Fabio Lefundes dan Carlos Perreira sama-sama berhasil menciptakan taktik jitu pada duel Borneo FC vs Madura United pekan lalu. Namun eksekusi di lapangan berakhir kacau untuk kedua tim akibat faktor teknis dan non teknis. Pertandingan yang harusnya berjalan seru, justru berjalan tak tentu. Mari kita bahas.
Oleh: Ahmad A. Arifin (Dang Tebe) –Pengamat Borneo FC
Madura United memulai laga dengan formasi 4-3-3, begitu juga dengan Borneo FC Samarinda. Tapi ada perbedaan mencolok yang dihadirkan Fabio Lefundes, yakni memainkan dua penyerang asingnya bersamaan, yakni Joel Vinicius dan Douglas Coutinho.
Susunan ini sebenarnya sempat ada pada awal musim, di mana Douglas lebih ditugaskan menjadi penyerang sayap. Taktik itu tidak berjalan baik, sehingga Fabio merevisi menjadi keduanya bermain bergantian di pos penyerang tengah.
Nah, kali ini, mereka kembali bermain bareng, tapi dengan format yang berbeda. Yaitu keduanya sama-sama bermain sebagai penyerang tengah. Dengan Douglas lebih banyak berada di pos nomor 10.
Singkatnya, itu adalah taktik Anti Madura United ala Fabio Lefundes.
“Kami memperkirakan apa yang akan dilakukan Madura di Segiri. Salah satunya pasti counter attack. Karena mereka punya pemain dengan kecepatan bagus di lini depan. Lalu kita tahu bahwa mereka adalah tim yang bagus memanfaatkan set piece,” ujarnya usai laga.
Gagal Manfaatkan Momentum Awal Babak
Saat babak pertama dimulai, Borneo FC langsung menyengat. Memiliki setidaknya 2 peluang emas. Namun gagal dikonversi menjadi gol. Sebuah awal yang menjanjikan. Kegagalan unggul cepat bagi tuan rumah, dimanfaatkan dengan baik oleh Laskar Sape Kerab.
Mereka, dengan begitu luar biasa, ganti memborbardir pertahanan Madura. Saya dari tribun sampai geleng-geleng, dan berucap kepada rekan sesama awak media, “Gila Madura! Baru kali ini ada tim yang berani nyerang total di Segiri.”
Tekanan kuat itu membuat lini tengah dan belakang Borneo kelabakan. Akibatnya, Madura mendapat lebih dari 3 kali peluang besar. Yang semuanya dimentahkan oleh Nadeo Argawinata.
Sangat jelas di sini, kedua pelatih sama-sama mengincar gol cepat atau memimpin satu gol lebih dulu. Kemudian bermain dengan strategi awal; Madura United tampak ingin main bertahan total setelah unggul. Sementara Borneo berencana memanfaatkan kelonggaran lini belakang Madura ketika mereka unggul.
Apa yang terjadi? Gagal semua. Wkwkwk.
Babak pertama berakhir dengan skor kacamata. Pujian patut diberikan pada Madura, karena setelah melewati 10 menit awal, mereka sama sekali tak memberi celah bagi Borneo menciptakan peluang besar. Sama sekali tak ada kesempatan mencetak gol bagi tim tuan rumah.
Ubah Strategi demi Raih Poin
Pelatih Madura, Carlos Perreira sadar, mereka tak bisa terus bermain trengginas sampai akhir laga. Borneo tentu punya rencana cadangan, belum lagi … teriakan 8 ribuan pendukung tuan rumah dari tribun sangat pekik. Cepat atau lambat, kebisingan itu akan mengubah mentalitas pemain. Entah pemain Borneo yang tiba-tiba tersengat, atau pemain Madura yang mendadak kelu.
Karenanya, Perreira mengintruksikan pemainnya untuk bermain lebih dalam. Dari 4-3-3, mereka mengubah diri menjadi 5-3-2/5-4-1. Bertahan total sambil mencari kesempatan serangan balik cepat.
Perreira tentu tahu, Lefundes bisa menebak arah berpikirnya. Namun ia percaya pemainnya bisa tampil solid untuk setidaknya memaksakan hasil imbang. Atau bahkan unggul lewat skema serangan balik.
