Perekrutan Juan Villa Jadi Penebusan Kesalahan Borneo FC Musim Lalu?

jUAN VILLA
Kompilasi foto Juan Villa dan para playmaker Borneo FC sebelumnya. (bocahbola/bfcs/ist)  

SAMARINDA – Musim lalu Borneo FC mendapat pelajaran besar. Gagal mendapatkan playmaker yang ‘cocok’, membuat tim terpontang-panting mengejar target di liga. Berguinho, Salinas, dan Kenzo Nambu didatangkan untuk menjadi dirigen permainan, tapi tak satupun yang memberi dampak signifikan. Kini, Pesut Etam mendatangkan Juan Villa, yang lebih pantas disebut ‘perjudian’. Apakah  Colombianos berusia 25 tahun tersebut mampu menjadi jawaban?

Suatu siang pada pertengahan tahun 2021. Ahmad Amiruddin, mantan penyerang PSM yang pensiun di Borneo FC 3 tahun sebelumnya. Sedang bersantai di ruang media Pesut Etam, di suatu ruangan di Stadion Segiri Samarinda.

Bacaan Lainnya

Ia baru saja pulang dari kursus pelatihan. Meningkatkan lisensinya dari B menjadi A. Sejak pensiun, Amir memang langsung menjadi staf pelatih Borneo FC. Gayung bersambut, manajemen Borneo FC, selain memberi pekerjaan, juga terus ‘menyekolahkannya’. Di tahap itu, ia sudah bisa menjadi pelatih kepala di Liga 2.

Ah, tapi kisah ini bukan tentang karier Amir. Melainkan apa yang ia bahas di hari itu. Dari banyaknya cerita dari hari-harinya di kursus lisensi.

Dia bilang, “Tidak banyak pemain Indonesia yang bisa menjadi gelandang serang yang kuat di kotak 14.”

“Kita justru kebanyakan pemain sayap yang mengandalkan kecepatan dan kelincahan.”

“Padahal pemain yang kuat di Kotak 14 itu penting sekali. Karena bola bisa diarahkan ke berbagai sisi. Kalau tidak ada pemain dengan atribut itu, gelandang tengah begitu dapat bola, langsung arahkan ke pemain sayap, habis itu crossing, tidak banyak variasi. Susah mau langsung ke striker karena tidak ada jembatannya.”

Kurang lebih begitu yang ia katakan. Dan setelah dipikir-pikir, ternyata tepat sekali. Bahkan belakangan, setelah slot asing bertambah banyak. Gelandang serang asing pun, jarang yang kuat di Kotak 14.

Penjelasan

Kuat: Mampu menahan atau menguasai bola, menggiring, dan mengoper ke banyak sisi

Kotak 14: Area di depan kotak penalti bagian tengah.

 

Wiljan Pluim Adalah Contoh Sempurna

Tolong koreksi kalau salah, tapi satu-satunya gelandang Borneo FC yang kuat di area 14 hanyalah Wiljan Pluim. Dia memang tidak lincah dan cepat. Tapi badannya ‘keras’, tidak gampang disenggol, tidak mudah direbut bolanya, dan fasih mengalirkan bola ke samping maupun depan.

Nama Joni Bustos sebenarnya menempati urutan teratas, dalam daftar playmaker terbaik Borneo FC versi fans. Tapi Joni hanya memenuhi unsur ‘kuat melindungi bola, dribbling, dan akurasi umpan’. Untuk melakukan aksinya, serta mengalirkan bola ke penyerang, Joni lebih sering menjemput bola ke bawah (Kotak 7, 8, 9), lalu mengeksplorasi gerakan ke area 10, 11, 12 yang minim pengawalan.

Joni Bustos tak terlalu suka berlama-lama bermain di Kotak 14, karena area itu memang padat. Banyak pemain lawan di situ. Sulit untuk bergerak.

Maka perbedaan terbesar dari kedua playmaker terbaik Borneo FC itu ialah:

Wiljan Pluim memanfaatkan ruang paling sempit agar rekannya membuka ruang bergerak dan tembak.

Bustos mencari bola, memanfaatkan ruang terbuka untuk menari dan mengalirkan bola.

Mana yang lebih efektif? Wiljan Pluim. Saat Pluim menjadi starter, Borneo FC mendapat 10 kemenangan dan 2 hasil imbang. Tanpa kekalahan!

