Ternyata 2 Presiden asal PDIP yang Membuat Libur Idulfitri Panjang

Ada peran Presiden Megawati dan Jokowi pada sejarah cuti bersama Lebaran Idulfitri di Indonesia. (IST)

SAMARINDA – Perbincangan mengenai panjangnya libur Idulfitri kembali mengemuka di media sosial tahun ini. Banyak warganet menyoroti perbedaan mencolok antara libur Lebaran yang bisa berlangsung berhari-hari, bahkan lebih dari sepekan, dengan libur Iduladha yang cenderung singkat. Usut punya usut, kebijakan cuti bersama Lebaran itu sudah ada sejak 1946, tapi durasinya diperpanjang oleh 2 presiden asal PDIP, yakni Megwati dan Jokowi.

Jika menengok ke masa awal kemerdekaan, pemerintah Indonesia sejatinya telah menetapkan Idulfitri sebagai hari libur nasional sejak 1946. Namun pada masa itu, durasi libur masih sangat terbatas, umumnya hanya satu hingga dua hari. Waktu yang singkat membuat masyarakat harus segera kembali beraktivitas, sehingga tradisi pulang kampung belum berkembang sebesar saat ini, meski sudah mulai dilakukan oleh sebagian orang.

Perubahan mulai terasa beberapa dekade kemudian. Titik pentingnya terjadi pada 2002, ketika pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri memperkenalkan kebijakan cuti bersama melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri. Kebijakan ini pada awalnya dirancang untuk mengefisienkan hari kerja, namun dalam praktiknya justru membuka ruang bagi masyarakat untuk menikmati libur Lebaran lebih panjang.

Sejak saat itu, Idulfitri tidak lagi sekadar libur singkat, melainkan berkembang menjadi periode libur yang semakin panjang dari tahun ke tahun. Tradisi mudik yang sebelumnya terbatas mulai tumbuh menjadi fenomena nasional, seiring bertambahnya waktu yang tersedia bagi masyarakat untuk pulang ke kampung halaman dan bersilaturahmi.

Dibuat Lebih Panjang pada Era Jokowi

Memasuki era Presiden Joko Widodo, kebijakan cuti bersama tidak hanya dilanjutkan, tetapi juga diperkuat dan disusun lebih strategis. Pemerintah mulai mempertimbangkan pola arus mudik dan balik dalam menentukan jadwal libur. Penambahan cuti sebelum dan sesudah hari raya dilakukan agar perjalanan masyarakat tidak menumpuk pada satu waktu.

Dalam beberapa tahun, total libur Lebaran bahkan bisa mencapai lebih dari sepuluh hari. Kondisi ini tidak hanya memberi ruang lebih luas untuk berkumpul bersama keluarga, tetapi juga mendorong perputaran ekonomi di daerah serta sektor pariwisata.

Libur Panjang Bukan hanya di Indonesia

Fenomena panjangnya libur Idulfitri ini pada dasarnya tidak hanya terjadi di Indonesia. Di sejumlah negara mayoritas Muslim seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, hingga Turki, pemerintah juga memberikan libur Lebaran yang relatif panjang. Di Bangladesh, bahkan terjadi arus mudik besar yang mirip dengan Indonesia, didukung oleh durasi libur yang cukup panjang. Hal ini menunjukkan bahwa libur panjang Idulfitri erat kaitannya dengan tradisi pulang kampung yang kuat di masyarakat.

Perdebatan yang muncul di media sosial tahun ini pun sebenarnya mencerminkan perbedaan karakter antara dua hari raya besar umat Islam. Idulfitri identik dengan tradisi mudik dan silaturahmi dalam skala nasional, sementara Iduladha lebih berfokus pada ibadah kurban yang tidak memicu mobilitas massal dalam jumlah besar.

Meski Presiden Megawati dan Presiden Jokowi sama-sama berasal dari PDIP, panjangnya libur Idulfitri lebih tepat dipahami sebagai hasil kebijakan administratif yang berkembang mengikuti kebutuhan sosial masyarakat. Cuti bersama menjadi instrumen yang menjembatani antara kepentingan negara dan tradisi budaya, sehingga Lebaran tidak hanya menjadi perayaan keagamaan, tetapi juga momentum sosial terbesar dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Dari libur yang dahulu hanya satu hingga dua hari, kini Idulfitri menjelma menjadi periode panjang yang dinanti setiap tahun. Sebuah perubahan yang tidak terjadi seketika, melainkan hasil dari kebijakan yang terus berkembang seiring waktu.

Redaksi Media Etam

Bagikan:

Pos terkait