Dan benar saja, permainan satu arah terjadi. Madura bertahan total, Borneo menyerang total. Hampir satu jam pertandingan, Perreira masih unggul dalam perang taktik ini. Karena kesolidan lini bertahan timnya dengan mudah meredam berbagai upaya serangan tuan rumah.
Bermain dengan 2 Gelandang
Momen balik hadir mulai menit ke-56. Kei Hirose yang bermain sebagai gelandang tengah, ditarik karena tak mampu lanjutkan pertandingan (demam tinggi). Diganti dengan Maicon yang posisi aslinya adalah penyerang sayap.
“Begitu selesai babak pertama, kami masuk ruang ganti, lalu merencanakan beberapa hal untuk menyesuaikan permainan mereka. Sayangnya begitu bermain di babak kedua, ada beberapa hal yang belum bisa disesuaikan.”
“Karena itu, saya memasukkan Maicon karena dia punya kemampuan umpan silang yang bagus. Kami mencoba mengirim lebih banyak umpan ke kotak penalti untuk disambut Joel atau Douglas,” kata Lefundes.
Hadirnya Maicon sedikit mengurangi beban Peralta dan Juan Villa yang sepanjang babak bergantian menyisir sisi lapangan, bersama Fajar dan Caxambu. Sayangnya, tak ada dampak instan.
Sampai sini, Borneo mencoba peruntungan lewat perubahan taktik menjadi 4-2-4. Di lini tengah hanya menyisakan Rivaldo dan Juan Villa. Tapi itu tak membuat Madura memenangkan pertarungan lini tengah, karena tekanan yang dihadirkan Pesut Etam dari segala sisi. Terutama dari sisi sayap.
Melihat situasi mulai kurang baik, Madura melakukan 2 pergantian. Taufany Muslihuddin yang merupakan gelandang serang, masuk dan bermain sebagai bek sayap. Sementara Alessandro (penyerang) masuk menggantikan Paulo Sitanggang (gelandang).
Susunan pemain sudah acak adut, pertanda bahwa rencana awal dari kedua tim tidak berjalan. Dan kini memasuki fase perjudian. Demi apa? Poin.
Faktor Non Teknis
Hingga satu jam lebih pertandingan, permainan masih relatif sama. Borneo menyerang tanpa tujuan, Madura mendapat beberapa peluang bagus lewat serangan balik, namun digagalkan Nadeo. Scene ini terus berulang.
Deadlock-nya taktik dari kedua tim bukan hanya disebabkan oleh faktor teknis. Namun ada hal lain yang ikut meyumbang kesemrawutan.
Dari sisi tuan rumah, beberapa pemain sedang dalam kondisi kurang fit, sehingga under perform. Sedangkan tim tamu berhasil mengoyak mentalitas Borneo lewat permainan ulur waktunya.
Jelas sekali terlihat, penggawa Pesut Etam terjebak dalam permainan mental Madura. Mereka tersulut emosinya, menyebabkan alur permainan yang sudah kacau, menjadi lebih kacau.
Beruntung, suporter di tribun tahu apa yang terjadi. Setiap beberapa menit, mereka mendadak menggemuruhkan stadion untuk memberi energi ekstra ke pemain. Chant dan bunyian yang menjatuhkan mental lawan juga terus mereka lakukan. Ini situasi yang cukup langka di Segiri musim ini.
Aksi guling-guling vs auman suporter. Sebuah pertentangan yang membuat tensi pertandingan naik. Pelanggaran-pelanggaran tak perlu terjadi. Friksi dari bench kedua tim yang membuat wasit harus mengeluarkan masing-masing 1 kartu kuning untuk manajer Borneo dan asisten pelatih Madura.
Penalti Penentu Segalanya
Pada menit ke-71, Madura mendapatkan peluang matang. Duel satu lawan satu terjadi antara penyerang Madura dan kiper Borneo. Yang kita sama-sama tahu, berakhir dengan hukuman penalti dan kartu kuning karena Nadeo Argawinata menjatuhkan lawannya secara tak sengaja.
Meski gagal mencetak gol lewat aksi serangan balik cepat tadi, Madura tetap punya peluang 99 persen unggul lewat sepakan penalti. Sang kapten Jordy Wehrmann mengambil momen penentu itu. Satu tarikan napas dalam, menendang, tertepis! Astaga, Nadeo secara gemilang mampu menahan sepakan keras Wehrmann.
