Banyak yang Tak Sadar, Seluruh Pemain Lokal di Skuad Inti Borneo FC Adalah Hasil Binaan Sendiri

Lima pemain inti Borneo FC adalah hasil binaan klub sendiri. (BFCS)

Borneo FC Samarinda berhasil tampil gemilang di awal musim ini. Menjadi satu-satunya tim yang berhasil meraih kemenangan di seluruh laga. Mencatat rekor baru di era sepak bola modern. Semua orang tahu itu. Namun ada satu fakta yang jarang jadi topik obrolan. Yakni seluruh pemain lokal yang berada dalam skuad inti Pesut Etam, alias 5 dari 11 pemain, adalah hasil binaan sendiri. Bahkan 4 di antaranya masih berstatus one man club.

Oleh: Ahmad A. Arifin (Dang Tebe) –Pengamat Borneo FC

Bacaan Lainnya

Tak ada yang istimewa dari kemunculan klub bernama Pusamania Borneo FC (PBFC) di Divisi Utama Liga Indonesia pada 2014 lalu. Meski langsung menjadi juara di musim perdananya dan promosi ke kasta tertinggi usai mengakuisisi Perseba Bangkalan. Klub asal Samarinda tak pernah benar-benar diperhitungkan di kancah sepak bola nasional.

Tim ini tidak dibekali finansial raksasa. Tidak hadir dengan barisan skuad mewah seperti saudara tuanya; Mitra Kukar. Pun hanya jadi tim penggembira sejak era ISC hingga Liga 1. Alias selalu jadi penghuni papan tengah dan bawah.

Namun dalam sedikitnya sorotan yang mengarah, PBFC, yang mengalami 2 kali perubahan nama menjadi Borneo FC dan kini Borneo FC Samarinda. Tanpa diduga telah melakukan banyak terobosan.

Misalnya, menjadi pionir klub yang memberi kontrak jangka panjang kepada pemainnya. Menjadi klub yang melakukan penjualan pada bursa transfer. Di mana kedua hal itu masih tabu di sepak bola Indonesia pada medio 2014-2020.

Teranyar, Pesut Etam dengan pengelolaan profesionalnya telah memiliki fasilitas latihan sendiri, fasilitas kebugaran dan medis, serta akademi yang saban periodenya selalu dinakhodai legenda-legenda sepak bola Indonesia.

Investasi Pemain Muda

Di balik semua transformasi yang terjadi, ada satu hal yang tak pernah berubah dari Borneo FC. Yakni investasinya pada bakat muda. Dengan modal yang tak begitu besar, mereka tak gegabah dengan merekrut pemain-pemain bintang. Justru, Borneo FC berupaya mencetak bintangnya sendiri.

Pemain-pemain muda berbakat dari seluruh penjuru Tanah Air, mereka kumpulkan. Setelah direkrut, mereka akan mendapat fasilitas, waktu, dan kesempatan untuk berkembang. Para pemain ini lah yang diharapkan mampu menjadi pilar klub di masa mendatang.

Memang, investasi jangka panjang ini pada akhirnya banyak menghasilkan pemain yang tak mampu bersaing. Mereka yang gagal menyegel tempat di tim utama, keluar dari klub dengan berbagai macam situasi. Dari skema peminjaman, hingga dilepas sebagai pemain bebas agen.

Namun, setiap angkatan selalu menelurkan pemain penting. Dari angkatan pertama, ada nama Terens Puhiri. Sebelum kontraknya tak diperpanjang musim ini, pemain asal Papua itu telah menghabiskan 8 musim di klub Samarinda. Tercatat sebagai pemain dengan penampilan terbanyak dalam sejarah klub, 212 penampilan. Terens adalah legenda hidup yang lahir dari proses pembibitan Borneo FC.

Dari angkatan kedua, ada nama Muhammad Sihran. Setelah melalui fase naik turun, Sihran tercatat sebagai 11 pilar utama pada skuad emas 2023/24, dan kini kembali jadi andalan Fabio Lefundes.

