Mediaetam.com, Berau – Pulau Mataha menjadi salah satu tempat habibat penyu terbesar, tidak hanya di Kabupaten Berau tetapi juga di Indonesia dan Asia Tenggara.
Dengan luas wilayah sekitar 389 Ha, pulau ini menjadi tempat favorit bagi konservasi penyu, khususnya Penyu Hijau (Chelonia mydas) dan Penyu Sisik di Kabupaten Berau.
Keberadaan penyu di wilayah terluar dan tanpa penduduk itu, menjadikan Pulau Mataha menjadi zona inti kawasan konservasi penyu di Berau. Sebagai zona inti, keberadaan penyu di wilayah ini hanya menjadi pusat edukasi dan penelitian.
Karena itu, Pulau Mataha berbeda dengan pulau-pulau lainnya, seperti Pulau Sangalaki atau Pulau Maratua. Dua pulau tersebut masih bisa dijadikan kawasan pariwisata. Sedangkan Pulau Mataha tak terjamah wisatawan.
Setiap tahun, lebih kurang terdapat 4.000 penyu muncul di Pulau Mataha atau sekitar 20 ekor per hari yang terlihat di sana.
Potensi penyu yang cukup besar ini, tentu membutuhkan perlindungan dari kepunahannya; baik karena ekploitasi manusia maupun karena perubahan iklim.
Keberadaan penyu di Pulau Mataha tersebut mendorong Yayasan Penyu Indonesia (YPI) untuk memberi perhatian secara khusus dan serius.
NGO ini hadir dan berperan dalam menjaga dan melestarikan keanekaragaman hayati di Berau terutama terhadap keberadaan Penyu Hijau dan Penyu Sisik.
Tak hanya YPI, tahun ini Pulau Mataha pun kembali memperoleh perhatian positif dari komunitas konservasi internasional.
Perhatian dari komunitas global tersebut jelas memberi angin segar bagi YPI untuk makin giat melestarikan keberadaan Penyu di Pulau Mataha.
Karena itu, YPI mulai terlibat dalam upaya mengedepankan dan mendukung tindakan pengelolaan dan konservasi untuk pulau-pulau kecil dalam skala internasional.
Salah satu keterlibatan YPI itu yakni mengikuti kompetisi video internasional bidang lingkungan hidup, bertajuk “My Projects in 120 seconds.”
Bekerja sama dengan Perkumpulan Konservasi Biota Laut Berau (BLB), rupanya YPI berhasil menjadi jawara dalam kompetisi yang menjadi bagian dari acara tahunan Celebrate Islands.
Celebrate Islands secara khusus, diselenggarakan oleh Conservatoire du littoral, NGO PIM, dan SMILO; lembaga nonprofit yang bermarkas di Paris, Perancis.
Acara Celebrate Islands tersebut sebenarnya sudah digelar sejak 2014 silam. Namun, YPI baru mengikuti acara itu dalam dua tahun terakhir, yakni pada 2022 dan 2023.
Tujuan dari acara itu tidak lain yakni mengedepankan dan mendukung tindakan pengelolaan dan konservasi untuk pulau-pulau kecil dalam skala internasional.
Dalam acara penutupan penilaian kandidat, Rabu (17/5/2023), penyelenggara mengumumkan tujuh juara dalam event ini.
Video produksi YPI berjudul “Protecting Sea Turtle Paradise through Sustainable Management in the Uninhabited Island of Mataha” menjadi pemenang pertama dalam kategori “Ecological Restoration.”

Keluar sebagai jawara, YPI berhasil mengalahkan 19 organisasi dari 11 negara di dunia yang mengikuti kompetisi serupa.
Dengan memenangkan kompetisi itu, YPI berhak mendapat dukungan pendanaan program sebesar €4000 (euro) atau sekitar Rp 61,9 juta.
Dana dukungan itu diberikan untuk YPI demi merealisasikan program-program yang dipresentasikan dalam video perlombaan tersebut.
Manager YPI Program Berau, Rusli Andar, menyampaikan bahwa peran serta NGO sangat diperlukan dalam membantu menjaga dan melestarikan keanekaragaman hayati di Berau terutama terhadap keberadaan Penyu Hijau dan Penyu Sisik.
Karena itu, sejak Januari 2023 YPI telah membuat kesepakatan kerja sama dengan Perkumpulan Biota Laut Berau (BLB) dalam pengelolaan konservasi penyu dan habitatnya di Pulau Mataha dan Pulau Bilang-Bilangan.
“Tentu saja, dukungan para pihak terkait lainnya sangat diperlukan baik dari lini pemerintah, masyarakat, dan NGO demi melestarikan penyu di kawasan laut Berau,” tambahnya.
Asisten Manager YPI, Ahmad Imam yang juga koordinator dalam kompetisi itu menegaskan bahwa dana yang akan diterima itu akan dialokasikan untuk meningkatkan fasilitas pos penjagaan konservasi penyu yang ada di Pulau Mataha agar konservasi penyu di pulau peneluran tersebut dapat dilakukan dengan cara yang berkelanjutan.
“Kami sangat berterima kasih dan bangga telah memenangkan kompetisi ini.
Namun, kita perlu terus berupaya untuk melindungi penyu dan habitatnya melalui manajemen yang berkelanjutan, mengingat Kabupaten Berau merupakan kawasan peneluran penyu hijau (Chelonia mydas) terbesar di Indonesia.
Oleh karena itu, perlindungan penyu di habitatnya secara langsung sangat perlu dilakukan untuk mengurangi ancaman kepunahan akibat eksploitasi manusia dan perubahan iklim,” imbuh Imam.
Sejak tahun 2014, lanjutnya, Celebrate Islands telah menyoroti aset dan kekayaan pulau-pulau kecil di dunia dan mempromosikan tindakan untuk melindungi wilayah yang begitu kaya sekaligus begitu rapuh.
Promosi itu dilakukan untuk memuliakan ekosistem pulau dan mendorong para pemangku kepentingan terlibat melestarikannya.
Tahun ini, melalui mobilisasi yang belum pernah terjadi sebelumnya, acara ini didukung lebih dari 20 lembaga dan LSM di lima benua yang berkomitmen secara kolektif memobilisasi jaringan mereka, untuk mengangkat suara pulau-pulau kecil.
Semua organisasi ini bersatu demi satu tujuan, yaitu memulai proses pengakuan Hari Pulau Internasional.
YPI yang selama ini bekerja untuk berbagai kegiatan konservasi penyu di Indonesia, khususnya di Kabupaten Berau, pada tahun ini memutuskan lagi untuk berpartisipasi dalam Celebrate Islands 2023.
Hal itu bertujuan agar dunia internasional mengetahui komitmen dan pekerjaan yang dicapai dalam konservasi penyu di Kabupaten Berau.
Karena itu, Imam berharap agar konservasi penyu di Berau menjadi perhatian semua pihak. Termasuk menjaga populasi penyu dari aktivitas buruk manusia seperti menangkap ikan menggunakan potasium, yang tidak hanya memusnahkan populasi ikan, tetapi juga menghancurkan habitat penyu. (*/Elton Wada)
Editor: Elton Wada








