Borneo FC Maksimalkan Kuota Pemain Asing untuk Perkuat Lini Depan

Mariano Peralta akan menjadi tumpuan lini depan Borneo FC musim depan. (BFCS)

Samarinda – Jika musim lalu Borneo FC menumpuk pemain asing di lini tengah dan pertahanan. Musim ini, Pesut Etam melakukan hal sebaliknya—membuat gemuk lini depan dengan pemain mancanegara. Taktik yang tepat?

Borneo FC Samarinda merevolusi kebijakannya dalam penyusunan komposisi pemain musim ini.  Khususnya dalam hal perekrutan pemain asing. Disebut revolusi, karena perubahannya memang sedrastis itu.

Komposisi Pemain Asing Borneo FC Musim Lalu

PT LIB selaku operator Liga 1, musim lalu membuat regulasi baru. Setiap klub dibolehkan merekrut maksimal 8 pemain asing. Namun hanya boleh memainkan maksimal 6 asing pada waktu bersamaan.

Bacaan Lainnya

Menyikapi perubahan aturan ini, Borneo FC menggunakannya untuk memperkuat lini pertahanan. Kesuksesan duet Silverio-Lelis pada musim 2023/24 sepertinya membuat mereka ketagihan untuk kembali memasangkan 2 bek tengah asing.

Dan bukan lagi menduetkan, namun sekaligus membuat kompetisi internal pada posisi bek tengah semakin ketat. Pasalnya Pesut Etam merekrut 3 pemain asing untuk memperkuat lini pertahanan. Yakni Christophe Nduwarugira, Ronaldo, dan Gabriel ‘Botak’ Furtado. Dari 3 nama itu, hanya Chris yang konsisten tampil reguler. Sementara Ronaldo dan Botak harus bergantian mengisi pos Starting XI.

Tak hanya lini belakang, Borneo FC juga memaksimalkan kuota 8 asing untuk memperkuat lini tengah. Selain Kei Hirose, mereka juga merekrut 2 playmaker asal Brasil, yakni Berguinho dan Salinas. Dalam daftar tersebut, hanya Hirose yang menjadi pemain reguler. Bergi keluar masuk Starting XI, sementara Salinas belum sempat menjadi starter sebelum menderita cedera ACL di awal musim.

Sementara sisa 2 kuota dipakai untuk mengisi lini depan. Adalah Mariano Peralta dan Leo Gaucho yang terpilih mengisi barisan serang Pasukan Samarinda musim lalu. Dengan kata lain, 75 persen dari kuota tersebut dipakai untuk mengisi lini belakang dan tengah.

Perombakan di Tengah Musim Tak Ubah Persentase

Hingga Desember 2024, Borneo FC melaju lambat. Terlempar ke papan bawah, semakin jauh dari pacuan gelar juara. Di bursa transfer tengah musim –Januari 2025, manajemen melakukan evaluasi besar-besaran.

Dimulai dengan pemecatan pelatih (Pieter Huistra), lalu mencopot penyerang Leo Gaucho, yang mesti berstatus top skor klub saat itu, ia hanya mampu membuat sebiji gol dari 8 laga terakhirnya. Manajemen tidak puas, hingga menggantinya dengan Matheus Pato.

Namun masalah lebih besar terjadi di lini tengah. Pesut Etam tak memiliki playmaker meski Liga 1 sudah berjalan lebih dari setengah musim. Bergi kurang perform, Salinas cedera, playmaker lokal ikut-ikutan tidak maksimal. Manajemen mau tidak mau berburu playmaker pada bursa tengah musim.

Masalahnya lagi, mencari playmaker bagus di tengah musim itu sulit sekali. Borneo FC sudah melakukan pencarian selama sebulan penuh, namun hanya mendapatkan Kenzo Nambu yang tengah cedera.

Jadi pada Januari 2025 itu, Borneo FC menggaet penyerang dan gelandang baru. Menggantikan penyerang dan gelandang juga. Sehingga presentasenya masih sama, 75 persen asing untuk pos belakang dan tengah, 25 persen untuk penyerang.

Musim Baru, Taktik Baru

Tim kebanggaan Kalimantan Timur ini sepertinya telah belajar hal besar pada pengelolaan pemain asing, setelah (terbilang) gagal di musim pertama regulasi 8 asing. Mereka kini mengeksplorasi kebijakan baru. Yakni dengan mempertebal lini depan dengan pemain ‘impor’.

Setelah memperpanjang kontrak Mariano Peralta (FW), Pesut Etam lalu merekrut Maicon (FW), dan Joel Vinicius (FC). Ini pertama kalinya Pesut Etam memiliki 3 pemain asing di 3 pos serang.

Di lini tengah, mereka mencukupkan dengan 2 asing, yakni Hirose dan Juan Villa. Sementara di lini belakang, terdapat 2 pemain manca, yakni Christophe dan Mohammad Al-Husseini. Tujuh asing sudah, tersisa 1 lagi untuk memenuhi kuota. Dan rumornya, calon penggawa asing baru tersebut, juga berposisi sebagai penyerang.

Jika benar pemain terakhir adalah penyerang juga, maka total ada 4 pemain asing di lini depan. Artinya, sebanyak 50 persen dari kuota asing dimanfaatkan untuk menebalkan lini depan. Dari 25 ke 50 persen, sungguh perubahan yang drastis.

Dipengaruhi Kepergian Fano dan Terens?

Hingga berita ini tayang, Stefano Lilipaly dan Terens Puhiri belum juga muncul di sesi latihan. Namun klub belum memberi kepastian, apakah keduanya bertahan atau bakal hengkang. Berdasar rumor sih, bakal pergi untuk petualangan baru.

Kalau benar Fano dan Terens pergi, maka menumpuk pemain asing di lini depan adalah kebijakan yang sangat relevan. Karena pada 3 musim terakhir, Borneo FC mengandalkan Fano, Terens, dan Sihran di pos winger. Keterlibatan mereka sangat vital.

Terens Puhiri adalah pelari kencang, juga pakar pencari ruang tanpa bola. Sihran selain cepat, juga lincah dan berani menusuk ke kotak penalti lawan. Dan Fano adalah paket komplet, ia memiliki atribut playmaker-winger-dan goal getter sekaligus. Tanpa 2 dari 3 nama itu, Borneo FC Samarinda harus membuat pilihan praktis. Pilihannya 2, mencari pemain lokal yang setara dengan Fano dan Terens, yang mana ini sangat sulit. Atau berjudi dengan para penyerang asing, yang mana ini adalah pilihan paling rasional saat ini.

Pada akhirnya, perubahan taktik dalam penyusunan komposisi pemain ini sangat menarik. Berhasil atau tidak, hanya bisa dinilai pada akhir musim nanti. Tapi setidaknya ada satu hal yang perlu diapresiasi, yakni keberanian Borneo FC Samarinda dalam bereksplorasi! (has)

Bagikan:

Pos terkait