Nadeo Argawinata melakukan beberapa penyelamatan gemilang untuk menjaga gawangnya tetap perawan. Itu adalah kontribusi besar, namun bukan faktor utama kemenangan Borneo FC atas Bhayangkara. Justru, keputusan 1 detik yang dibuat Kei Hirose, yang memainkan peran lebih krusial.
Oleh: Ahmad A. Arifin (Dang Tebe) – Pengamat Borneo FC
Pada menit ke-65.32, lewat skema serangan balik cepat. Kei Hirose melakukan solo run sambil menggiring bola di area tengah. Terjadi situasi 4 lawan 4 di area pertahanan Bhayangkara.
Dua bek tengah lawan fokus mengamankan area depan gawang sembari mengawal Joel Vinicius. Sementara dua bek sayap Bhayangkara, sedikit terlambat untuk meng-cover areanya.
Juan Villa merangsek ke sebelah kiri, membuka ruang besar. Jika di detik itu Kei ingin mengoper, Juan Villa adalah pemain yang paling mudah dituju. Selain tanpa kawalan, area opernya juga tidak terhalang siapapun. Opsi kedua adalah Joel, dia pemain terdekat dengan Kei, pun berada di posisi bagus untuk menembak. Sedangkan Peralta di sebelah kanan, berada 1 meter di belakang Hirose, juga masuk radar pengawalan bek sayap lawan. Yang diputuskan Hirose, terus menggiring.
65.34, Joel masih memiliki ruang tembak ideal, namun sudah dikawal ketat 2 bek lawan. Juan Villa masih bebas, namun area opernya telah ditutup. Peralta masih setengah meter di belakang Hirose di sisi kanan. Posisinya sulit. Namun memberi kode pada Hirose untuk memberikan bola padanya.
Kei Hirose menggunakan 1 detik, benar hanya 1 detik untuk berpikir, menimbang, memutuskan, dan menggerakkan kaki –mengoper ke Peralta. Menerima sodoran Hirose, Peralta menyentuh bola sekali, mengarahkan lebih ke dalam, lalu menendang dengan kaki kiri. Boom! Gol! Cukup 2 detik bagi winger Argentina untuk mengonversi umpan Hirose menjadi gol kemenangan.
Bukan 1 Detik Biasa
Peralta memang punya andil besar dalam gol tersebut. Dia eksekutornya. Tanpa keraguan sedikit pun, dia layak mendapat kredit sebagai pahlawan kemenangan Pesut Etam di laga itu.
Tapi tanpa keputusan 1 detik Hirose, momen itu tak akan terjadi. Lantas apa yang membuat operan Kei Hirose begitu istimewa?
Dua detik sebelum operan itu dibuat, Kei, dalam kondisi normal, harusnya mengoper kepada Juan Villa di sebelah kiri. Gelandang Jepang tak memerlukan alasan untuk melakukannya. Karena sangat jelas, Juan Villa berada di posisi terbuka, dengan ruang oper yang sangat menganga. Namun dia memilih menunda 2 detik, yang sebenarnya membuat peluang mencetak gol lebih kecil. Risiko itu Kei ambil demi menunggu Peralta berada dalam posisi siap menerima bola.
Meski berisiko gagal, pilihan Kei sangatlah brilian. Sebab di antara 3 kawan yang siap menerima umpan manjanya, hanya Peralta yang sudah ia tahu kualitasnya dengan pasti.
Juan Villa dan Joel adalah rekan yang baru ia kenal 3 minggu. Baru bermain sekali di kompetisi sungguhan. Tentu Kei memiliki keraguan atas sentuhan akhir jika mengirim umpan ke keduanya. Berbeda dengan Peralta, rekan setim yang sudah bermain semusim penuh musim lalu.
Apabila Peralta sudah bergerak dan meminta bola secara terang-terangan, Kei tahu, sang winger sudah punya rencana matang. Entah mengoper, menggiring, atau menendang langsung. Maka keputusan 1 detik yang dibuatnya, bukan hanya berdasar alasan teknis, tapi lebih kepada rasa percaya dan chemistry.
Kesenjangan Chemistry
Hirose tentu bukan robot yang bermain tanpa berpikir. Sejak menit awal, timnya memang mengalami kendala koordinasi. Ada kesenjangan chemistry di antara pemain lama dan baru. Situasi itu membuat banyak skema serangan mereka kandas begitu saja.
Dengan usia pertandingan yang sudah lebih 1 jam, dan menyaksikan rekan-rekan di barisan pertahanan sudah pontang-panting menggagalkan serbuan The Guardian. Ia harus mengambil sikap tegas. Memilih menjadi sedikit egois dan pilih kasih. Mempercayakan urusan mencetak gol pada rekan yang sudah ia pahami kinerjanya.
Atas pilihan egoisnya itu, Kei Hirose bukan hanya mengantarkan timnya meraih kemenangan perdana di laga yang sulit. Juga sekaligus mendapat gelar pemain terbaik di laga tersebut. (*)