Dua laga ketika Pluim masuk di akhir babak kedua dalam kondisi tidak fit, Pesut Etam alami 2 kekalahan. Dan 6 laga tanpa keterlibatan Pluim, Pasukan Samarinda mend

apat 1 kemenangan, 1 imbang, dan 4 kali kalah secara beruntun.

Maka keputusan manajemen merekrut Pluim di paruh kedua musim 2023/24 adalah keputusan paling brilian yang pernah mereka ambil.

Playmaker Bukan hanya Gelandang Serang

Gelandang serang memang identik dengan playmaker. Karena tugasnya selaras, mengatur serangan. Namun playmaker sebenarnya bisa diambil perannya oleh pemain dari berbagai macam posisi. Mulai gelandang tengah, gelandang bertahan, hingga penyerang sayap.

Dalam konteks Borneo FC, Stefano Lilipaly adalah pemain yang paling lihai memerankannya. Ketika masih berduet dengan Bustos, keduanya berbagi peran dalam mengkreasikan peluang.

Saat Bustos (dan Pato) hengkang, Borneo FC praktis tak memiliki gelandang serang bertipe playmaker serta penyerang tengah handal. Di saat itu lah, Fano harus menggendong tim seorang diri. Dia yang mengkreasikan peluang, dia yang bertugas jadi tukang asis, dia pula yang menjadi pencetak gol.

Maka kedatangan P

luim benar-benar membuat Fano terbantu. Ia memiliki tandem yang luar biasa, dan lihat saja bagaimana mereka membawa tim konsisten di peringkat pertama Liga 1.

Perjudian Gagal, Semusim Tanpa Playmaker

Era Bustos dan Pluim telah berlalu. Awal musim lalu, Borneo FC mendatangkan Berguinho dan Lucas Salinas, dua pemain asing yang diharapkan berebut tempat di pos gelandang serang sekaligus playmaker. Terens Puhiri dan Ikhsanul adalah pemain lokal yang disiapkan untuk persaingan di posisi tersebut.

Sayangnya, perjudian atas perekrutan Bergi dan Salinas, bisa dibilang rungkad. Bergi lebih beratribut sebagai gelandang tengah dan penyerang sayap, alih-alih gelandang serang. Lucas Salinas mendapat cedera ACL sebelum mampu beradaptasi dengan tim. Terens dan Ikhsanul tak mampu memberi perbedaan.

Stefano Lilipaly? Dia menghilang. Setelah cedera yang mulai di dapat pada akhir musim 2023/24, Fano belum kembali ke performa aslinya, lalu menderita sejumlah cedera lagi.

Manajemen panik, bagaimana mungkin sebuah tim berjalan tanpa playmaker. Maka pada bursa transfer tengah musim, mereka mendatangkan Kenzo Nambu yang sedang mengalami cedera, persis di menit-menit akhir penutupan bursa transfer.

Kenzo sejatinya bukan pilihan utama, tapi pada akhirnya hanya dia yang tersedia. Mengingat, playmaker bagus mana yang tersedia di bursa transfer tengah musim, kan?

Setelah pulih, Kenzo mulai mengisi lini tengah Pesut Etam. Namun lagi-lagi, kontribusinya tidak signifikan.

Bursa transfer adalah ‘perjudian’, terlepas sudah memakai metode sport science. Musim lalu, Borneo FC telah melakukan usaha maksimal, dengan mendatangkan 3 playmaker asing di 2 bursa transfer. Namun tetap saja tak mendapat akhir yang baik.

Juan Villa Adalah Penebusan?

Musim telah berganti. Tak ada lagi nama Bergi, Salinas, dan Kenzo. Posisi playmaker kosong melompong, dengan asumsi Ikhsan masih tak memberi kejutan. Serta Fano yang hingga hari ini diduga belum tentu stay (entahlah).

Klub yang bermarkas di Stadion Segiri tersebut, kemudian memilih gelandang muda asal Kolombia, Juan Felipe Villa. Sang pemain sebelumnya telah mencatat 100 penampilan resmi di Eropa dan Amerika Latin, dengan 15 gol dan 9 asis.

Jika dia bermain ala Amerika Latin, bisa saja dia seperti Bustos. Atau jika memakai ala Eropa, dia bisa seperti Pluim. Atau mungkin … bisa menjadi lebih baik dari keduanya. Apapun akhirnya, kita hanya berharap semoga kali ini, Borneo FC tak lagi kalah berjudi. (has)

Bagikan:

Pos terkait