Dan begitu seterusnya, setiap generasi memiliki perwakilan di skuad utama. Walau hanya satu sampai dua pemain dari setiap generasi. Paling tidak, Pesut Etam terus menerima manfaat dari investasinya tersebut.

Konsisten Jalankan Prinsip Klub

Yang unik dari perjalanan Borneo FC Samarinda di sepak bola Indonesia adalah mereka memiliki target. Yakni mengincar status juara dengan caranya sendiri. Bukan dengan mengeluarkan puluhan miliar untuk mengontrak pemain ‘jadi’. Namun dengan pembinaan pemain muda, scouting pemain asing yang baik, serta penanaman filosofi ‘Manyala’ pada skuad setiap musimnya.

Kombinasi 3 hal itu mulai terlihat hasilnya sejak 2020. Perhatikan saja, Borneo FC belum pernah benar-benar memiliki skuad mewah, tapi sejak 2020, mereka selalu jadi langganan papan atas. Bahkan nyaris juara pada musim 2024/24.

Itu terjadi karena 3 prinsip mereka berjalan sesuai jalur. Pertama, pembinaan pemain muda menunjukkan hasil yang positif. Kedua, pemain asing silih berganti, namun kebanyakan memberi performa bagus, walau semuanya merupakan debutan di Liga Indonesia. Ketiga, penanaman filosofi Manyala dituangkan dalam bentuk mentalitas dan cara bermain. Sehingga perlahan tapi pasti, mentalitas juara terbentuk secara sendirinya. Satu-satunya penghalang bagi Pesut Etam untuk meraih bintang pertamanya hanyalah … waktu.

Transformasi Pemain

Sejak momen kebangkitan 2020, musim ini bisa dibilang sebagai titik terendah Pesut Etam. Skuad mereka diisi mayoritas pemain muda. Meski tak pernah ada keterangan resmi dari klub terkait komposisi pemain musim ini yang cenderung menurun dari 2 musim sebelumnya. Namun bisa ditebak, Borneo FC sedang dalam mode hemat.

Tapi berkat prinsip-prinsip klub yang dijalankan secara konsisten. Bahkan dengan skuad ‘seadanya’ musim ini, Borneo FC malah mencatat rekor baru di era sepak bola modern Indonesia. Yaitu menjadi tim pertama yang meraih 4 kemenangan beruntun di awal musim. Rekornya bertambah menjadi 5 kemenangan beruntun, dan masih mungkin terus bertambah panjang.

Kita belum tahu bagaimana akhir dari musim ini, tapi setidaknya, mereka telah menunjukkan sisi kompetitifnya di awal kompetisi. Mengalahkan capaian dari klub-klub favorit juara.

Dari seluruh perjalanan itu, fakta yang paling saya sukai adalah bahwa musim ini, di barisan 11 pemain inti yang berisikan 6 asing dan 5 lokal. Seluruh pemain lokalnya adalah produk binaan klub. Woaw!

Kelima pemain itu, adalah perwakilan dari generasi pertama, 2, 4, dan 6. Mereka berlima, datang ke tim Samarinda sebagai bocah dengan mimpi besar. Dan kini perlahan telah bertransformasi menjadi pemain besar. Siapa saja mereka?

Muhammad Sihran

Messi Sihran bergabung ke Borneo FC Junior pada Januari 2017. Saat itu usianya baru 17 tahun. Bermain untuk tim U-19, namun karena penampilannya mencolok, ia mendapat kesempatan bergabung di tim utama pada tahun yang sama. Ia merupakan generasi kedua pemain muda Pesut Etam. Menjalani debut di usia 18 tahun, 7 bulan, dan 27 hari. Tepat di laga terakhir Liga 1 edisi perdana, pada November 2017.

