Belajar Bahasa Kutai dari Sekolah-Sekolah di Kutai Kartanegara

SMPN 1 Tenggarong. (Indah, Mediaetam.com)

Hari ini, dirayakan sebagai bahasa Ibu Internasional. Di berbagai daerah, bahasa ibu mengalami ancaman regenerasi penuturnya. Di Kutai Kartanegara, hal ini diantisipasi. Sekolah-sekolah di Kutai Kartanegara, mulai memasukkan bahasa Kutai pada salah satu mata pelajarannya.

Indah Hardiyanti – Kutai Kartanegara

Bacaan Lainnya

Luna, gadis berseragam putih biru itu, tersenyum di sela pelajarannya. Satu lagi ilmu dia dapat. Ternyata, banyak yang dia belum ketahui dari bahasa yang kadang sehari-hari dia gunakan. Siswi SMP 1 Tenggarong itu, baru tahu ada banyak tutur dan kata-kata yang digunakan dalam bahasa Kutai.

“Selama ini kan kita tahunya hanya beberapa saja bahasa Kutai, cuman bahasa umumnya saja. Jadi setelah belajar bahasa Kutai di sekolah ternyata ada banyak tuturnya, kata-katanya juga. Walaupun juga hari-hari dipakai, tapi jadi lebih tahu lagi,” cerita Luna pada reporter Mediaetam.

Siswa SMPN 1 Tenggarong, Luna (Kanan). (Indah, Mediaetam.com)
Siswa SMPN 1 Tenggarong, Luna (Kanan). (Indah, Mediaetam.com)

Luna pun mengaku senang dengan adanya pembelajaran Bahasa Kutai. Menurutnya lewat pembelajaran ini, dirinya bisa lebih mengetahui bahasa Kutai. Mulai dari penuturan, aksen, kata-kata, hingga penyampaian.

Gadis berjilbab ini beruntung, karena SMP 1 Tenggarong tempat dia bersekolah, adalah satu dari 16 sekolah di Kutai Kartanegara yang menerapkan pelajaran Bahasa Kutai sejak awal tahun.  Wakil Kepala Kurikulum SMPN 1 Tenggarong, Rabiatul Huda pun memaparkan, sejak pelajaran ini diterapkan pada Januari lalu, sudah ada 295 siswa di sekolahnya yang mendapat pelajaran ini.

“Itu baru di kelas 7 saja yang mengikuti,” sebut Rabiatul.

Wakil Kepala Kurikulum SMPN 1 Tenggarong, Rabiatul Huda. (Indah, Mediaetam.com)
Wakil Kepala Kurikulum SMPN 1 Tenggarong, Rabiatul Huda. (Indah, Mediaetam.com)

Rabiatul mengaku sejauh ini, pembelajaran Bahasa Kutai di sekolahnya tidak terdapat kendala sama sekali. Namun juga diakuinya jika Bahasa Kutai di dunia pendidikan masih kurang familiar bagi siswa. Sehingga dari guru masih harus bekerja lebih keras guna memperkenalkan Bahasa Kutai kepada murid.

“Untuk murid itu saat ini hanya mengetahui bahasa umumnya saja. Sedangkan penuturan yang lainnya masih sedikit mengetahui. Namun, sejauh ini anak-anak murid suka saja dengan pembelajaran bahasa Kutai ini,” bebernya.

Perjuangan Bahasa Kutai Masuk ke Sekolah

Saat ini, Bahasa Kutai telah masuk dalam program pelajaran di setiap sekolah, seperti Paud, Sekolah Dasar (SD), dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sementara untuk jenjang pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) masih dalam pembahasan di Disdikbud Provinsi Kaltim agar dapat masuk dalam program pembelajaran.

“Kita juga sudah melakukan pertemuan dengan pihak Disdikbud Kaltim untuk dapat memasukan bahasa daerah dalam program belajar di SMA, SMK, dan Sekolah Luar Biasa,” jelas Staff Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud), Awang Rifani kepada Mediaetam.

Staff Bidang Kebudayaan Disdikbud Kukar, Awang Rifani. (Indah, Mediaetam.com)
Staff Bidang Kebudayaan Disdikbud Kukar, Awang Rifani. (Indah, Mediaetam.com)

Kini di Kukar sendiri, diakui Awang baru terdapat 16 sekolah saja yang baru menerapkan program belajar Bahasa Kutai. Seperti, SMPN 1 Tenggarong, SMPN 10 Loa Kulu, SMPN 1 Sebulu, SMPN 4 Sebulu, SMPN 1 Sanga-Sanga, dan SMPN 3 Kota Bangun.

