Sebagai nakhoda baru IKA Unhas Samarinda, Andi Satya Adi Saputra ingin membawa jaket merah khas almamaternya memiliki peran besar dalam tatanan kesehatan di Kota Pusat Peradaban. Langkah prioritasnya adalah memprakarsai pembentukan sekaligus jadi motor penggerak pentahelix kesehatan. Agar penanganan masalah kesehatan Samarinda lebih terencana, berkelanjutan, dan mencapai akhir yang diharapkan bersama.
Kepengurusan Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Universitas Hasanuddin (Unhas) Kota Samarinda periode 2025-2029 yang terpilih saat musyawarah daerah (Musda) beberapa waktu lalu. Secara resmi dilantik pada Minggu, 7 September 2025. Bertempat di Lantai 3 Bankaltimtara Prioritas, Jalan Awang Long Samarinda.
Ketua IKA Unhas Samarinda Andi Satya Adi Saputra mengatakan, momen pelantikan kali ini dibarengi dengan dialog kesehatan dan pembagian sembako. Dua agenda itu memiliki kaitan erat dengan program-program organisasi tersebut.
Dari dialog kesehatan, IKA Unhas Samarinda ingin menggali informasi lebih dalam tentang perkembangan terbaru sektor kesehatan kota. Data ini penting untuk menjadi landasan gerak organisasi ke depannya di bidang tersebut.
Lalu pembagian sembako dimaksudkan sebagai bentuk pembiasaan agar ke depan, pihaknya bisa menjadi fast responder ketika terjadi bencana.
“Ya bagi-bagi sembako adalah bentuk kepedulian dari IKA Unhas, tadinya kami targetkan 100 paket sembako untuk dibagikan, tapi Alhamdulillah karena antusiasme tinggi sudah terkumpul lebih dari 160 paket. Insyaallah kami akan salurkan hari ini langsung kepada fakir miskin,” ungkapnya usai pelantikan.
Langkah Terdekat
“Kalau kita bicara IKA Unhas Samarinda, pertama yang kita lakukan adalah mengumpulkan sebanyak-banyaknya alumni yang berada di Kota Samarinda, yang kami tahu jumlahnya sangat banyak.”
“Dari jumlah yang banyak itu, kami harapkan semua bisa berperan aktif dan memberikan kontribusi dalam pembangunan Kota Samarinda,” lanjut Andi Satya.
Kobarkan Kebanggaan Jaket Merah
Ketika ditanya mengenai program prioritas IKA Unhas Samarinda selama periodenya, Andi Satya yang dalam beberapa bulan ini getol memperbaiki tata kelola kesehatan dalam tupoksinya sebagai wakil ketua Komisi IV DPRD Kaltim tersebut menyampaikan gambaran singkatnya. Yakni ingin IKA Unhas Samarinda terlibat dalam kegiatan lintas sektoral.
“Seperti program pendidikan, kesehatan, dan sosial. Kalau perlu IKA Unhas menjadi fast responder bila terjadi musibah seperti banjir, kebakaran, dan lainnya. Gunakan jaket merah, tunjukkan kebanggaan sebagai alumni Unhas untuk terjun langsung membantu masyarakat,” tegasnya.
Masalah Kesehatan Samarinda Masih Pelik
Mengenai agenda dialog kesehatan di acara pelantikan, dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi itu menyampaikan bahwa kesehatan merupakan kebutuhan primer. Sementara menurutnya, masalah kesehatan di Samarinda sudah mendesak untuk diselesaikan.
“Tadi seperti disampaikan perwakilan Dinas Kesehatan dr Rudi, bahwa angka stunting di Samarinda, meskipun turun 4,1 persen, tapi dalam angka jumlahnya masih sekitar 4.100 anak yang terdampak stunting. Itu tentu jadi PR bersama.”
“Lalu angka kematian ibu dan bayi di Samarinda, per hari ini jumlahnya malah meningkat. Tentu ini harus mendapatkan perhatian karena KB dan AKI, merupakan indikator dalam Sustainable Development Goals yang harus dikejar dan ditekan,” lanjutnya.
Pentahelix Kesehatan Samarinda Tak Boleh Sekadar Wacana
Dalam diskusi kesehatan tersebut, satu di antara topik yang dibahas adalah pentahelix kesehatan. Buat yang belum familiar dengan istilah ini, pentahelix kesehatan adalah pendekatan kolaboratif yang melibatkan lima elemen penting, yaitu pemerintah sebagai leading sector: bertindak sebagai regulator, fasilitator, dan penyedia sumber daya dalam kebijakan dan program kesehatan.
Yang kedua adalah akademisi yang diharapkan kontribusinya dalam riset, inovasi, dan pengembangan ilmu pengetahuan yang relevan dengan kesehatan.
Ketiga adalah pelaku usaha (swasta), yang diharapkan keterlibatannya melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (TJSLP) atau penyediaan sumber daya untuk mendukung solusi kesehatan.
Keempat adalah komunitas/ masyarakat yang selain sebagai penerima manfaat, juga menjadi partisipan aktif dalam upaya peningkatan kesehatan dan penanggulangan masalah. Di sini lah IKA Unhas Samarinda nantinya berada.
Kemudian yang terakhir adalah media, sebagai pihak yang berperan dalam menyebarkan informasi yang benar dan mendukung kolaborasi antara elemen lainnya.
Ketika ditanya seberapa penting pentahelix kesehatan di Samarinda, Andi Satya menjawab: sudah sangat mendesak! Sebab melalui kerja sama lima elemen tersebut, tujuan bersama di bidang kesehatan yang kompleks bisa secara efektif dan efisien lebih cepat terwujud.
“Kelima pihak ini harus didudukkan bersama dalam satu forum untuk menyelesaikan masalah secara bersama. Menentukan prioritas masalah kesehatan apa yang ada di Samarinda, untuk dicarikan solusi bersama. Kemudian dampaknya harus dirasakan oleh masyarakat, agar keterlibatan mereka menjadi tinggi.”
“Saya harap ini tidak jadi sekadar acara seremonial, tapi betul-betul nanti dijadikan forumnya. Supaya ke depan, Samarinda sebagai Smart City betul-betul bisa kita laksanakan,” pungkasnya. (gis)








