TENGGARONG – Dinas Pariwisata (Dispar) Kutai Kartanegara kini tengah mematangkan strategi untuk “menyulap” pedagang pasar malam menjadi pelaku usaha yang lebih berkelas. Setelah sukses menggelar program Ekonomi Kreatif (Ekraf) di Kota Bangun pada akhir November lalu, kini giliran Kecamatan Sangasanga yang masuk dalam radar selanjutnya.
Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dispar Kukar, Zikri Umulda, mengungkapkan bahwa pelaksanaan di Kota Bangun memberikan banyak pelajaran berharga. Pihaknya tidak ingin sekadar menggelar acara seremonial, melainkan fokus pada intervensi nyata, khususnya bagi pelaku subsektor kuliner agar bisa naik kelas.
“Target Ekraf itu jelas, kita ingin mereka upgrade. Dari yang tadinya mungkin hanya penjual pasar malam biasa, menjadi penjual yang berkreasi dan paham manajemen. Kita latih cara menentukan harga, branding, hingga teknik storytelling agar produk mereka punya nilai jual lebih,” ujar Zikri.
Di Kecamatan Kota Bangun, para pelaku UMKM telah dibekali pelatihan manajemen dagang dan digital marketing. Zikri ingin pola serupa bahkan lebih tajam diterapkan di Sangasanga.
Harapannya, para pelaku usaha tidak lagi hanya berjualan secara konvensional, tetapi juga jago bermain di ranah daring atau media sosial.
Upayakan Jadi Solusi Jangka Panjang
Meski begitu, Zikri mengakui masih banyak evaluasi yang harus dilakukan. Koordinasi dengan pihak Kecamatan Sangasanga rencananya akan dimatangkan guna menyusun strategi yang lebih terstruktur dan memitigasi risiko di lapangan.
“Kita harus punya strategi yang kuat. Luasnya Kukar dengan 20 kecamatan dan ratusan desa ini menjadi tantangan. Kami di dinas tidak mungkin bisa maksimal kalau harus turun ke lapangan setiap waktu,” akunya.
Sebagai solusi jangka panjang, Dispar Kukar menargetkan pembentukan Komite Ekonomi Kreatif di seluruh kecamatan. Komite ini nantinya akan diisi oleh perwakilan desa atau kelurahan setempat yang bertindak sebagai perpanjangan tangan dinas dalam memantau dan membina pelaku ekraf di wilayah masing-masing.
“Langkah terbaik adalah membentuk komite ekraf kecamatan. Ini akan mempermudah jalur informasi dan interaksi kita. Meski hanya lewat grup WhatsApp, intervensi kita kepada pelaku kreatif bisa lebih cepat dan tepat sasaran demi kesejahteraan mereka,” pungkas Zikri.
Laporan: Nur Fadillah Indah/mediaetam.com