Sementara untuk jenjang SD, yakni di SDN 017 tenggarong, SDN 035 Tenggarong, SDN 028 Tenggarong, SDN 018 Tenggarong, SDN 009 Sangasanga, SDN 013 Sangasanga, SDN 006 Muara Kaman, SDN 005 Muara Kaman, SDN 015 Muara Kaman, dan SDN 011 Tenggarong Seberang.

Awang Rifani mengatakan bahwa Bahasa Kutai wajib dipelajari sebab telah menjadi budaya masyarakat terutama suku Kutai dalam berkomunikasi.

“Kita ingin mengubah dari yang biasanya masuk dalam pembelajaran bahasa itu yakni Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia saja, kini ingin kita ubah jadi masuk mata pelajaran Bahasa Kutai,” ucap Awang

Saat ini disebutkan Awang banyak anak muda atau siswa yang terpengaruh oleh bahasa modern sehingga lupa bahasa ibu daerahnya. Oleh sebab itu, mata pelajaran ini dinilainya dapat kembali mengingatkan kepada para siswa agar lebih mengetahui dan memahami kekayaan dari bahasa asli Bumi Etam.

“Hanya perlu dari kita lagi sebagai tenaga pendidik yang menerapkan agar ini tidak dilupakan begitu saja. Atau jika bisa juga dibuat seperti komunitas pembelajaran bahasa Kutai atau juga dibantu oleh stakeholder lainnya. Tujuannya sama, menjaga budaya,” ungkapnya.

Apalagi, Awang mengatakan ini identitas sebagai orang suku Kutai. Bahasa Kutai kan berbeda dengan bahasa lain. Ini jadi identitas yang harus dijaga.

Bahasa Kutai adalah bahasa yang paling banyak digunakan di wilayah Kutai Kartanegara, Kutai Timur, dan Kutai Barat. Bahasa Kutai merupakan bahasa yang sangat kaya aksen, dengan banyak varian aksen yang berbeda di setiap daerah.

Sistem tata bahasa kutai berbasis VSO (Verb-Subject-Object) dan memiliki beberapa fitur unik, seperti kata ganti yang berbeda untuk orang laki-laki dan perempuan, dan banyak kata yang terkait dengan alam. Bahasa ini juga disebut bahasa Kutai Malay, karena memiliki kesamaan dengan Bahasa Melayu.

Sebab memiliki kekayaan tutur bahasa dan aksen yang luas, saat ini bahasa kutai juga telah masuk dalam Kurikulum pembelajaran di setiap sekolah di wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Kurikulum pembelajaran bahasa Kutai telah di resmikan oleh Bupati Kukar Edi Damansyah pada tahun 2022 lalu.

Alasan mengapa Bahasa Kutai dimasukkan ke dalam kurikulum mata pembelajaran, yakni guna menjaga bahasa asli Suku Kutai yang selama ini tinggal di Bumi Borneo. Selain itu, di tengah era modern seperti sekarang, banyak masyarakat yang telah jauh meninggalkan bahasa ibu atau Mother Language mereka.

Jadi Kebanggaan dalam Menyambut IKN

Mengenai penerapan pembelajaran Bahasa Kutai di sekolah, Keluarga Kesultanan Kutai Kartanegara Heriansyah mengaku bangga dengan program pembelajaran ini

“Kenapa saya bangga karena hal ini harus kita dorong, karena di era sekarang ini budaya digitalisasi lebih dominan. Jadi kita harus menekan juga budaya lokal, agar juga masyarakat tidak lupa dengan budaya sendiri,” ungkap Heriansyah.

Menurutnya, eksistensi kebudayaan lokal termasuk juga bahasa daerah sangat perlu ditonjolkan, terutama juga bagi para generasi muda. Hal ini dinilainya perlu dipertahankan oleh masyarakat. Seperti salah satunya Bahasa Kutai Ini. Apalagi, di wilayah Kutai ini terdapat kerajaan tertua di Indonesia.

“Jadi Bahasa Kutai yang masuk dalam kurikulum lokal ini merupakan langkah yang bagus,” paparnya.

Selain itu, Kutai Kartanegara jug akan masuk sebagai wilayah Ibu Kota Negara (IKN), sehingga bahasa Kutai ini diharapkannya dapat menjadi identitas IKN nantinya. Seperti Jakarta yang menggunakan kebudayaan betawi dan identik dengan bahasa betawi.

“Kita harus pertahankan kebudayaan kita ini, karena mengingat Kukar juga masuk bagian IKN sehingga identitas budaya kita ini perlu didorong,” pungkasnya. (***)

Bagikan:

Pos terkait