Menilik Persiapan Borneo FC di 3 Pekan Sebelum Kick Off Super League; Mulai Utak-atik Taktik Sambil Genjot Fisik

FOKUS: Para pemain sangat serius menjalani sesi gim internal di TC Jogja. (BFCS)

Kehangatan suasana makan malam di sebuah restoran di Jogjakarta, tak lagi terasa pada sesi latihan sore itu. Padahal baru beberapa jam berlalu. Seluruh pemain Borneo FC hanyut dalam adrenalin tingkat sedang. Menggunakan otak dan otot semaksimal mungkin. Menjalani  latihan dengan baik. Dalam pantauan santai El Presidente, semua orang di tim tenggelam dalam satu perasaan –fokus!

Di pra-musim kali ini, seperti biasanya, Borneo FC Samarinda memilih Jogjakarta sebagai tempat untuk melaksanakan Training Camp (TC). Ketika beberapa tim Super League (sebelumnya Liga 1) menjajal TC di luar negeri, untuk mendapatkan level pramusim dan gengsi yang lebih tinggi. Pesut Etam tak merasa perlu ikut-ikutan.

Bacaan Lainnya

Prinsip mereka sederhana, TC di tempat yang efektif dari sisi kualitas lapangan latihan dan fasilitas pendukung, mudah mendapat lawan tanding dalam laga uji coba, serta efisien dari sisi biaya.

Jadwal Padat di TC Borneo FC

Di waktu normal, para pemain bisa melakukan banyak hal secara pribadi maupun dalam kelompok kecil di luar jam latihan dan pertandingan. Para pemain yang berada di mes, biasanya memakai waktu luang untuk jalan-jalan di dalam kota, memainkan olahraga di lantai tiga, ada pula yang hanya bergelimpangan di kasur sambil menatap gawainya. Entah untuk menonton, bermain gim, ataupun melakukan panggilan video dengan orang tercinta.

Sementara yang mendapat fasilitas rumah ataupun sudah memiliki rumah sendiri. Punya kegiatan yang lebih beragam. Paling banyak sih, beraktivitas dengan keluarga kecilnya.

Namun di TC, semua pemain dijauhkan dari ‘distraksi individu’. Mereka tidur di hotel yang sama. Makan pada jam dan tempat yang sama. Berangkat dan pulang latihan bersama-sama, mengendarai kendaraan yang sama. Di pagi hari, Christope Nduwarugira membuka mata karena dibangunkan rekan setimnya. Bukan bisikan selembut nada notifikasi ‘shoooopeee’ dari istri tercinta yang mengatakan, “Mas Chris, bangun. Pasangkan galon, dong.” Juga bukan melihat Sore, yang saat bangun,  Chirs kaget dan bilang, “Who are you?”

Selama 24 jam sehari, mereka ‘dipaksa’ menjalani aktivitas khas atlet secara bersama-sama, dengan tujuan meningkatkan chemistry.

Manajer Farid yang terlihat sering santai, juga dipaksa sibuk melakukan koordinasi dengan tim pelatih untuk mengatur semua agenda –dari latihan hingga urusan makan. Tim media, medis, fisio, hingga kit man, jangan kira mereka sedang berlibur. Sibuk banget juga, Bosku!

Masuk ke Persiapan Taktik

Minggu sore kemarin, Pelatih Fabio Lefundes sibuk menggerakkan tangannya pada papan putih –lebih seperti clip board berukuran sedang di hadapan pemain. Ia menerangkan rangkaian taktik, dari taktik dasar yang merupakan gambaran besar. Hingga perkara transisi, bertahan, menyerang, dan menyerang balik.

Penampilannya santai, memakai kaus latihan berwarna hijau, memakai dalaman offside berwarna jingga, dan topi berlogo B yang bagian visor-nya melengkung. Tapi Lefundes tidak pernah benar-benar santai saat sedang mempresentasikan taktik –sangat serius.

Seluruh pemain menyimak penuh. Mereka semua tahu, ini adalah fase terpenting dalam pra-musim. Karena hanya di waktu ini lah, para pemain memiliki kesempatan menyimak dan menjalankan rancangan taktik dasar dari sang pembesut anyar. Kalau kompetisi sudah berjalan, setiap pekannya, mereka sudah harus fokus pada taktik khusus yang dibuat berdasarkan kecenderungan bermain tim lawan yang berbeda setiap pekannya.

Menjadi lebih penting, karena pemain yang mampu menjalankan taktik dasar pelatih –baik di sesi latihan maupun laga uji coba mendatang. Ia yang punya peluang besar mendapat menit bermain.

Dan waktu mereka untuk mencerna keinginan pelatih tak panjang lagi. Dalam beberapa hari ke depan, mereka sudah harus melakukan laga uji coba. Di momen ini, bukan hanya pemahaman taktik yang dinilai. Tapi juga kesiapan fisik serta kekompakan. Ini adalah pertarungan dengan waktu yang sesungguhnya.

