TENGGARONG – Jelang 2024, Asisten I Bidang pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) Akhmad Taufik Hidayat, kembali mengimbau kepada masyarakat untuk mematuhi semua peraturan yang ada, terutama yang berkaitan dengan Pemilu. Masyarakat juga diminta waspada dengan potensi hoaks yang beredar.
Lanjut Taufik menjelaskan melalui Kesbangpol pihaknya telah memfasilitasi berbagai forum pertemuan antara tokoh masyarakat, agama maupun tokoh muda untuk memastikan komunikasi yang baik dan mencegah kesalahpahaman. Dimana peran para tokoh ini memiliki pengaruh besar di masyarakat.
“Tokoh masyarakat dan agama sangat penting untuk terlibat mencegah terjadinya konflik mengenai SARA meski tidak pernah terjadi di Kukar,” ucapnya.
“Namun dengan masifnya perkembangan internet dan media sosial hari ini adanya disinformasi, bisa menjadi salah satu pemicu. Oleh sebab itu peran penting parah tokoh yang langsung berdekatan dengan masyarakat sangatlah dibutuhkan,” sambungnya.
Sementara itu, Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) menyebut menjelang Pemilu 2024 berita hoaks mengalami peningkatan. Tercatat, sejak Januari hingga Oktober 2023 berita hoaks politik mencapai lebih dari 50 persen. Pada awal Desember 2023, Presidium Litbang Mafindo Loina Perangin-Angin ketika mengisi acara bincang-bincang di Pro 3 RRI memaparkan, dari 1.200 hoaks yang dikumpulkan dalam kurun Januari-Oktober 2023, 700 di antaranya adalah hoaks politik.
Berkaca pada Pemilu 2014 dan 2019, hoaks merajalela, menyasar penyelenggara pemilu, parpol, kandidat, dan pemilih. Pada 2019, hoaks politik mencapai 52,7 persen. Dua pemilu presiden plus Pilkada DKI 2017 itu menggambarkan brutalitas produksi hoaks.
Penyebaran hoaks pada tahun politik perlu diantisipasi secara serius karena terbukti mempengaruhi kesempatan publik untuk menilai kandidat secara jernih. Juga mengurangi peran publik dalam pengawasan pemilu, meningkatkan potensi konflik, mempertajam polarisasi, dan menggerus kepercayaan publik terhadap hasil pemilu. Polarisasi politik ini berpotensi menyebabkan konflik hingga kekerasan (rm6/mediaetam.com)








