Mediaetam.com, Jakarta – Keinginan NasDem untuk mendukung Anies Baswedan sebagai calon presiden dapat pupus lantaran ada wacana dari PKS untuk memberikan peluang rujuk koalisi bersama partai Gerindra pada Pemilu 2024.
NasDem menginisiasi pengusungan Anies bersama PKS dan Demokrat. NasDem memerlukan dukungan dari partai lain agar dapat memenuhi syarat pencalonan presiden.
Akan tetapi semenjak Anies dideklarasikan menjadi capres di 3 Oktober lalu, Koalisi perubahan yang beranggotakan NasDem, PKS, dan Demokrat tidak kunjung terealisasi.
Rencana deklarasi Koalisi perubahan diagendakan pada 10 November lalu mengalami kegagalan. Hal ini disebabkan banyak hal belum disepakati diantaranya dari masalah cawapres maupun hal teknis lain.
Pengamat politik Ahmad Khoirul Umam menghimbau rencana koalisi perubahan dapat terancam gagal sebelum bertanding apabila koalisi tersebut tidak segera menentukan ketegasan sikapnya.
“Jika sampai Anies kecolongan salah satu antara Demokrat atau PKS, harapannya untuk maju sebagai Capres bisa terancam gagal total. Karena itu, dibutuhkan keberanian dan kecepatan bertindak,” tutur Umam, Senin (5/12).
Pernyataan Umam menyoroti untuk memberikan respons peluang PKS dan Gerindra bisa kembali rujuk pada Pemilu dan Pilpres 2024.
Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon sebelumnya menuturkan partai pimpinan Prabowo Subianto tersebut kembali membuka peluang untuk berkoalisi di 2024. Presiden PKS Ahmad Syaikhu memberikan respon positif terkait pernyataan tersebut.
Syaikhu mengatakan peluang PKS bisa rujuk dengan Gerindra masih memiliki peluang, alasannya karena dinamika politik saat ini terus mengalami pergerakan yang dinamis.
“Ya sangat mungkin kita kan melihat dinamika politik masih terus berkembang ya,” tuturnya, Minggu (4/12).
NasDem di atas kertas sebetulnya sudah memberikan kewenangan pada Anies untuk menentukan cawapres. Akan tetapi Umam berpendapat koalisi perubahan tak kunjung terealisasi bukan hanya disebabkan oleh pilihan cawapres dari Anies. Dia berasumsi jika NasDem juga turut andil menjadi penyebab koalisi ini tak kunjung terealisasi.
Umam mengatakan jika Anies dan NasDem dapat disalahkan apabila PKS hengkang dari rencana koalisi perubahan.
Direktur Eksekutif Indostrategic tersebut menyoroti langkah tarik ulur NasDem dan Anies yang dari awal tidak kunjung menyetujui proposal PKS maupun Demokrat.
Padahal, PKS dan Demokrat dari awal sudah meminta supaya koalisi perubahan secepatnya dapat menentukan skema capres cawapres, termasuk platform koalisi.
PKS dan Demokrat disebut Umam sebenarnya sudah mempunyai portofolio pemerintahan, skema logistik, bahkan pelaksanaan sosialisasi serta kampanye Pemilu 2024.
Umam pun berharap supaya koalisi tersebut, terutama NasDem dan Anies secepatnya mengambil sikap. Dia menghimbau operasi politik dan rencana koalisi besar supaya terjadi capres tunggal di 2024.
“Jika Nasdem dan Anies masih mengulur-ulur waktu dan menebar janji-janji politik yang tidak sesuai dengan kehendak partner koalisi, hati-hati jika Demokrat atau PKS akhirnya banting setir ke skema koalisi lain yang lebih menawarkan kepastian dan lebih minim risiko politik,” ucapnya.
Pengamat politik dari Universitas Andalas, Ilham Azre sependapat terkait peluang PKS dan Gerindra bisa kembali rujuk pada Pemilu dan Pilpres 2024.
Ilham berpendapat bahwa peluang tersebut sangatlah terbuka lebar. Alasannya, kedua pihak mempunyai rekam jejak kerja sama yang cukup lama.
Selain pada tingkat nasional di dua pilpres terakhir, PKS dan Gerindra juga pernah bekerja sama pada pemilihan daerah misalnya Pilkada DKI, Sumatera Barat, hingga Jawa Barat.
“Tentu ini menjadi titik poin juga. Jadi penjajakan kerja sama lebih cair,” ucap Ilham, Senin (5/12).
Rekam jejak koalisi tersebut justru berbanding terbalik dengan rekam jejak koalisi bersama NasDem. Sejak awal didirikan yaitu pada 2011, NasDem menurutnya praktis tidak pernah melakukan kerjasama dengan PKS pada tingkat nasional. Ditingkat daerah kerjasama mereka juga jarang ditemui.
Ilham menduga jika rekam jejak tersebut menjadi alasan NasDem dan PKS, dan juga Demokrat hingga saat ini masih memilih tarik ulur terkait koalisi.
PKS dan Demokrat tidak menginginkan rencana koalisi tersebut hanya memberikan dampak terhadap satu partai saja.
“Jadi jangan sampai nanti salah satu partai saja yang mendapatkan keuntungan elektoral dari pencalonan ini,” ucapnya.
Berdasarkan hitung-hitungan politik, Ilham berasumsi jika PKS lebih baik melanjutkan rencana koalisi bersama NasDem dan Demokrat untuk memberikan dukungan kepada Anies Baswedan. Alasannya dikarenakan irisan pemilih yang sama di antara keduanya.
Ilham berpendapat PKS dapat terkena bumerang apabila sampai hengkang dan tidak mendukung Anies. Partai yang memiliki basis pendukung Islam tersebut akan dikatakan tidak konsisten.
“Tentu PKS dinilai enggak konsisten. Sudah menjadi kerja sama lalu tiba-tiba ada penjajakan dengan partai lain,” ujarnya.
Akan tetapi, Ilham berkeyakinan jika penentuan capres dan cawapres, dan juga koalisi di koalisi perubahan yang memberikan dukungan kepada Anies akan ditentukan di menit akhir. Dia berpendapat situasi politik saat ini masih bergerak dinamis sampai menjelang detik akhir masa pendaftaran di KPU.
Sumber : Hati-hati NasDem dan Anies, Demokrat-PKS Bisa Tinggalkan Koalisi
Editor : Eny Lestiani








