Bontang– Proyek penurapan (turap) pada bantaran sungai di Kelurahan Kanaan, Kecamatan Bontang Barat, terpaksa dihentikan dulu sementara waktu. Penyebabnya karena ada bagian lahan yang diklaim milik warga –dan tidak boleh dilakukan pembangunan. Kasus ini unik, karena menurut Pemkot Bontang, masalah ini hadir setelah proyek berjalan 70 persen, bukan di awal pembangunan.
Turap yang dikerjakan oleh PT Takadea Reshi Consulindo mulai sekitar Juni 2025 (setelah Pre-Construction Meeting pada 29 April 2025) itu bertujuan menahan longsor dan mengurangi luapan air saat debit sungai meningkat—bagian dari program mitigasi banjir di wilayah rawan.
Pekerjaan ditujukan menggunakan beton bertipe T-shape, dengan panjang hingga 1 km dari belakang kantor Kelurahan Kanaan di sebelah kanan dan kiri bantaran sungai.
Nilai proyek tercatat Rp53–55 miliar, pembiayaan gabungan APBD Kota Bontang dan bantuan keuangan Pemprov Kaltim.
Dihentikan Sementara
Kabid Sanitasi, Air Minum & SDA Dinas PUPRK Bontang Edi Suprapto, mengatakan per Rabu, 3 September 2025, progres pengerjaan telah mencapai sekitar 70 %, sebelum dihentikan karena ternyata ada sengketa lahan yang tidak teridentifikasi saat sosialisasi awal.
“Padahal di awal sosialisasi tidak ada masalah itu. Kami baru tahu saat kerja berlangsung. Jadi kami hentikan sementara,” kata Edi Suprapto, mengutip Klik.
Pemkot menyatakan akan menginisiasi mediasi intensif antarpihak terkait dan warga agar proyek bisa dilanjutkan. Proyek ini sangat diharapkan bisa rampung sebelum akhir tahun 2025, agar manfaat sistem turap bisa segera dirasakan masyarakat sebagai penanganan banjir berkelanjutan di wilayah tersebut
Proyek Penting
Proyek turap ini penting untuk segera diselesaikan, karena keberadaannya adalah untuk menahan tebing dan mengurangi erosi serta luapan air ke permukiman, mengantisipasi banjir di musim curah hujan tinggi.
Adapun turap ini dibuat dari beton T-shape, tinggi beberapa meter, panjang total hingga ~1 km di sepanjang bantaran sungai, menggantikan struktur sebelumnya yang sudah tua dan sebagian jebol atau longsor sejak awal 2024. (gis)








