Duka di Perairan Kukar: Dua Bocah Berusia 11 dan 2 Tahun Meninggal karena Tenggelam di Muara Kaman dan Kembang Janggut dalam Dua Hari

Kiri : Kali Bening yang berlokasi di Kecamatan Muara Kaman dan Kanan : Sungai Belayan Kec. Kembang Janggut. (IST)

MUARA KAMAN – Serangkaian tragedi memilukan terjadi di wilayah perairan Kutai Kartanegara (Kukar) dalam kurun waktu 48 jam terakhir. Dua anak dilaporkan meninggal dunia akibat tenggelam di lokasi berbeda, yakni di Kecamatan Muara Kaman dan Kecamatan Kembang Janggut.

Meningkatnya debit air sungai dan kondisi tepian yang licin diduga menjadi faktor utama dalam kedua musibah tersebut.

Bacaan Lainnya

Tragedi Kali Bening Muara Kaman

Insiden pertama terjadi pada Sabtu (10/1/2026) di Desa Panca Jaya (SP 4), Kecamatan Muara Kaman. Seorang bocah laki-laki berusia 11 tahun yang masih duduk di kelas 5 SD ditemukan tidak sadarkan diri di kawasan Kali Bening, tepat di bawah jembatan kayu dekat area persawahan.

Anggota Redkar Kecamatan Muara Kaman, Muhammad Riski, mengonfirmasi bahwa korban ditemukan oleh warga yang melintas di sekitar jembatan.

“Saat ditemukan warga, korban sudah tidak sadarkan diri. Sempat dilarikan ke puskesmas terdekat, namun sayangnya nyawa korban tidak dapat tertolong,” ungkap Riski.

Balita di Kembang Janggut Terpeleset saat Bermain

Tak berselang lama, duka serupa menyelimuti warga Desa Perdana, Kecamatan Kembang Janggut. Seorang balita berusia dua tahun ditemukan meninggal dunia di aliran Sungai Belayan pada Sabtu sore sekitar pukul 17.45 Wita.

Kasi Trantib Kecamatan Kembang Janggut, Rifani, menjelaskan kronologi kejadian bermula saat korban sedang bermain pasir di depan rumah didampingi ibunya sekitar pukul 15.00 Wita.

Namun, saat sang ibu masuk ke rumah sebentar, korban diduga berjalan ke arah belakang rumah yang berbatasan langsung dengan sungai.

“Abang korban yang baru pulang dari arah hulu langsung melakukan pencarian. Saat dicek ke belakang rumah, korban ditemukan sudah dalam kondisi mengambang di pinggir sungai,” jelas Rifani.

Keluarga menduga korban terpeleset saat hendak mengambil air di sungai untuk bermain pasir. Kondisi air Sungai Belayan yang sedang naik dan arus yang cukup kuat membuat balita tersebut tak mampu menyelamatkan diri.

Imbauan Pengawasan Ketat

Dalam kasus di Kembang Janggut, pihak keluarga telah mengikhlaskan kejadian tersebut sebagai musibah murni dan menolak dilakukan visum. Jenazah korban dimakamkan di Dusun Ketenu pada Minggu (11/1/2026).

Atas rentetan kejadian ini, pemerintah kecamatan dan relawan kebencanaan mengeluarkan imbauan keras kepada para orang tua, terutama yang bermukim di sepanjang bantaran sungai.

“Kami mengimbau masyarakat untuk meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak. Kondisi cuaca ekstrem saat ini membuat debit air sungai meningkat drastis dan arus menjadi lebih berbahaya,” pungkas Rifani.

Laporan: Nur Fadillah Indah/mediaetam.com

Bagikan:

Pos terkait