Samarinda – Di Thunderdome Stadium Thailand, 26 Februari 2013, di laga perdana fase grup Liga Champions Asia. Mata Fabio Lafundes melotot tapi pandangannya kosong tatkala gelandang bertahan Jeonbuk Hyundai, Hyuk Jeong menanduk bola sepakan pojok ke gawang sendiri pada menit ke-89. Skor akhir menjadi 2-2. Kemenangan di laga debut sebagai pelatih pun, sirna seketika. Lalu 4.492 hari kemudian, mata Lafundes mungkin memicing heran, mengapa sebagian besar pendukung Borneo FC tidak memberi sambutan hangat di hari pengumumannya sebagai nakhoda baru Pesut Etam.
Media ini tidak menemukan catatan Lafundes sebagai pemain. Namun yang pasti, di usia yang begitu muda, yakni 22 tahun. Ia sudah menjadi pelatih fisik untuk tim kasta bawah Liga Brasil, Bangu-RJ. Selama 13 tahun berkiprah di negaranya, ia membutuhkan batu loncatan untuk mencapai titik yang lebih tinggi. Tidak di Brasil yang persaingannya sangat ketat. Melainkan melenggang ke Asia.
Pada 2007, ia bergabung ke klub Qatar, Al-Mesaimeer SC sebagai pelatih fisik. Setahun berikutnya, ia hijrah ke Arab Saudi untuk membesut latihan fisik tim Al-Raed. Pelan tapi pasti, porfotolionya makin kompleks. Namanya mulai dipertimbangkan.
Fabio Lafundes Sosok Spesial
Tepat di hari pertama tahun 2011, ia diperkenalkan sebagai pelatih fisik Jeonbuk Hyundai. Masuk dalam tim kepelatihan yang dipimpin pelatih legendaris Korea Selatan, Kang-hee Choi.
Di tahun pertamanya itu, Jeonbuk berhasil merengkuh gelar juara Liga Korea Selatan. Klub puas pada kinerjanya. Lalu memberinya tambahan kontrak 3 musim sekaligus.
Pada 20 Desember 2012, skenario hidupnya sedikit berubah. Ia diangkat menjadi pelatih kepala sementara, ketika Kang-hee Choi ditunjuk sebagai pelatih Timnas Korea Selatan.
Laga pertamanya adalah memimpin Jeonbuk bermain di fase grup Liga Champions Asia. Bukan laga kaleng-kaleng. Yang terjadi adalah persis seperti paragraf pembuka berita ini.
Gagal mendapat hasil manis di laga debut, Lafundes membayar di K-League dengan 2 kemenangan sekaligus. Masing-masing dari Daejeon Citizens dan Ulsan Hyundai. Prestasinya tak buruk-buruk amat, yakni membawa timnya finis di peringkat kedua K-League.
Di musim berikutnya, ia kembali menjadi pelatih fisik karena Kang-hee Choi selesai dari pekerjaan singkatnya di timnas dan kembali ke Jeonbuk. Total 7 tahun ia bekerja di Jeonbuk. Turut mengantar timnya meraih 4 trofi juara K-League, 2 kali runner-up K-League, 1 trofi Liga Champions Asia, dan 1 Korsel Cup. Sebagai pelengkap, ia turut berada di tepi langan saat Jeonbuk bermain di Piala Dunia Antarklub 2016, ketika Real Madrid menjadi juaranya.
Ini adalah raihan yang sangat sempurna!
Lafundes pada akhirnya menutup petualangannya di Korea Selatan, untuk menuju China. Membesut Shandong Luneng Taishan. Bukan lagi sebagai pelatih fisik, tapi asisten pelatih. Ia mendampingi Xiaopeng Li dalam 83 pertandingan selama 3 tahun. Prestasi terbaiknya adalah mengantarkan Shandong Luneng Taishan finis di posisi ketiga Liga Super China.
