Waspada Fenomena Air Bangar Mahakam, IDI Kukar Ingatkan Risiko Infeksi Kulit dan Dermatitis

Anak Sungai Mahakam di Kawasan Tenggarong mengalami perubahan warna, bau, dan rasa. (Foto: Anshori/Seputarfakta)

TENGGARONG – Fenomena musiman “Air Bangar” di Sungai Mahakam kembali menjadi perhatian serius kalangan medis. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) memperingatkan warga akan risiko gangguan kulit yang mengintai akibat penggunaan air sungai yang mengalami penurunan kualitas drastis tersebut.

Ketua IDI Kukar, dr. Arif Risdianto, menjelaskan bahwa secara medis, air bangar yang berwarna kecokelatan hingga kehitaman mengandung zat organik terlarut, serta kadar besi (Fe) dan mangan (Mn) yang tinggi. Kondisi ini sering kali muncul saat transisi musim atau pasang-surut ekstrem Sungai Mahakam.

Bacaan Lainnya

“Kandungan kimiawi dengan pH yang lebih asam serta tingginya zat organik bisa mengiritasi kulit. Selain itu, air yang keruh kaya akan bakteri dan jamur, sehingga risiko infeksi kulit superfisial meningkat tajam,” ujar dr. Arif, Jumat (30/1/2026).

Paparan kronis dari aktivitas mandi dan mencuci menggunakan air bangar dapat memicu dermatitis kontak iritan. Sebagai langkah mitigasi, IDI Kukar menyarankan masyarakat untuk lebih mengutamakan penggunaan air PDAM.

Namun, jika terpaksa menggunakan air sungai, warga diminta melakukan prosedur pengolahan sederhana.

“Minimal air diendapkan selama 6 jam sebelum digunakan untuk mengurangi paparan logam dan kuman. Gunakan hanya air bagian atasnya saja. Selain itu, perlindungan dari luar seperti penggunaan sabun dengan pelembap tinggi sangat dianjurkan untuk menjaga barrier kulit,” tambahnya.

Kelompok Rentan Wajib Waspada

IDI Kukar juga mengingatkan agar kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, dan lansia mendapatkan pengawasan ekstra karena kulit mereka lebih sensitif terhadap iritasi. Jika muncul gejala gatal hebat, kemerahan, hingga luka bernanah, warga diminta segera ke Puskesmas atau rumah sakit.

Sebagai mitra dinas kesehatan, IDI Kukar berkomitmen terus menghimpun temuan klinis dari dokter di lapangan guna memberikan masukan ilmiah dalam pengendalian risiko kesehatan lingkungan di sepanjang aliran Sungai Mahakam.

Laporan: Nur Fadillah Indah/mediaetam.com

Bagikan:

Pos terkait