TENGGARONG – Satpolair Polres Kukar meminta para atlet dayung yang berlatih di Sungai Mahakam agar lebih memperhatikan keselamatan. Selain arus sungai yang kadang kuat, kawasan tersebut juga merupakan habitat satwa liar seperti buaya.
Kasat Polairud Polres Kukar, AKP Benedict Jaya, mengatakan pihaknya sudah beberapa kali mengingatkan para atlet, terutama soal penggunaan pelampung atau life jacket.
“Adik-adik atlet dayung ini sering latihan bahkan tepat melewati depan pos kami. Kami sudah pernah imbau, terutama soal safety, karena mereka kadang nggak pakai pelampung,” ujarnya, Jumat (28/11/25).
Menurutnya, life jacket menjadi perlengkapan paling dasar untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk. “Kami minta mereka pakai safety itu. Kita kan khawatir kalau tiba-tiba tenggelam atau apa. Kalau soal hewan buas, namanya juga sungai, itu habitatnya buaya. Kita nggak bisa salahin buayanya,” jelasnya.
Benedict menambahkan, pengawasan terhadap atlet dayung sebenarnya bukan ranah penuh Polairud, namun pihaknya tetap mengingatkan jika bertemu di lapangan.
“Prinsipnya, kami selalu mengimbau. Pernah juga mereka kelelahan dan sempat singgah di dermaga kami. Waktu itu langsung kami ingatkan lagi soal life jacket,” bebernya.
Hanya Bisa Latihan di Mahakam
Soal area latihan yang lebih aman, para atlet disebut sudah menjelaskan bahwa rute panjang hanya ada di sekitar Mahakam. “Mereka bilang kalau di Kukar memang nggak ada rute panjang selain di sini. Biasanya mereka latihan intens di Pulau Kumala, antara Jembatan Repo-repo. Di sana aktivitas pelayaran lebih sedikit, jadi relatif lebih aman,” tambahnya.
Meski begitu, hingga kini belum ada permintaan resmi dari pengurus olahraga dayung untuk pengawasan khusus dari Polairud. “Kalau pengawasan khusus sih belum pernah. Kami juga belum koordinasi dengan ketua Ikatan Olahraga Dayung. Kami hanya bisa mengimbau saja, ya tugas kami sebatas keamanan perairan,” katanya.
Pengawasan rutin seharusnya lebih banyak dilakukan oleh KONI atau pengurus cabang olahraga dayung itu sendiri. “Menurut saya, pengawasan lebih ke KONI atau pengurus dayungnya,” jelas Benedict.
Selama ini, Polairud belum pernah mendapati insiden berbahaya terkait atlet dayung selain kelelahan saat arus deras. Mereka biasanya hanya singgah di dermaga apung Polairud untuk beristirahat sejenak.
Ke depan, Polairud memastikan imbauan keselamatan akan terus disampaikan, bukan hanya ke atlet saja, tetapi juga ke masyarakat umum. “Kami nelayan pun sering kami ingatkan. Kami bahkan sering bagikan life jacket gratis. Tapi kadang mereka nggak mau pakai, bilangnya bisa berenang. Itu yang susah,” pungkasnya.
Penulis: Nur Fadillah Indah/mediaetam.com








