TENGGARONG – Setahun berlalu tanpa kabar, luka hati para orang tua korban pencabulan di sebuah Pondok Pesantren di Tenggarong Seberang kini berubah menjadi rasa kecewa yang mendalam. Tim Adhoc bentukan DPRD Kutai Kartanegara (Kukar) yang diharapkan menjadi penyambung lidah, justru dinilai jalan di tempat dan minim progres.
Bagi seorang ibu di Tenggarong, menunggu kepastian hukum sejak akhir 2024 hingga awal 2026 terasa seperti siksaan batin yang tak kunjung usai. Sambil menahan tangis, ia menceritakan betapa beratnya menjaga mental sang anak yang dihantui trauma, sementara proses hukum bagi pelaku seolah menggantung.
“Sakit kalau ingat itu terjadi pada anak saya. Kami sudah menunggu lebih dari setahun tanpa kepastian. Ini soal masa depan anak saya, jangan sampai dia dianggap berbeda di sekolahnya hanya karena kasus ini berlarut-larut,” tuturnya, Sabtu (24/1/2026).
Menanti Keberanian Anggota Dewan
Mandeknya penanganan ini pun memantik api di internal parlemen. Anggota Komisi I DPRD Kukar, Sugeng Hariadi, secara blak-blakan mengaku malu melihat tim bentukan lembaganya tersebut seolah kehilangan taji. Dari tiga kasus yang dilaporkan, kabarnya baru satu yang mendekati final, sementara dua lainnya masih tertahan tanpa kejelasan.
“Saya sebagai anggota dewan juga malu kalau tidak ada tindak lanjut. Seharusnya ada solusi nyata, bukan hanya tim dibentuk tapi tidak ada progres pekerjaan yang jelas,” tegas Sugeng.
Sugeng menilai ada masalah pada keberanian tim untuk mengambil sikap dan kurangnya sinkronisasi di lapangan.
Ia pun berjanji akan segera meminta pertanggungjawaban atas kinerja tim tersebut karena publik, terutama keluarga korban, butuh transparansi, bukan sekadar pembentukan kepanitiaan tanpa hasil.
Kini, bola panas berada di tangan Tim Adhoc dan aparat terkait. Di tengah sorotan tajam publik, para orang tua korban menegaskan akan terus berjuang di jalur hukum. Mereka tidak hanya menuntut teguran bagi pelaku, tapi keadilan yang setimpal demi memulihkan martabat anak-anak mereka yang telah dirusak.
Laporan: Nur Fadillah Indah/mediaetam.com








