Harga Kedelai dan Plastik Melejit, Produsen Tahu Tempe Tenggarong Menjerit!

Pabrik Tempe olahan Nadiva Putri, Selasa (28/4/26). (Dilla/Media Etam)

TENGGARONG – Industri tahu dan tempe rumahan di Kecamatan Tenggarong kini tengah berada di ambang kesulitan. Kenaikan harga bahan baku yang tak terkendali selama dua bulan terakhir memaksa para perajin lokal “napas tersengal” demi mempertahankan kelangsungan usaha mereka.

Kenaikan ini mencakup komponen vital produksi, mulai dari bahan baku utama kedelai hingga material kemasan plastik yang melonjak drastis.

Bacaan Lainnya

Pemilik usaha tahu tempe di Tenggarong, Nadiva Putri, membeberkan angka kenaikan yang menurutnya sudah tidak masuk akal. Harga kedelai yang semula Rp525.000 per kuintal kini telah menyentuh angka Rp585.000. Kondisi ini diperparah dengan harga plastik pembungkus yang naik dari Rp12.000 menjadi kisaran Rp17.000 hingga Rp25.000.

“Plastik itu paling penting. Sehari saya bisa habis Rp100.000 hanya untuk plastik. Kalau dihitung seminggu sudah Rp700.000, belum lagi kayu bakarnya. Total biaya produksi saja bisa tembus Rp2 juta per minggu,” keluh Nadiva, Selasa (28/4/2026).

Terpaksa Kurangi Ukuran

Akibat beban produksi yang membengkak, para perajin terpaksa mengambil langkah pahit dengan mengurangi ukuran porsi produk agar tidak gulung tikar.

Masalah perajin lokal tidak berhenti pada bahan baku. Mereka kini harus berhadapan dengan “serbuan” produk tempe asal Samarinda yang masuk ke pasar Tenggarong dengan keunggulan ukuran dan harga.

Nadiva menduga, perajin di luar daerah memiliki perkumpulan atau koperasi yang memungkinkan mereka membeli bahan baku dengan harga jauh lebih murah sehingga mampu menjual produk dengan ukuran lebih besar.

“Kami kalah saing. Orang Samarinda jual ke sini tempenya besar-besar. Sementara kami di sini sudah terpaksa mengurangi ukuran porsi supaya tidak rugi, tapi dampaknya pelanggan jadi sepi karena mereka membandingkan dengan produk luar,” jelasnya.

Hingga saat ini, para perajin mengaku belum ada koordinasi atau bantuan dari dinas terkait untuk menstabilkan harga. Kondisi ini membuat pendapatan bersih mereka merosot hingga Rp200.000 per hari.

Di tengah situasi terjepit ini, Nadiva hanya bisa berharap pada pengertian pelanggan serta langkah nyata dari pemerintah daerah.

“Untuk pelanggan, kami minta pengertiannya, semuanya naik. Ada yang protes kenapa tempenya kecil, tapi ada juga yang mengerti. Kami hanya ingin usaha ini tetap bernapas. Kami berharap pemerintah segera turun tangan menstabilkan harga kedelai dan plastik,” pungkasnya.

Laporan: Nur Fadillah Indah/mediaetam.com

Bagikan:

Pos terkait