
Mediaetam.com, Berau – Pemerintah Daerah Kabupaten Berau akhirnya buka suara dan memberi klarifikasi atas video sambutan Bupati Berau berdurasi 1 menit 40 detik, pada saat Idulfitri, yang viral di media sosial belakangan ini.
Adapun poin-poin klarifikasi itu disampaikan oleh Pemkab Berau melalui Perwakilan Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Berau, Rahman Duka, pada Kamis (4/5/2023).
Rahman menegaskan bahwa pertama, wanita berbusana muslimah berwarna putih yang tampak dalam video tersebut adalah Sri Juniarsih Mas yang sedang melaksanakan tugas sebagai bupati kepala daerah dan bukan sebagai khotib.
Kedua, kegiatan perekaman video dilakukan pada saat Bupati Berau sedang memberikan sambutan yaitu beberapa saat sebelum rangkaian penyelenggaraan sholat Idulfitri yang bertempat di Masjid Agung Baitul Hikmah Tanjung Redeb.
Ketiga, perekam video berdurasi 1 menit 40 detik yang menggunggah video tersebut melalui akun media sosial Snack Video miliknya tidak memberikan judul, tulisan, atau narasi apapun.
Keempat, bahwa pemberian narasi atau judul pada video yang viral tersebut; yang bersangkutan dalam hal ini perekam video tidak mengetahui apa-apa.
Kelima, kronologi atas fakta-fakta sambutan Bupati Berau tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: (1) bahwa sambutan kepala daerah dalam hal ini Bupati Berau pada saat Idulfitri, sudah sering dilakukan bukan hanya oleh Bupati Berau saat ini, melainkan juga oleh bupati sebelumnya.
(2) penyampaian sambutan Bupati Berau pun dilakukan sebelum khotbah Idulfitri dilaksanakan sehingga bukan merupakan bagian dari pelaksanaan sholat Idulfitri.
Berdasarkan fakta-fakta itu dan untuk menghindari kesalapahaman dan tafsir lain yang dapat menimbulkan keresahan di masyarakat, khususnya umat Islam, maka Kemenag Berau, MUI Berau, PHBI Berau, Diskominfo Berau, Bagian Prokopim Setda Berau, Bagaian Hukum dan Perundang-undangan Berau, Ketua Pengurus Masjid Baitul Hikmah menyatakan bahwa:
Pertama, sambutan Bupati Berau yang disampaikan sebelum masuk dalam rangkaian sholat Idulfitri 1444 H bukan merupakan khotbah melainkan sambutan biasa yang disampaikan oleh kepala daerah. Sambutan itu lazim dilakukan oleh kepala daerah sebelumnya.
Kedua, Pemkab Berau meminta penggunggah konten video untuk mengklarifikasi bahwa Bupati Berau sedang tidak melaksanakan khotbah melainkan sedang memberikan kata sambutan.
Ketiga, Pemkab Berau meminta penggunggah konten video agar mengubah judul video yang telah ditulis dan telah disebarluaskan agar tidak menimbulkan persepsi yang salah di kalangan masyarakat, khususnya umat Islam.
Dengan klarifikasi itu pemerintah pun mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati dan teliti dalam menggunggah konten sensitif di media sosial. Apalagi konten tersebut berkaitan dengan masalah keagamaan.
Asisten 1 Bidang Pemerintahan Setkab Berau, Hendratno yang juga Ketua Panitia Hari-hari Besar Islam (PHBI) Kabupaten Berau mengatakan bahwa ada dua hal yang disorot dalam video yang beredar tersebut yakni yang membuat atau mengambil video dan yang menambahkan narasi.
“Yang membuat video tidak menambahkan apapun. Ini ada upaya orang menambah-nambahkan. Kami juga membuat evaluasi bahwa yang menambahkan narasi ini tidak mengambil data dari narasumber pembuat, tujuannya apa, temanya apa,” jelasnya.
