Mediaetam.com, Jakarta, Pemerintahan Joko Widodo sudah 6 kali menaikkan harga BBM (Bahan Bakar Minyak). Terakhir terjadi pada September 2022 yang lau. Di lansir dari CNN, Manajemen Teknologi Dan inovasi Sigit setiawan menyebutkan bahwa data dari google search selama masa pemerintahan Jokowi, Isu yang paling banyak dicari adalah mengenai isu perubahan harga BBM.

Daerah yang paling banyak menolak kenaikan harga BBM (berdasarkan data google search) adalah Sulawesi Tenggara, Aceh, Lampung, Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Sumatra Utara dan lain-lain” jelasnya
Berikut ini adalah rencana kenaikan BBM yang terjadi sejak periode 2014 semenjak Jokowi memimpin
2014
Kenaikan pertama terjadi pada November 2014 yaitu harga premium yang awalnya Rp, 6.500 per liter naik menjadi Rp. 8.500 per liter. Sedangkan solar naik dari Rp. 5.500 per liter menjadi Rp. 7500 per liter
2015
Sempat turun harga di awal 2015, namun Jokowi kembali menaikan harga BBM pada 1 maret 2015. Harga premium naik Rp. 200 menjadi Rp. 6.800 per liter. Dan pada 28 maret 2015, Harga premium naik dari Rp. 6.800 per liter menjadi Rp. 7.300 per liter, sedangkan solar naik dari Rp. 6.400 per liter menjadi Rp. 9.900 per liter
2018
Harga BBM jenis pertalite naik dua kali pada tahun ini, pada 20 Januari 2018 Pemerintahan Jokowi menaikan harga pertalite menjadi Rp. 7.600 per liter. Dan setelah itu harga pertalite kembali naik menjadi Rp. 7.800 per liter pada 24 Maret 2018
2022
Sebelum kenaikan pada September 2022, Jokowi sudah lebih dulu menaikan harga BBM non-subsidi jenis Pertamax pada April 2022. Harganya naik dari Rp. 12.500 menjadi Rp. 14.500 per liter pada awal September 2022. Akan tetapi pertamax kemudian mendapatkan penyesuaian harga pada 1 Oktober 2022 menjadi Rp. 13.900 per liter.
Artikel ini sudah terbit sebelumnya di CnnIndonesia.com pada senin, 3 Oktober 2022 dengan judul “ 2 Periode Menjabat Jokowi Sudah Naikkan Harga BBM 6 Kali”
Ikuti berita terkini dari Media Etam di Google News, klik di sini.








