Kalimantan Timur – Kaltim, sebagai salah satu daerah penghasil minyak dan gas (migas) terbesar di Indonesia, terus berkomitmen untuk mendorong tumbuhnya industri hilir migas guna menggerakkan perekonomian daerah yang semakin menurun kontribusinya dari sektor migas setiap tahunnya.
Asisten Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Sekdaprov Kaltim, Ujang Rachmat, menyampaikan hal ini saat menghadiri kegiatan Upstream Oil dan Gas Executive Meeting yang diselenggarakan oleh SKK Migas Kantor Perwakilan Kalimantan-Sulawesi di The Alana Yogyakarta Hotel & Convention beberapa waktu yang laku.
Dalam pertemuan bertema “Sinergi Industri Hulu Migas bersama Pemerintah Daerah dalam Mendukung Pembangunan Daerah Berkelanjutan,” hadir pula kepala daerah dan pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dari daerah-daerah penghasil migas di Sulawesi dan Kalimantan.
Ujang Rachmat mengungkapkan bahwa kontribusi sektor migas terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kaltim mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir, baik dari industri hulu maupun industri pengelolaannya. Hal ini menjadi perhatian bersama, dan Ujang menekankan pentingnya memanfaatkan potensi gas yang masih tersedia dengan baik, terutama jika tidak ada temuan lapangan gas baru.
“Kita harus mempercepat proses hilirisasi migas dan memastikan industri-industri yang memerlukan gas itu mendapat pasokan yang memadai,” ujarnya.
Ujang Rachmat juga menyoroti perkembangan positif dalam hal ini, yaitu telah ada dua industri smelter di Kaltim yang telah dibangun, dan salah satunya sudah beroperasi. Selain itu, industri pupuk di Bontang juga telah lama beroperasi, menciptakan peluang ekonomi yang penting bagi daerah tersebut.
Selain itu, Ujang Rachmat juga menyoroti pentingnya membangun jaringan gas yang lebih baik di Kaltim dan memenuhi kebutuhan gas, termasuk untuk kepentingan proyek IKN (Ibu Kota Negara).
Namun, dalam forum tersebut juga dibahas tentang deklinasi produksi gas, dengan potensi ancaman bagi industri LNG di Bontang yang bisa tutup pada tahun 2028 jika tidak ada pasokan gas baru. “Kalau sampai tutup, Kaltim akan kehilangan 10 sampai 15 persen PDRB-nya,” tegasnya.
Dalam konteks ini, langkah yang perlu diambil adalah memastikan ketersediaan gas yang ada saat ini dan mengupayakan percepatan industri hilir migas sebagai solusi untuk menjaga pertumbuhan ekonomi Kaltim.
Pertemuan ini juga dihadiri oleh sejumlah pejabat penting, antara lain Bupati Paser Fahmi Fadli, Asisten II Sekdaprov Kalimantan Utara Bustan, Asisten II Sekdakab Kutai Kartanegara Wiyono, dan Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekdakab. Paser Adi Maulana. Dengan berbagai pihak terlibat, Kaltim berharap dapat menjaga keberlanjutan industri migas dan mengoptimalkan potensi sumber daya alam yang dimiliki demi kesejahteraan masyarakat setempat serta pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. (Amin/Advertorial/Diskominfo Kaltim)








