Kandungan Asam di Tanah Jadi Persoalan Pertanian Desa Kota Bangun I

Kepala Desa Kota Bangun I, Kec Kota Bangun, Kukar, Nur Rohim (Dok. Kades Kota Bangun I)
Kepala Desa Kota Bangun I, Kec Kota Bangun, Kukar, Nur Rohim (Dok. Kades Kota Bangun I)

Mediaetam.com, Kukar – Sektor pertanian menjadi salah satu sektor penggerak perekonomian masyarakat di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Salah satunya Desa Kota Bangun I, Kecamatan Kota Bangun yang mayoritas penduduk desanya, berprofesi sebagai petani.

Kepala Desa (Kades) Kota Bangun I, Nur Rohim mengatakan Desa Kota Bangun I ini merupakan daerah transmigrasi yang tidak terlepas dari Agraris (kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang dilakukan manusia untuk mengelola lingkungan hidupnya) seperti lombok, tomat, semangka hingga ke perkebunan sawit sebagai sumber penghasilan masyarakat.

Bacaan Lainnya

“Karena mayoritas masyarakat di sini berprofesi sebagai petani yang sumber pendapatannya rata-rata dari pertanian dan perkebunan,” ucap Kepala Desa Kota Bangun I, Nur Rohim. Jumat, (19/5/2023).

Dikatakan Rohim, luas lahan persawahan di desa tersebut mencapai 150 hektar terdapat, yang mana terdapat 128 hektar lahan sawah produktif, dan ada lahan seluas 32 hektar yang sudah vakum selama beberapa tahun.

“Lahan persawahan tersebut itu terbagi atas 4 hamparan lahan. Dengan dinaungi 12 kelompok tani,” ujarnya.

Kendati demikian, di desa tersebut mengalami kesulitan dengan kadar asam tanahnya, dan saat ini para petani di desanya sangat membutuhkan pupuk dolomit atau kapur untuk menetralisir asam.

“Maka dari itu yang kami butuh itu pupuk dolomit. Saat ini tengah kami upayakan dan terus komunikasi dengan Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak). Kami juga melakukan pengujian kadar PH tanah di lahan persawahan di Desa Kota Bangun I, yang kemudian didapati PH tanah ada di kisaran 4,3 dan 4,7,” jelasnya.

Rohim mengaku, sejak 2020 Pemerintah daerah rutin memberi bantuan kepada para petani di desanya berupa 2 paket pupuk NPK dan Urea dan bantuan Alsintan, juga 8 unit traktor dan 6 alat perontok padi berukuran kecil.

“Kami berharap ke depannya ada pendampingan dari tenaga ahli, dalam mengaplikasikan pupuk dan penanggulangan hama. Kami ingin berusaha menggunakan pupuk organik dibanding ketergantungan dengan pupuk kimia, Karena di Desa Kota Bangun I, selain bertani juga ada peternakan,” pungkasnya. (Indah Hardiyanti)

Bagikan:

Pos terkait