TENGGARONG – Tradisi membangunkan sahur di Kelurahan Maluhu, Tenggarong, kini tengah menjadi sorotan. Bukannya membantu warga bersiap ibadah, penggunaan pelantang suara berdaya besar atau yang populer disebut “Sound Horeg” justru mulai menuai keluhan karena suaranya yang dianggap kelewat batas.
Riyan, salah seorang warga Maluhu, menceritakan pengalamannya terganggu oleh dentuman musik sahur yang terlalu keras. Menurutnya, fenomena tahun ini terasa berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Tiap tahun memang ada yang bangunkan sahur, tapi tahun ini nadanya lebih keras, ‘bum-bum-bum’ gitu. Jujur saja mengganggu, anak saya saja sampai terbangun dan kaget karena suaranya,” ujar Riyan, Senin (23/2/2026).
Riyan menambahkan keresahan ini ternyata dirasakan oleh banyak orang. Bahkan, Sekretaris Lurah (Seklur) setempat disebut telah menerima banyak laporan dari warga yang merasa terganggu dengan aktivitas tersebut.
“Seklur juga sudah sempat menyampaikan agar bapak-bapak yang punya kegiatan sound horeg ini memperhatikan keluhan warga. Katanya laporan yang masuk sudah banyak sekali,” terangnya.
Sudah Ada Kesepakatan Ambang Batas Volume Suara
Menariknya, warga Maluhu sebenarnya sudah memiliki kesepakatan bersama mengenai batas volume suara saat membangunkan sahur. Namun, masalah muncul ketika ada rombongan sound horeg dari wilayah lain yang masuk ke lingkungan mereka.
“Sempat ribut dua hari lalu. Warga Maluhu suaranya sedang saja karena sudah ada kesepakatan di forum warga jangan digedein. Tapi ternyata ada sound horeg dari luar yang masuk ke Maluhu, itu yang suaranya besar sekali,” pungkasnya.
Hingga saat ini, warga berharap ada ketegasan terkait aturan main membangunkan sahur agar tradisi tersebut tetap berjalan tanpa harus mengorbankan kenyamanan warga lainnya.
Laporan: Nur Fadillah Indah/mediaetam.com








