Tak Kunjung Masuk Tubaan, Perumda Air Minum Batiwakkal Akan Bangun SPAM Kapasitas Besar

Kepala Kampung Tubaan, Saipul Achyar. [Elton Wada / Mediaetam.com]
Kepala Kampung Tubaan, Saipul Achyar. [Elton Wada / Mediaetam.com]

Mediaetam.com, Berau – Hingga saat ini, Kampung Tubaan, Ibu Kota Kecamatan Tabalar, belum menikmati layanan air bersih dari Perusahaan Umum Daerah (Perumda) air minum Batiwakkal.

Camat Tabalar, Abdul Rahman menjelaskan bahwa dari 6 kampung yang terdapat di wilayah kecamatan itu, Tubaan menjadi satu-satunya kampung yang belum dimasuki PDAM.

“5 kampung sudah dimasuki PDAM. Hanya satu yang belum, yakni ibu kota Kecamatan Tabalar, Tubaan,” ungkapnya dalam acara musyawarah rencana pembangunan (Musrenbang) tingkat Kecamatan Tabalar, di Tubaan pada Senin (27/02/2023).

Ketiadaan layanan air bersih dari PDAM itu, membuat masyarakat sukar mengonsumsi air bersih, terutama ketika memasuki musim penghujan dan terjadi banjir.

“Pada saat banjir seperti ini, kami minum air seperti setengah dicampur susu atau lebih keruh,” tegasnya.

Kepala Kampung (Kakam) Tubaan, Saipul Achyar menjelaskan bahwa Tubaan merupakan ibu kota kecamatan. Sebagai ibu kota kecamatan, sudah seharusnya Tubaan menjadi parameter pembangunan di wilayah Kecamatan Tabalar.

“Jadi, saya pikir tidak ada alasan untuk menunda pembangunan sarana air bersih itu. Sebab, setiap tahun dalam enam tahun terakhir selalu saja diusulkan melalui Musrenbang.

Selain itu, dalam enam tahun itu juga kita baru menikmati air dari sumber-sumber asal yang belum ada pengolahan. Belum ada akses air bersih untuk masyarakat Tubaan.

Jadi, kita menggunakan air-air yang ada saja. Kalau masyarakat punya sumur, ya dari sumur. Tapi ada juga dari aliran-aliran air lainnya,” jawabnya.

Untuk memperjuangkan persoalan itu, pihaknya pun tidak tinggal diam. Bahkan, dirinya sudah membangun komunikasi dengan OPD terkait juga DPUPR, termasuk anggota dewan dan Bapelitbang.

“Kami sudah komunikasi dengan PU, tapi jawabannya sama bahwa kita mesti menunggu jalan penghubung Semurut ke Tubaan,” kisahnya.

Tahun 2023 ini, memang ada tanda-tanda pembangunan jalan penghubung Semurut menuju Tubaan. Pembangunan jalan itu diharapkan dapat menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk menikmati air bersih.

“Kita harapkan agar dengan adanya komunikasi itu, rencana pembangunan jaringan air di Tubaan dapat segera direalisasi,” harapnya.

Wakil Ketua II DPRD Berau, Ahmad Rifai dalam tanggapannya terkait air bersih ini mengakui bahwa Tubaan merupakan kampung yang paling parah dalam akses dan fasilitas air bersih.

“Buyung-Buyung, Semurut, sudah dibangun air bersih. Tabalar Muara sudah berantai. Air yang menjadi prioritas masyarakat mesti dipenuhi juga di Tubaan,” pintanya.

Dirut Perumda Air Minum Batiwakkal, Saipul Rahman menyadari bahwa masalah air minum merupakan masalah kebutuhan dasar manusia. Hidup akan sehat jika ditopang oleh air bersih dan sanitasi yang baik.

Secara khusus, dirinya sudah mendekati Kakam Tubaan untuk terus mendorong persoalan tersebut ke Bupati dan Bappeda supaya mereka pun merasa bahwa kebutuhan air bersih sangat diperlukan oleh masyarakat.

“Kalau Perumda Air Minum Batiwakkal, kita dari dulu juga sudah dorong supaya air ini kita bisa penuhi. Tapi, kan ada mekanisme perencanaan, ada mekanisme penyusunan anggaran, dan ada mekanisme pengambilan keputusan anggaran.

Kami tidak terlibat langsung di pengganggaran ini. Sebab, itu menjadi tanggung jawab DPRD dan kepala daerah. Dari situlah salah satu kunci penting yang mesti didorong. Kalau untuk perencanaan kami siap support dan bekerja sama dengan PU,” tandasnya.

Plt Ketua Dewan Pengawas (Dewas) Perumda Air Minum Batiwakkal, Agus Wahyudi menerangkan bahwa pembangunan sarana air bersih memang tidak bisa dilepaspisahkan dengan pembangunan infrastruktur jalan.

“Jadi, kita buat jalan dari Mantaritip ke Buyung-Buyung. Itu menghabiskan anggaran lebih kurang Rp 40-an miliar. Itu sudah ada. Kemudian Buyung-Buyung – Semburut, lalu Semburut-Tubaan,” terangnya.

Tujuan dibuatnya jalan itu yakni untuk menghindari daerah pegunungan agar pembangunan instalasi sambungan pipa bisa berjalan efektif dan efisien tanpa menghabiskan begitu banyak anggaran.

Selain jalan, Plt Dewas yang juga Pj Sekda Berau itu menjelaskan bahwa pemerintah daerah juga sudah menyiapkan sebuah desain besar dalam pembangunan air minum di wilayah kecamatan itu.

“Jadi, kita buat jalan di situ, di daerah datar, supaya enak dipasang pipa. Kita akan buat nanti Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM), yang skalanya mencakup beberapa desa,” sambungnya.

Dalam desain besar pembangunan SPAM itu, pembangunan sarana dan fasilitas air minum tidak lagi dilakukan per spot atau wilayah tertentu. Sebaliknya, mencakupi beberapa desa.

“Kita sudah berhasil membangun Gurimbang, mencakupi beberapa desa. Kita membangun PDAM di Teluk Sulaiman Biduk-Biduk mencapai beberapa desa sampai dengan Tanjung Prepat. Tahun ini kita lakukan di Labanan. Jadi, seperti itu,” paparnya.

Terkait anggaran PDAM, dirinya pun sudah berbicara dengan Dirut Perumda Air Minum Batiwakkal.

“Kami sudah rapat, dan saya mau lihat cash flow di PDAM ini seperti apa. Saya mau beri PR sebenarnya. Kalau cash flownya belum aman, kita belum beri tugas yang berat untuk ke desa.

Karena PDAM itu kalau ke desa, dia subsidi silang. PDAM tidak untung. Pasti rugi. Nanti kalau cash flownya aman baru kita pikirkan,” tegasnya.

Namun yang jelas, pembangunan SPAM itu, akan dimulai dengan pembangunan jalan yang menghubungkan Mantaritip, Buyung-Buyung, Semurut, dan Tubaan. Jika memungkinkan lagi, pembangunan jalan itu juga dapat mengcover desa lain di sekitarnya.

“Kita akan bangun SPAM dengan kapasitas besar untuk melayani beberapa desa. Dan operatornya PDAM,” kuncinya. (*/Elton Wada)

Editor: Elton Wada

Bagikan:

Pos terkait