Capai 191 Kasus, Stunting di Tanjung Redeb Jadi Agenda yang Perlu Dituntaskan

Wakil Ketua DPRD Berau, Syarifatul Syadiah (berhijab). [Elton Wada / Mediaetam.com]
Wakil Ketua DPRD Berau, Syarifatul Syadiah (berhijab). [Elton Wada / Mediaetam.com]

Mediaetam.com, Berau – Stunting masih menjadi momok yang mengganggu pembangunan Kabupaten Berau. Untuk Kecamatan Tanjung Redeb, kasus ini terbilang masih cukup tinggi.

Sesuai data yang diperoleh media ini, untuk wilayah tugas Puskemas Tanjung Redeb saja, terdapat 191 kasus stunting. Kasus ini tersebar di tiga kelurahan yakni Sungai Bedungun, Tanjung Redeb, dan Gunung Panjang.

Tercatat, 52 kasus stunting di Sungai Bedungun, 69 kasus di Tanjung Redeb, dan 70 kasus di Gunung Panjang. Dengan demikian, untuk wilayah tugas Puskesmas Tanjung Redeb, lokus stunting terbesar terdapat di Gunung Panjang.

Kepala Puskesmas Tanjung Redeb, Kasran mengatakan bahwa stunting memang cukup banyak terjadi daerah tugasnya. Namun, dirinya tentu tidak tinggal diam.

Untuk mengatasi persoalan ini, pihaknya berupaya membangun kerja sama dengan pemerintah kecamatan dan juga pihak ketiga. Termasuk, memberi edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat.

“Kemarin untuk Kelurahan Gunung Panjang, ada yang minta hal apa saja yang harus disiapkan dalam membangun kerja sama dengan pihak ketiga untuk dapatkan makanan tambahan,” tegasnya saat ditemui usai Musrenbang Kecamatan Tanjung Redeb, Kamis (02/03/2023).

Pihak ketiga yang dihubungi, ungkap Kasran, sudah memberikan lampu hijau dan siap menyuplai makanan tambahan untuk masyarakat yang mengidap stunting.

“Kalau gizinya tercukupi maka bayi akan lahir dengan normal. Tapi kalau ke posyandu juga Senin-Kamis, itu susah. Sebab minimal periksa kehamilan itu 4 kali. Sekarang sudah 5 kali.

Nah, itu harus terpantau supaya perkembangan janin yang ada dalam kandungan bisa dimonitor. Juga agar bayi yang dilahirkan sehat dan ibu yang melahirkan aman,” terangnya.

Karena itu, masyarakat memang perlu mengikuti sosialisasi dan diberi motivasi terus menerus bahwa posyandu sangat penting.

Namun, sekali lagi, cukup sukar memberi edukasi kepada masyarakat tentang masalah ini. Pasalnya, penanganan terhadap stunting sama pentingnya dengan pemenuhan kebutuhan dasar lainnya.

“Kalau kita beri edukasi kepada masyarakat, jawaban masyarakat adalah untuk kebutuhan sehari-hari kami susah pak.

Makan sehari dua kali saja agak berat. Bagaimana kami memiliki sember penghasilan untuk mencukupi gizi kami?” kisahnya.

Jawaban masyarakat tentu menjadi kendala tersendiri bagi penanganan stunting. “Ini jadi dilema buat kami, seolah-olah kami harus menyiapkan kebutuhan untuk mereka,” tandasnya.

Wakil Ketua DPRD Berau Syarifatul menegaskan bahwa untuk menyelesaikan masalah stunting memang diperlukan satu visi dan misi yang sama.

“Mengingat, pertama, stunting akan merusak generasi kita. Karena, menderita stunting berarti masa depannya sudah berbeda dengan anak-anak normal,” jelasnya.

Namun, sekali lagi, masalah stunting bukan hanya soal bayi yang dilahirkan tetapi juga masalah ibu yang melahirkan.

“Ibu-ibu ini harus diberikan sosialisasi, diberikan vitamin, dan sebagainya agar bayi yang terlahir dari rahimnya sehat,” sambungnya.

Saat ini, ungkapnya, pemerintah daerah khususnya Dinas Kesehatan sudah memiliki program untuk pelajar SMA yang akan menjadi calon ibu.

Program ini penting agar bila kelak mereka menjadi ibu, mereka dapat menjadi ibu yang memperhatikan kesehatan dan siap melahirkan dengan kondisi fisik dan psikis yang tercukupi dari segi vitamin.

Karena itu, Syarifatul meminta agar pada tahun depan, stunting menjadi agenda yang perlu dituntaskan. Agar anak-anak dapat tertolong dan menjadi lebih sehat.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Berau, Halijah Yasin, menerangkan bahwa stunting itu adalah gagal tumbuh pada bayi yang baru lahir sampai berusia 2 tahun.

“Jadi, intervensinya itu adalah sejak anak tersebut berada di dalam kandungan ibunya,” imbuhnya.

Untuk remaja putri yang sudah haid dan berusia 12-18 tahun, diperlukan pemberian tablet tambah darah seminggu sekali selama setahun.

“Jadi, minimal 56 tablet setahun yang perlu dikonsumsi untuk mencegah anemia,” sambungnya.

Pencegahan anemia untuk remaja putri sangat diperlukan karena penyakit tersebut sangat menentukan kondisi bayi yang akan dilahirkan.

“Kita mesti mencegah agar remaja putri kita jangan sampai ada yang terkena anemia. Kalau dia anemia, cikal bakal anak yang dikandungnya nanti akan kekurangan gizi, bisa gizi buruk, dan stunting,” kuncinya.

Halijah pun berharap agar masalah ini, tidak hanya menjadi tanggung jawab pihak kesehatan tetapi menjadi tanggung jawab semua OPD terkait, termasuk legislatif, dan masyarakat di Kabupaten Berau. (*/Elton Wada)

Editor: Elton Wada

Bagikan:

Pos terkait