SAMARINDA – Salat Id menjadi salah satu ibadah yang sangat dinanti umat Muslim saat Hari Raya Idulfitri maupun Iduladha. Selain menjadi penanda kemenangan setelah menjalani ibadah puasa atau rangkaian ibadah kurban, Salat Id juga menjadi momentum kebersamaan umat dalam suasana penuh syukur dan kekhidmatan.
Meski hanya dilaksanakan setahun dua kali, masih banyak masyarakat yang ingin kembali mengingat tata cara, rukun, niat, hingga bacaan dalam Salat Id. Hal ini penting agar ibadah dapat dijalankan dengan benar dan lebih khusyuk.
Rukun Salat Id Sama seperti Salat pada Umumnya
Pada dasarnya, rukun Salat Id tidak berbeda dengan rukun salat biasa. Salat ini diawali dengan niat, kemudian takbiratul ihram, berdiri bagi yang mampu, membaca Surat Al-Fatihah, membaca ayat Al-Qur’an, rukuk, i’tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, tasyahud akhir, hingga salam.
Yang membedakan Salat Id dengan salat lainnya adalah adanya takbir tambahan. Pada rakaat pertama, setelah takbiratul ihram, jamaah disunnahkan mengumandangkan takbir tambahan sebanyak tujuh kali. Sementara pada rakaat kedua, takbir tambahan dilakukan sebanyak lima kali sebelum membaca Al-Fatihah.
Takbir tambahan inilah yang menjadi ciri khas Salat Id dan dilakukan dengan tetap menjaga kekhusyukan ibadah.
Niat Salat Id Dibaca Sesuai Posisi Imam atau Makmum
Niat Salat Id dibaca dalam hati saat memulai salat. Untuk makmum, niat Salat Idulfitri umumnya berbunyi:
أُصَلِّي سُنَّةً لِعِيْدِ الْفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ مَأْمُوْمًا لِلَّهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatan li ‘iidil fithri rak‘ataini ma’muuman lillaahi ta‘aalaa.
Arti:
Saya niat salat sunnah Idulfitri dua rakaat sebagai makmum karena Allah ta’ala.
Sementara jika bertindak sebagai imam, lafaz niatnya menjadi:
أُصَلِّي سُنَّةً لِعِيْدِ الْفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ إِمَامًا لِلَّهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatan li ‘iidil fithri rak‘ataini imaaman lillaahi ta‘aalaa.
Arti:
Saya niat salat sunnah Idulfitri dua rakaat sebagai imam karena Allah ta’ala.
Bacaan di Sela Takbir Tambahan
Setelah takbiratul ihram pada rakaat pertama, jamaah membaca doa iftitah. Setelah itu dilakukan tujuh kali takbir tambahan. Di sela-sela takbir, umat Muslim dianjurkan membaca pujian kepada Allah, di antaranya:
سُبْحَانَ اللّٰهِ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ، وَلَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ، وَاللّٰهُ أَكْبَرُ
Subhaanallaah, walhamdulillaah, wa laa ilaaha illallaah, wallaahu akbar.
Arti:
Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada tuhan selain Allah, dan Allah Mahabesar.
Sebagian juga menambahkan bacaan:
وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللّٰهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ
Wa laa haula wa laa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘azhiim.
Arti:
Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung.
Bacaan Surat Setelah Al-Fatihah
Setelah takbir tambahan, imam membaca Surat Al-Fatihah. Sesudah itu disunnahkan membaca surat pendek. Dalam banyak pelaksanaan Salat Id, rakaat pertama kerap membaca Surat Al-A’la, sedangkan rakaat kedua membaca Surat Al-Ghasyiyah. Namun, jika tidak hafal, dapat membaca surat lain yang dikuasai.
Pada rakaat kedua, setelah berdiri, kembali dilakukan lima kali takbir tambahan sebelum membaca Al-Fatihah dan surat pendek. Setelah itu, rangkaian salat berlangsung seperti biasa hingga salam.
Setelah Salat Id selesai, biasanya dilanjutkan dengan khutbah yang disampaikan imam. Jamaah dianjurkan tetap menyimak khutbah sebagai bagian dari penyempurna ibadah hari raya.
Dengan memahami rukun, niat, dan bacaan Salat Id, umat Muslim diharapkan dapat menjalankan ibadah ini dengan lebih tenang, benar, dan penuh kekhusyukan saat merayakan hari kemenangan.
Redaksi Media Etam