Suasananya langsung aneh. Laskar Sape Kerab, beberapa detik sebelumnya, yakin betul bahwa mereka tak hanya akan membawa 1 poin, tapi 3 poin ke rumah. Sebaliknya bagi tuan rumah, sudah terbanyang kekalahan pertama musim ini akhirnya tiba, sialnya itu terjadi di rumah sendiri.
Tapi aksi beberapa detik Wehrmann dan Nadeo mengubah asumsi itu 180 derajat.
Tim tamu kembali menata permainan, terus memprovokasi lewat aksi guling-guling. Setidaknya skenario pulang bawa 1 poin masih bisa terus berjalan. Toh sampai penalti itu terjadi, Borneo belum kunjung mendapat peluang besar juga.
Sebaliknya, Borneo akhirnya bangun dari tidurnya. Mereka seperti mendapat pengampunan dari malaikat pencabut nyawa. Sehingga tak boleh disia-siakan begitu saja.
“Sejujurnya, aksi Nadeo yang menggagalkan penalti adalah momentum di mana akhirnya kami bisa bangkit,” kata Lefundes usai pertandingan. Mengonfirmasi bahwa kebangkitan baru mereka dapatkan setelah momen krusial tersebut.
Utak-atik Taktik Lagi
Fabio Lefundes tak tinggal diam. Melihat muka pemainnya yang kembali cerah karena teraliri darah. Ia langsung merespons dengan pergantian pemain. Fajar ditarik digantikan Ezzy Buffon, sesama bek kanan. Caxambu ditarik digantikan Sihran, bek sayap diganti penyerang sayap.
Praktis kini Borneo hanya menyisakan 3 bek (2 CB, dan 1 RB), serta memiliki 3 penyerang sayap, yakni Peralta, Maicon, dan Sihran. Bagaimana mereka bermain? Maicon bermain lebih ke belakang menggantikan peran Caxambu.
“Maicon bermain sebagai bek kiri agar kami bisa lebih menyerang,” jelas Lefundes.
Perubahan taktik drastis ini dikombinasikan dengan rencana awal. Kalian tentu masih ingat tentang pembahasan Joel dan Douglas bermain bersama sebagai penyerang tengah bukan?
“Sejak awal, kami sudah merencanakan agar Joel dan Douglas bermain bersama dan tetap berada di kotak penalti. Agar tercipta ruang di sisi lain yang bisa kita manfaatkan.”
Penjelasannya begini, Lefundes menginginkan 2 hal dari duet penyerang tengah ini. Pertama, agar mereka memiliki lebih banyak opsi penerima umpan silang. Karena saat Madura bermain bertahan total, melakukan banyak umpan silang dan tembakan jarak jauh adalah opsi paling masuk akal.
Kedua, Lefundes ingin 2-4 pemain Madura tetap di dalam kotak penalti untuk menjaga 2 penyerangnya. Agar ada ruang gerak di area lainnya untuk pemain Pesut Etam mengalirkan serangan.
Sebuah Gol Akhirnya Tiba
Pada menit ke-89, Peralta berduet dengan Maicon di sisi kiri serangan Borneo. Peralta mengirim umpan terobosan ke Maicon yang melakukan penetrasi, bola lalu diteruskan dengan umpan silang datar. Douglas dan Joel ada di sana, bersama beberapa bek Madura. Kejadiannya begitu cepat, tapi di tengah pressing ketat bek Madura, Douglas yang lebih dari 80 menit tidak memiliki andil signifikan dalam permainan, tiba-tiba menjadi pahlawan kemenangan lewat sentuhan akhir di muka gawang Aditya Harlan.
Itu adalah gol satu-satunya yang terjadi pada laga berdurasi 103 menit tersebut. Madura pulang dengan tangan hampa, Borneo FC Samarinda meraih kemenangan kesebelasnya secara beruntun.
Ketidakpuasan Pendukung
Meski senang timnya menang, para pendukung mencurahkan ketidakpuasan mereka pada aksi penggawa Pesut Etam di media sosial pascalaga. Mereka sama sekali tidak terkesan dengan penampilan Borneo. Menyebut banyak pemain under perform. Menuntut tim kesayangan tampil lebih baik di laga mendatang. (has)








