Demi Milenial dan Hak Kaum Perempuan

Robbil dan Fathiyah, Bacaleg milenial Partai Demokrat. [Elton Wada / Mediaetam.com]
Robbil dan Fathiyah, Bacaleg milenial Partai Demokrat. [Elton Wada / Mediaetam.com]

“Saya pilih Demokrat karena visi-misi saya sesuai dengan visi-misi Demokrat. Sedangkan kalau partai lain saya tidak bisa mengekspresikan jiwa nasionalis saya.”

Oleh: Elton Wada – Berau

Robbil dan Fathiyah baru selesai menyantap hidangan di I-Cafe Berau, ketika hari hampir menunjukkan pukul 15.00 WITA.

Niat untuk kembali ke rumah, akhirnya dipatahkan sejenak ketika nama-nama mereka menarik minat awak media untuk ditanyai perihal tekad mereka masuk dalam dunia politik pada usia muda.

Robbil, berusia 24 tahun calon Magister Hukum Undip Semarang, sudah mengakrabi politik sejak usia dini. Apalagi orang tuanya berkecimpung dalam dunia politik, khususnya ayahnya, seorang kader PKS, eks kader Demokrat.

Meskipun ayahnya saat ini seorang kader PKS, Robbil tidak ingin mengikuti jejak sang ayah. Ia lebih menyukai Demokrat seperti ayahnya dulu.

“Pada 2014 ayah sebenarnya Demokrat. Namun, karena permintaan almarhum Bupati Muharram, dia masuk ke PKS,” lanjutnya.

Berbeda dari ayahnya, Robbil lebih memilih Demokrat karena visi-misinya sesuai dengan visi-misi Demokrat.

“Sedangkan kalau ke PKS saya tidak bisa mengekspresikan jiwa nasionalis saya. Karena masih terpaku dengan batasan-batasan agama Islam,” terangnya.

Tak hanya itu, Robbil pun melihat bahwa lingkungan Demokrat cukup sehat. Apalagi partai tersebut memberikan porsi yang cukup besar bagi generasi milenial untuk ikut berkompetisi dalam pemilu.

Melalui Demokrat, Robbil berani maju dalam Pileg 2024 untuk membawa suara-suara masyarakat yang selama ini kurang didengar, terutama suara kaum muda.

Kepada media ini, Jumat (12/05/2023), Robbil menegaskan bahwa pilihannya masuk ke dunia politik tak terlepas dari diskusi di tongkrongan.

Tongkrongan baginya merupakan ruang bagi generasi milenial seperti dirinya membahas banyak hal terutama keresahan-keresahan orang-orang muda yang belum tentu didengar oleh generasi tua.

Obrolan di tongkrongan terkait isu orang muda menjadi spirit tersendiri baginya untuk masuk ke dunia politik dan membawa keresahan-keresahan kaum milenial.

“Kita hidup sudah berbeda zaman dengan orang tua yang masih memiliki pandangan masa lalu.

Berasal dari keluarga legislatif, bahkan saya melihat banyak hal yang bertentangan dari segi pemikiran antara saya dan keluarga saya.” ucapnya.

Pandangan masa lalu kaum tua yang menjadi keresahan kaum muda menurutnya dapat dilihat misalnya, dari pengelolaan Esports Indonesia (ESI) Berau.

Menurutnya, ESI Berau dikelola oleh orang-orang yang bukan ahli di bidangnya. Rekan-rekannya yang tergabung dalam bidang itu pun sudah menyampaikan hal itu.

Namun, hal tersebut rupanya tidak didengar. Pemerintah bahkan tidak mau mengambil tindakan lebih atau membuat terobosan.

“Mereka ingin agar ESI Berau dapat meraih emas. Tapi bagaimana meraih emas kalau ESI Berau tidak dikelola dengan baik.