Long story short, Lafundes adalah seorang pelatih fisik yang ‘naik kasta’ menjadi pelatih kepala. Lalu dalam prosesnya, ia dimentori langsung oleh dua pelatih kenamaan Asia, yakni Kang-hee Choi dan Xiaopeng Li. Tak banyak yang memiliki privilege seperti ini. Maka jelas, Fabio Lafundes adalah sosok yang spesial.
Belum Mampu Taklukkan Indonesia
Setelah meninggalkan Shandong Luneng Taishan, Lafundes pulang ke Brasil. Menjadi asisten pelatih Botafago. Tapi itu berlangsung sangat singkat. Tak sampai sebulan. Entah apa penyebabnya.
Selepas itu, tak ada catatan di mana Lafundes melanjutkan kariernya. Sampai setahun berikutnya, tepatnya pada bulan November 2021. Ia berkesempatan menjadi pelatih kepala, untuk pertama kalinya secara resmi. Adalah Madura United yang baru saja ditinggal Rahmad Darmawan, yang menjadi destinasi Lafundes berikutnya.
Menangani tim yang carut marut, sedang bertengger di papan bawah, Lafundes diharapkan menjadi solusi praktis bagi tim Jawa Timur. Harapan itu seakan jadi nyata. Di 5 laga pertamanya, MU meraih 3 kemenangan, 1 imbang, dan sekali kalah.
Namun itu hanya permulaan. Sisanya, Madura tetap terseok-seok. Memimpin 21 pertandingan, Lafundes hanya mampu membawa Madura United meraih 8 kemenangan dan 5 kali imbang. Tidak buruk, tapi tak bisa dikatakan berhasil juga. Memulai dari peringkat ke-14, MU akhirnya finis di posisi ke-9 bersama pelatih asal Brasil.
Lanjut ke musim 2022-2023, Lafundes yang sudah memiliki pengalaman di Liga 1. Serta memiliki waktu pra musim untuk mempersiapkan tim sesuai keinginannya. Nyatanya tak mampu mengakhiri musim bersama Madura.
Pada pekan ke-28, setelah kekalahan dari Borneo FC. Lafundes cabut dari Madura. Ia dianggap gagal memenuhi harapan direksi klub, karena hanya meraih 12 kemenangan dan 6 kali imbang dari 28 laga.
Sempat menganggur setahun, Lafundes kembali menerima tantangan dari Liga 1 dengan membesut Persita. Ia berharap, dengan klub barunya ini, bisa mendapat hasil yang mampu memulihkan namanya. Ia ingin menjadi pelatih top, setidaknya di Indonesia dulu. Namun harapan tinggal lah harapan, sepanjang musim, Persita hanya meraih 12 kemenangan, 6 imbang, dan 14 kali kalah. Finis di peringkat ke-11.
Keraguan Fans Borneo FC Berdasar
Tentang keraguan sebagian besar pendukung Borneo FC pada sosok Fabio Lafundes sebenarnya bukan hal yang mengada-ada. Selama 3 musim (tidak penuh) memimpin 2 tim Indonesia, Lafundes belum memancarkan sinarnya. Finis di peringkat ke-11 pada musim terakhirnya, lalu menuju Borneo FC yang selalu menargetkan finis di papan atas. Agaknya dipandang para pendukung sebagai sebuah anomaly.
Selain statistik yang tak terlalu moncer. Pernyataan para pendukung Persita soal sosok Lafundes yang anti kritik, tempramen tinggi, dan gagal menunjukkan permainan yang atraktif, seolah menjadi bahan bakar tambahan untuk fans Borneo FC.
Entah Lafundes tahu atau tidak, jika ia tak disambut dengan hangat. Tapi seandainya dia tahu, sebaiknya itu menjadi sesuatu yang harus ia taklukkan. Ya, tugas pertama Lafundes adalah memenangkan hati pendukung tim barunya. Baru kemudian, membawa Pesut Etam memenangkan sesuatu di akhir musim nanti. (has)








