Fabio Lefundes tidak mengeluh dengan skuad Borneo FC musim ini yang kebanyakan adalah pemain muda. Namun kedatangan Caxambu 2 pekan lalu menimbulkan perasaan yang berbeda. Selayaknya menyesap kopi hitam, srupppp … ah, mantap. Sangat melegakan.
Di hari pertama Agustus 2025, jam 17.37 Wita di Stadion Segiri. Seorang asisten pelatih membunyikan peluit, mengintruksikan seluruh pemain untuk berdiri membentuk lingkaran. Tak ada evaluasi. Hanya perintah untuk menutup sesi latihan dengan doa.
“Siapa kita? Borneo FC!” Yel-yel penutup, seluruh pemain dan staf langsung menuju ruang ganti dalam barisan tak beraturan. Ada yang berjalan sendiri, berdua, ataupun dalam kelompok yang lebih besar.
Beberapa menit kemudian, lantuan Quran sudah terdengar sayup-sayup dari masjid dekat stadion. Namun ada 2 sosok yang masih berdiri di tengah lapangan. Sejak tim bubaran, hingga 20 menit kemudian, mereka masih terlibat diskusi seru. Entah soal apa.
Keduanya adalah Fabio Lefundes dan Westherley Garcia alias Caxambu. Di ujung ketidaksabaran awak media yang menanti sang pelatih untuk wawancara setelah 3 pekan berlatih di Jogjakarta. Lefundes akhirnya membuat gestur ‘akhir obrolan’ dengan Caxambu.
Wawancara 11 Menit, Bahas Banyak Hal
Seperti biasa, sebelum wawancara, awak media dan Lefundes terlebih dulu saling bersalaman dan menanyakan kabar. Dan tanpa basa-basi lagi, para pemburu berita langsung menyecar pelatih asal Brasil dengan beberapa pertanyaan. Cukup banyak pertanyaan.
Dari soal evaluasi TC Jogja, perkembangan terbaru tim, kenapa di laga uji coba banyak gol penalti, pemahaman pemain soal taktik, regulasi pemain asing, hingga perkara chemistry dan adaptasi.
Pada pertanyaan soal chemistry, Lefundes langsung tanpa sengaja membocorkan obrolannya dengan Caxambu, yang membuat awak media dan penerjemah menunggunya lama.
“Ah, pembahasan bagus. Kebetulan barusan saya ngobrolin soal itu sama Caxambu,” kata Lefundes.
“Chemistry tim sudah mulai kami dapatkan. Nanti, ketika semua pemain sudah memiliki ikatan itu, saya yakin tim ini akan jauh lebih bagus di kompetisi.”
Kehadiran Caxambu Membuat Lefundes Lega
Menarik sedikit ke belakang. Di bursa transfer kali ini, Borneo FC mulanya mendatangkan 5 pemain asing baru. Yakni Juan Villa, Maicon, Al-Husseini, Joel Vinicius, dan Coutinho. Membuat Pesut Etam memiliki 8 asing, usai mempertahankan Kei Hirose, Christope Nduwarugira, dan Mariano Peralta.
Namun seiring waktu, karena regulasi pemain asing berubah. Mereka mendatangkan Westherley Garcia. Pemain berposisi bek kiri. Pemain terakhir, meski tak punya catatan karier yang mentereng. Tanpa sengaja, telah membuat Lefundes lega.
Bukan tanpa alasan, sebab sebelum kedatangannya. Pemain berposisi bek kiri di Borneo FC cukup mengkhawatirkan. Kepergian Leo Guntara dengan skema peminjaman ke Semen Padang meninggalkan lubang yang cukup besar.
Memang masih ada Dandi Sonriza dari skuad musim lalu. Pemain 22 tahun itu naik ke tim utama Borneo FC dari tim satelit Serpong City pada musim 2023/24, dan telah mencatatkan 20 penampilan bersama Pesut Etam di semua ajang. Namun Dandi bukanlah bek kiri murni, posisi naturalnya adalah penyerang sayap kiri. Sehingga kemampuan bertahannya belum cukup matang.
Selain Dandi, ada 2 pendatang baru di posisi tersebut. Yakni Haykal, bek kiri 24 tahun yang sudah bermain 45 kali di Super League bersama PSIS pada 2 musim terakhir. Juga Rayhan Utina, bakat muda menjanjikan yang belum pernah mencicipi menit bermain di kasta tertinggi.
Bagi Lefundes, susunan ini belum aman. Atau setidaknya, belum mendekati level Leo Guntara. Makanya ketika Caxambu datang, ia lega selega-leganya. Karena kini, di pos itu ada seorang pemain asing berpengalaman pada diri Caxambu, pemain lokal dengan pengalaman 2 musim di Super League (Haykal), dan pelapis berbakat Rayhan Utina. Ketiganya akan membuat persaingan sehat yang menjadikan pos pertahanan kiri dengan sendirinya semakin kokoh. Dandi? Ia dipinjamkan ke klub Liga 2, Adhyaksa FC setelah kedatangan Caxambu.
Pengganti Ideal Leo Guntara
“Kami menghadirkan Caxambu karena kehilangan Leo Guntara.”
Lefundes memang tak pernah melatih Leo secara langsung. Tapi bukan berarti tak tahu kualitasnya. Beberapa kali bertemu sebagai lawan, ia tahu betul kemampuan bek kiri asal Padang itu.
“Leo bermain lama di Borneo FC, bukan hanya lama, tapi penampilannya juga sangat bagus,” puji Lefundes.
Lefundes tak berlebihan. Leo sudah membela panji Pesut Etam selama 4 musim terakhir. Membuat 139 penampilan di semua ajang. Menjadi bek kiri dengan koneksi paling kuat dengan Stefano Lilipaly. Tak terbantahkan, Leo Guntara adalah 1 dari 2 bek kiri terbaik Borneo FC sepanjang sejarah klub.
Kini, dengan Caxambu yang tampil mengesankan selama TC Jogjakarta, Lefundes tak begitu khawatir lagi.
Lini Pertahanan Komplet
Caxambu seperti kepingan puzzle terakhir di lini pertahanan Borneo FC. Ia nantinya akan membentuk sinergi dengan Christope, Baker (Al-Husseini)/ Diego Michiels/ Komang/ Agung, dan Fajar Fathur Rahman.
“Chemistry di lini pertahanan sudah bagus. Terlihat di beberapa laga uji coba kemarin. Kami tampil dengan kokoh. Kalau koneksi mereka terus terbangun, kami akan jadi tim yang semakin kuat,” pungkasnya. (has)








