untuk memainkan Sihran sejak menit awal. Namun tetap membiarkan Komang Teguh bermain di sisi rekan seperjuangannya –Fajar Fathurrahman. Ya, Borneo FC memulai laga dengan 6 pemain asing pada 3 dari 9 laga yang sudah mereka jalani.
Alasan Memilih Komang
Artinya, Lefundes memainkan Komang memang karena berdasarkan kualitasnya. Hal ini diakuinya sendiri pada sesi konferensi pers usai laga kontra Dewa United. Bagi pelatih asal Brasil, Komang bukan sosok yang baru ia ketahui saat membesut Borneo FC.
“Saya sudah tahu Komang sejak dia bermain untuk Timnas U-22 (SEA Games). Sejak itu saya tahu dia pemain bagus.”
Kemudian di sesi pra musim, ketika Lefundes menilai semua pemain dari nol, Komang termasuk yang mencuri perhatiannya. Itu lah kenapa dia ingin memberi kesempatan bagi Komang untuk pertama kali dalam karier profesionalnya untuk menjadi pemain reguler.
Fabio Lefundes bukan tipe pelatih yang saklek pada susunan pemain. Ia menilai berdasar performa terkini. Misalnya Douglas Coutinho yang di awal terpilih sebagai penyerang utama. Kini tergeser sebagai pemain pelapis, Joel Vinicius yang kemudian mencuri hati sang pelatih. Maicon juga harus bergantian dengan Sihran untuk menempati Starting XI.
Keputusan seperti itu juga pasti berlaku bagi Komang. Namun hingga laga terakhir, pemain 23 tahun itu tetap mengunci posisinya di tim utama.
“Sejauh ini Komang selalu bermain luar biasa. Saya senang dia memaksimalkan kesempatan yang saya beri.”
“Kalian semua tahu, di bangku cadangan ada 2 bek tengah asing. Tapi saya tak bisa menggeser Komang karena dia selalu main bagus,” Lefundes menegaskan.
Bukan Puncak Anak Tangga
Pengkauan atas kualitas Komang Teguh musim ini juga datang dari rekan duetnya, Christophe Nduwarugira. Awalnya saya bercerita padanya, bahwa pada laga kontra Dewa United, beberapa kali Komang mendapat sorakan apresiasi dari penonton di tribun berkat aksi-aksi ciamiknya.
Saya lalu bertanya, apa pendapatnya sebagai rekan duet. Dan jawaban Chris melampaui harapan saya.
“Sangat bagus jika dia mendapatkan apresiasi positif dari penonton. Itu bisa membuatnya lebih termotivasi untuk lebih baik ke depannya.”
“Sejak awal (musim lalu), saya tak pernah meragukan Komang. Musim lalu kami bermain bersama beberapa kali, tidak sering memang. Tapi di Piala Presiden (sebelum liga bergulir), kami bermain bersama, dan saya merasa sangat cocok dengannya,” jelas Chris.
Tapi bagi Chris, Komang belum berada di puncak performanya. Masih banyak anak tangga yang bisa ia gapai andai sang junior fokus bertumbuh. Chris yang mengaku hubungan pemain Borneo FC melampaui ikatan profesional, karena kekeluargaan yang diciptakan oleh manajemen begitu kental. Ia pun merasa Komang sudah seperti adik yang sama-sama lahir dari rahim sepak bola. Dan sebagai abang-abangan, dia bertekad untuk membantu Komang untuk bertumbuh.
“Saya akan selalu ada di sisinya untuk menemaninya berkembang. Jika ia berkembang, maka itu bagus untuk keluarga ini. Borneo FC akan menjadi lebih solid lagi,” ucapnya penuh keyakinan.
Teringat Ucapan Sang Mentor
Tarik mundur ke tahun 2020, ketika Komang pertama kali direkrut oleh Borneo FC usai membela Timnas U-19 dan sebelumnya U-16. Saat itu usianya baru 18 tahun tanpa pernah membela klub manapun. Borneo FC adalah klub profesional pertamanya.
Meski masih sangat belia, Borneo tanpa ragu menyodorkan kontrak berdurasi 4 tahun. Seperti yang didapatkan oleh Fajar Fathurrahman. Alasan klub saat itu adalah menyiapkan Komang sebagai bek masa depan, sehingga perlu kontrak panjang untuk memberinya ruang berkembang. Bahkan ketika kontraknya kadaluarsa dan Komang belum memberi kontribusi besar seperti Fajar, klub tetap mempercayainya dengan sodoran 2 tahun kontrak tambahan.
Saya lalu teringat pada komentar Javlon Guseynov ketika saya wawancarai 3 tahun lalu. Dari banyaknya talenta muda yang dimiliki Borneo kala itu, Javlon melihat potensi besar pada Fajar dan Komang. Ia ada di sana ketika keduanya baru bergabung ke klub, sehingga cukup tahu sepak terjangnya.
Javlon sempat mengomeli Fajar yang sempat menyerah di awal kariernya bersama Borneo. Karena merasa kalah bersaing. Sang kapten waktu itu meminta Fajar fokus pada sepak bola, terus bekerja keras di latihan. Karena saat ia dianggap pantas bermain, kesempatan itu akan datang. Dan benar saja.
Lalu soal Komang, Javlon menilai Komang sebagai pemain bertahan yang skill-nya cukup komplet. Kecerdasan adalah atribut terbesar Komang. Namun ada satu batu penghalang, yakni Komang terlalu kalem.
Komang memang memiliki karakter pendiam dan terlalu sopan. Membuatnya disukai oleh para seniornya sejak awal. Namun kata Javlon, karakter seperti itu tak boleh dibawa ke pertandingan.
“Jika mau berkembang, Komang harus lebih manyala!” Ucap Javlon, merujuk pada petunjuk agar saat di lapangan, Komang harus lebih garang dan menakutkan.
Sekali lagi, Javlon membuktikan ucapannya. Enam bulan setelah wawancara itu, Komang dikenal publik Tanah Air sebagai bek kokoh dan memiliki ledakan amarah seperti singa ketika ia ‘mengaum’ di sebuah laga pada SEA Games 2023.
Beberapa pekan lalu, ketika saya membuat unggahan apresiasi untuk Komang dan Fajar, Javlon memberi reaksi api. Tanda ia bangga dengan keduanya yang kini menjadi pilar penting Pesut Etam.
Kini, Komang telah menyingkirkan kerikil yang menghalangi jalannya menuju puncak karier. Soal bagaimana akhirnya, masih tergantung apakah ia bisa terus bertumbuh agar tetap berada di persaingan level atas. (has)