Latihan Taktik Sembari Genjot Fisik  

“Tim sudah lengkap di sini, jadi kami sudah meningkatkan pelatihan fisik dan taktikal,” kata Lefundes pada seorang pemuda dari divisi media Borneo FC. Ia dibarengi Pedro selaku penerjemah, sehingga bisa leluasa berbicara dalam bahasa ibunya. Tidak perlu menggunakan bahasa Inggris atau Indonesia yang perbendaharaan katanya masih minim.

Itu sudah menjelang Magrib, lantunan Quran terdengar lantang di pengeras suara eksternal dari tempat ibadah, tak jauh dari tempat latihan.

Lefundes sebenarnya berharap, pada pekan pertama latihan, seluruh pemain –baik lokal maupun asing sudah hadir semua. Namun baru benar-benar komplet setelah memasuki pekan ketiga. Ini menjadi PR bagi tim pelatih.

“Kondisi fisik pemain berbeda-beda, karena tidak bergabung ke tim dalam waktu bersamaan, tapi semoga saat kompetisi nanti, seluruh pemain dalam kondisi OK,” harapnya.

Tapi mengeluh tak akan menyelesaikan masalah. Ia pun merancang sesi latihan ‘sembari’. Ya, sembari menggenjot fisik, menu latihan taktik pun mulai diintenskan.

Uji Coba Jadi Momen Evaluasi Awal

Dalam beberapa hari ke depan, Pasukan Samarinda akan melawan beberapa tim dalam rangka uji coba. Seluruh pemain akan ‘merumput’ di masing-masing babak. Tim pelatih ingin melihat sejauh mana perkembangan mereka.

Sebelum itu, Lefundes semakin detail dalam perbincangan taktikal. Khususnya untuk para pemain asing anyar. Mereka diberi informasi seluas-luasnya tentang gambaran pertandingan uji coba, dan seberapa dekat levelnya dengan pertandingan sebenarnya di kompetisi mendatang.

“Tujuan kami dalam beberapa pertandingan (uji coba) ini supaya pemain debutan (Super League) bisa melawan tim yang tak biasa mereka hadapi. Kami telah memberikan beberapa informasi, dan para pemain lama ikut membantu dalam prosesnya, sehingga mereka bisa bekerja sama.”

“Saat pertandingan uji coba nanti, bisa saja berbeda karena setiap laga selalu punya potensi kejutan. Dan setiap pertandingan akan berbeda, jadi kami memberikan beberapa opsi (taktik) yang berbeda kepada pemain,” jelas eks Persita.

Menuju Laga Pertama yang Maha Penting

Kemenangan di laga pertama kompetisi memang bukan segalanya. Tak bisa menjadi patokan akan finis di posisi berapa pada akhir musim. Bahkan sangat jamak terjadi, di 4 pekan awal, justru tim-tim papan tengah yang on fire duluan. Sementara para jagoan baru beraksi penuh dari pekan kelima hingga sepuluh.

Namun bagi Borneo FC dan Lefundes secara pribadi, laga pertama melawan Bhayangkara Lampung begitu penting. Pasalnya pertandingan itu akan menjadi laga pembuka Super League. Meski bukan laga yang dijadikan seremoni pembuka, tetap saja, ratusan ribu pasang mata akan menyaksikannya.

Terlebih, laga itu akan berlangsung di Stadion Segiri. Theater of Hell yang musim lalu tidak begitu ‘hell’ bagi tim tamu. Bagi Pesut Etam, mengembalikan keangkeran Segiri jadi prioritas. Karena di stadion ini lah, mereka bermain di hadapan ribuan pendukung setia. Borneo FC tentu selalu ingin memberikan kebahagiaan bagi mereka yang telah meluangkan waktu dan biaya.

Sedangkan untuk Lefundes, ini akan menjadi laga penilaian. Ia datang dengan sedikit sambutan. Trust issue.

Meski sekarang, para pendukung sudah berdamai dengan keadaan. Mulai mendukung Lefundes. Namun penilaian sebenarnya akan dimulai dari laga pertama kontra Bhayangkara. Kalau menang, Lefundes akan memenangkan hati penggemar.

Namun pria Brasil berusia 52 tahun tahu, Bhayangkara bukan lawan mudah. Tim promosi itu memiliki materi pemain yang lebih mengkilap.

“Pertandingan pertama sangat penting, kami tahu itu akan menjadi pertandingan yang berat. Lawan kami, Bhayangkara, adalah tim yang lumayan bagus.”

“Bhayangkara sudah kompak dan memiliki materi pemain yang bagus dan ada beberapa pemain baru berkualitas juga. Tapi kita harus mendapat 3 poin karena bermain di kandang. Semoga kami bisa mendapat dukungan penuh dari masyarakat Samarinda,” pungkasnya. (has)

Bagikan:

Pos terkait