Hendratno mengakui bahwa perekam video tersebut dikenalnya. Si perekam pada saat itu pun berada lebih kurang 5 cm dari tempat duduk Hendratno. Bagi Hedratno, pada saat itu, perekam hanya mengabadikan momen tanpa ada itikad buruk.
“Jadi, kita memahami dulu itikad pembuat video ini. Kalau saya tahu dari awal itikadnya tidak mengarah kepada kebaikan, mungkin kami tidak akan seperti ini bicaranya.
Kami akan lebih lugas, lebih tegas, dan lebih terarah kepada netralisir. Dan upaya itu kami serahkan ke bagian hukum. Tapi pembuat video ini memiliki niat hanya mengabadikan suatu momen istimewa,” imbuhnya.
Kendati video yang beredar tersebut telah dipelintir dan jauh dari maksud awal perekam, Pemkab Berau melalui klarifikasi itu hanya berniat untuk memberikan penjelasan yang sejelas-jelasnya, tanpa lebih dahulu menjadikannya sebagai persoalan hukum.
“Hari ini kami hanya berniat memberikan penjelasan dan mengganggap hal ini hanyalah kesalapahaman. Tidak ada tendensi apapun. Soal hukum kami akan pertimbangkan ke depannya,” sambungnya.
Hendratno pun menambahkan bahwa mengabadikan momen adalah hal yang lumrah. Namun, pelaku yang telah membuat narasi tanpa informasi yang jelas, sebenarnya telah melanggar prinsip Tabbayun dalam Islam. “Saya pikir ini yang terjadi,” tandasnya.
Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Berau, Didi Rahmadi menegaskan bahwa konten video yang disebarkan dengan narasi miring dan tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya, jelas merupakan hoaks.
“Kalau UU ITE, ini berkaitan dengan delik aduan. Sehingga apabila seseorang merasa dirugikan maka dia berhak melaporkan. Jadi, kita tunggu bupati yang mengadu.
Namun, saya yakin bupati kita ini baik. Dia mampu memilah mana konten yang disengaja dan mana yang tidak. Mungkin dia tidak mengambil langkah hukum,” tegasnya.
Baharudin, pihak pertama yang mengabadikan momen sambutan Bupati Sri saat ditemui media ini menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki niat yang buruk ketika mengabadikan momen itu.
Bahkan menurutnya, menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat biasa sepertinya bila mengabadikan momen istimewa seperti sambutan kepala daerah ketika hari-hari besar agama.
“Memang betul saya awalnya share di Snack Video. Tapi tidak ada caption apapun. Ada 4 video bupati yang saya share ke Snack Video tanpa ada caption apapun.
Video itu full sambutan bupati dari awal sampai akhir, meskipun terpotong-potong. Hanya video sambutan khususnya pada potongan kedua itu yang dibelokan narasinya,” kuncinya menjelaskan.
Sesuai penelurusan media ini pada salah satu media sosial khususnya TikTok, terutama pada akun dengan nama @ya_idin, sambutan Bupati Berau yang mulanya tidak diberi caption oleh Baharudin itu rupanya telah diberi caption.
Adapun caption yang ditampilkan yakni, “di Kab. Berau Khotib wanita. Baru kali ini saya melihat wanita yg jadi khotib. apakah ini dianggap hal biasa atau termasuk pelecehan/penistaan.”
Unggahan video dengan caption tersebut mendapat tanggapan dari netizen TikTok. Ada yang menanggapi secara positif, tetapi ada juga yang menanggapi secara negatif.
Tak hanya di TikTok. Di media sosial Facebook, sesuai data yang diterima media ini dari Pemkab Berau, juga ditemukan unggahan atas sambutan bupati itu dengan caption: “Idul Fitri, kok bisa? Aliran apa ini?” (*/Elton Wada/ Adv Pemkab Berau)
Editor: Elton Wada








