MUARA MUNTAI – Suara dentuman keras bakal kembali menggema di Desa Jantur, Kecamatan Muara Muntai, pada bulan suci Ramadan nanti. Warga setempat kini tengah sibuk mempersiapkan leduman; benda serupa meriam kayu raksasa yang sudah menjadi tradisi turun-temurun selama setengah abad.
Jusman, salah satu warga Desa Jantur, menuturkan bahwa pembuatan leduman ini bukan pekerjaan semalam jadi. Prosesnya memakan waktu cukup lama dan membutuhkan tenaga ekstra dari warga sekitar.
“Leduman ini masih dalam proses pembelahan kayu. Biasanya pengerjaannya memakan waktu sampai satu bulan penuh yang dikerjakan secara gotong royong oleh warga,” ujar Jusman, Jumat (13/2/2026).
Untuk tahun ini, warga mempersiapkan dua buah leduman. Jusman menyebut, biaya pembuatan meriam tradisional ini tidak sedikit. Satu batang pohon bahan baku leduman bisa menelan biaya hingga Rp7 juta.
“Satu batang pohon itu menghabiskan biaya sekitar Rp7 juta. Dananya dari uang Pemdes (Pemerintah Desa) yang memang sudah dipersiapkan. Kita buat dua leduman,” jelasnya.
Bagi masyarakat Jantur, Ramadan terasa kurang lengkap tanpa suara Leduman. Selain sebagai simbol penyambutan bulan suci, alat ini memiliki fungsi vital sebagai penanda waktu berbuka.
“Fungsinya untuk menandakan adzan Maghrib dan waktu buka puasa karena dulu belum ada masjid sebagai penanda waktu berbuka maka leduman lah yang digunakan warga. Tradisi ini sudah hampir 50 tahun terjaga,” imbuh Jusman.
Ia pun berharap semangat kebersamaan dalam pembuatan Leduman ini tidak luntur tergerus zaman.
“Kita berharap tradisi ini tidak luput dan terus dijaga oleh generasi penerus,” pungkasnya.
Laporan: Nur Fadillah Indah/mediaetam.com








