SEBULU – Nasib malang menimpa kelompok tani di Desa Senoni, Kecamatan Sebulu. Lahan pertanian hortikultura produktif milik warga disapu banjir lumpur yang diduga kuat akibat aktivitas pengelolaan lahan Hutan Tanaman Industri (HTI) di wilayah hulu.
Salbiah, salah satu petani terdampak, mengisahkan pilunya kondisi lahan seluas satu hektare miliknya. Banjir besar pertama menghantam pada Februari 2025, menghancurkan fasilitas penunjang seperti selang drip dan mulsa tepat dua minggu sebelum panen raya.
Setelah sempat bangkit secara mandiri, musibah serupa kembali terjadi pada 11 Desember 2025. Kali ini kondisinya jauh lebih parah. Lumpur bercampur pasir dan kerikil setinggi setengah hingga satu meter menimbun tanaman timun, lombok, terong, hingga ubi jalar yang siap panen.
“Ini disebabkan aktivitas mekanisasi lahan HTI di atas lahan saya. Aliran sungai membawa lumpur dan batu turun ke kebun. Dulu mereka tebang biasa, akar masih ada. Sekarang didorong pakai mesin, dibikin teras siring. Begitu hujan, semua longsor ke bawah,” ungkap Salbiah dengan nada getir, Selasa (7/4/2026).
Pihak perusahaan sempat memberikan santunan pada kejadian pertama, namun pada banjir kedua di akhir tahun, perusahaan berdalih bahwa musibah tersebut adalah faktor alam. Padahal, petani meyakini tanaman di lahan HTI yang belum berumur satu tahun tidak mampu menahan laju air dan tanah saat hujan deras.
Sebelum bencana melanda, Salbiah yang juga ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Mandiri Sejahtera ini mampu meraup penghasilan bersih Rp400 ribu hingga Rp600 ribu per hari. Keuntungan tersebut dibagi bersama 15 hingga 25 anggotanya yang bergantung hidup pada lahan tersebut.
“Sudah 4 bulan ini tidak ada pemasukan sama sekali. Padahal biasanya ubi jalar saja bisa panen 4 sampai 5 ton sekali periode. Sekarang modal habis, fasilitas rusak, mesin traktor terendam, elektrik terbakar. Kami cuma bisa mengolah pelan-pelan dengan modal seadanya,” tambahnya.
Respons Pemerintah
Menanggapi keluhan tersebut, Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mengaku telah menerima laporan dari lapangan. Pihak dinas memastikan tim penyuluh sudah mulai bergerak melakukan pendataan.
Sekretaris Distanak Kukar, Muhammad Rifani, menyebut laporan mengenai gagal panen di Desa Senoni yang melibatkan dampak aktivitas HTI sudah masuk sekitar dua minggu hingga satu bulan yang lalu.
“Kemarin ada anggota yang ke sana, cuma masih kami kaji. Kami masih mendata kategorinya seperti apa, apakah berupa bantuan benih atau lainnya. Kami akan arahkan perhatian ke sana,” ujar Rifani, Selasa (7/4/2026).
Saat ini, Salbiah dan para ibu tani di Desa Senoni hanya bisa berharap adanya bantuan nyata berupa pupuk kandang dan perbaikan fasilitas penunjang. Mereka ingin lahan mereka kembali produktif agar dapur para anggota kelompok tani bisa kembali mengepul.
Laporan: Nur Fadillah Indah/mediaetam.com