Kita lihat saja pengurus-pengurus di dalamnya berlatar belakang kelapa sawit. Kelapa sawit dengan ESI apa hubungannya?” tegasnya.

Berhadapan dengan keresahan kaum milenial tersebut, sebagai kaum milenial dirinya berniat maju dalam kontestasi Pileg 2024 demi membawa suara kaum muda.

Dirinya pun berpandangan bahwa pola kerja pemerintah selama ini memang sudah cukup baik. Namun, yang masih menjadi problem yakni mindset.

“Karena banyak orang tua yang masih menolak modernisasi. Masih banyak orang tua yang menolak kemajuan zaman,” imbuhnya.

Karena itu, dirinya berharap agar ke depan, Demokrat dapat membekali caleg-calegnya, khususnya generasi milenial agar mindset yang sudah ketinggalan zaman dapat disingkirkan sehingga semua visi-misi Demokrat dapat tercapai.

Tak hanya Robbil, Fathiyah yang saat ini masih berusia 23 tahun, salah satu Bacaleg Demokrat lulusan Hubungan Internasional pada salah Universitas di Makassar 2022 lalu, pun menyampaikan pendapatnya.

Bekerja 6 bulan di PT Berau Coal, Fathiyah melihat masih banyak hak masyarakat yang terabaikan, khususnya hak-hak kaum perempuan.

“Saya pernah kerja di tambang. Itu didominasi oleh laki-laki. Kadang pekerja wanita di sana diperlakukan secara tidak adil.

Karena itu, saya menginginkan juga adanya kebijakan untuk melindungi kaum perempuan di bidang pekerjaan dari dominasi laki-laki,” pungkasnya.

Kebijakan yang belum mengakomodasi hak-hak kaum perempuan tersebut baginya terjadi karena lebih banyak kebijakan masih diputuskan dan berpihak pada kaum laki-laki.

“Karena itu sebisa mungkin, saya dari kaum milenial, masuk ke dunia politik melalui Partai Demokrat untuk memperjuangkan hak-hak perempuan, terutama di ranah pengambilan kebijakan,” pungkasnya.

Fathiyah pun menegaskan bahwa kebijakan yang perlu dibuat saat ini mesti menyesuaikan juga dengan era digital, termasuk memperjuangkan dan mengkampanyekan hak-hak perempuan.

Dalam perjuangan itu, kacamata feminisme harus dipakai terutama dalam menggaungkan hak perempuan yang disebarkan melalui konten-konten digital, khususnya media sosial.

“Makanya kita mau supaya yang duduk di DPR juga kaum perempuan. Karena yang dapat memperjuangkan hak-hak kaum perempuan dan lebih peka dan sensitif terhadap kaum perempuan hanyalah perempuan sendiri,” tegasnya.

Untuk memperjuangkan hak kaum perempuan, dirinya melihat Demokrat dapat menjadi partai yang bisa menyuarakan keresahan perempuan dari dominasi sistem pemerintahan berwajah patriarki.

Visi-misi Demokrat baginya menggugah dirinya untuk terjun ke dunia politik. Selain itu, seperti Robbil, Demokrat pun memberi prioritas bagi generasi milenial untuk berkompetisi dalam laga pemilihan anggota legislatif.

Karena itu, dirinya berharap agar ke depan, Demokrat Berau dapat memberikan sosialisasi dan juga Bimtek terkait visi-misi Demokrat agar arah juang Demokrat lebih dipahami lagi.

Sebab, baginya, masih banyak hal yang perlu dipelajari termasuk belajar untuk beradaptasi dengan visi-misi partai juga strategi politik yang bisa ditempuh untuk meraup suara.

Terkait strategi meraup suara itu, secara khusus dirinya menolak politik uang (money politic). Sebab politik uang hanyalah serangan fajar yang merusak peradaban.

“Saya pun tidak ingin memberikan janji-janji. Tapi ingin memberi bukti,” kuncinya. (*)

Bagikan:

Pos terkait