Di musim berikutnya, ia kembali mendapat 1 kesempatan tampil. Bedanya, jika pada 2017 ia bermain 33 menit, pada 2018 Sihran hanya bermain 3 menit dalam semusim. Baru pada musim 2019, Mario Gomes kepincut pada kemampuannya. Ia lantas mendapat 25 kesempatan kali tampil sepanjang musim. Sampai pada usianya yang kini 26 tahun, Sihran telah bertransformasi menjadi pemain penting. Tercatat sebagai pemain dengan penampilan terbanyak sepanjang sejarah klub (155), terpaut 57 laga dari Terens Puhiri. Dengan kata lain, ia kini menjadi penampil terbanyak dari daftar pemain aktif. Dari jumlah laga itu, ia berkontribusi pada 13 gol dan 12 asis. Sedari awal dan sepanjang karier profesionalnya kini, Sihran belum pernah membela tim lain selain Borneo FC Samarinda.

Nadeo Argawinata

Nadeo termasuk dalam generasi pertama barisan muda Pesut Etam. Ia bergabung pada tahun 2016. Bersama Gianluca Pandeynuwu, Nadeo bekerja keras menembus skuad utama Pesut Etam, yang setiap musimnya selalu memiliki kiper-kiper hebat. Penjaga gawang yang saat itu masih berusia 17 tahun, berkembang dalam bayang-bayang Dian Agus hingga Muhammad Ridho.

Ia menjalani debutnya pada 26 Maret 2016, sebagai pemain pengganti selama 15 menit, pada kemenangan timnya atas PSM dengan skor 2-0. Debut itu ia jalani pada usia 19 tahun, 3 bulan, dan 14 hari.

Di musim 2018, ia sudah mencapai status kiper kedua, di bawah M. Ridho. Namun seringnya Ridho absen membuat Nadeo menikmati 19 penampilan di musim tersebut.

Baru pada musim 2019, Nadeo naik menjadi kiper utama. Hengkangnya Ridho membukakan jalannya menjadi kiper nomor satu klub. Koleganya –Gianluca secara otomatis naik status menjadi kiper kedua.

Penampilan apiknya pada musim itu menarik minat Timnas Indonesia. Praktis ia hanya bermain sampai pekan ke-21. Sisanya ia selalu berada di timnas untuk menjalani TC hingga turnamen antarnegara. Tahun itu, Nadeo bukan hanya telah menjadi kiper utama Pesut Etam, tapi juga menjadi bintang nasional –sampai mendapat julukan Kepa. Lalu di akhir musim, sebelum kembali ke Samarinda, ia sudah bergabung ke Bali United melalui skema pembelian dengan nilai yang dirahasiakan oleh kedua klub.

Empat musim membela Serdadu Tridatu dengan segudang prestasi. Nadeo akhirnya pulang ke rumah pada musim 2023/24. Langsung menjadi kiper utama, menggeser Angga Saputro, dan tercatat sebagai pilar utama skuad emas 2023/24.

Meski sempat mengalami penurunan di periode akhirnya di Bali United, sejak kembali ke Borneo FC, Nadeo terus menjelma menjadi penjaga gawang tangguh. Posisinya tak tersentuh. Bersama Kei Hirose dan Fajar, kini ia berada di urutan kelima dalam daftar pemain dengan penampilan terbanyak di Borneo FC. Yakni 126 penampilan, berselisih 13 laga dari Leo Guntara di tempat keempat, yang rasanya bakal terkejar musim ini juga.

Fajar Fathur Rahman

Setelah malang melintang di akademi Persib, Kalteng Putra, Garuda Select, hingga ASAD 313. Fajar Fathur Rahman bergabung ke Borneo FC pada 2020 usai membela Timnas U-19. Datang sebagai remaja 18 tahun, Fajar langsung bergabung ke tim inti sejak awal.

Sadar akan potensi besarnya, Borneo langsung memberi Fajar kontrak 4 tahun. Pemain asal Manokwari harus melewati proses panjang sebelum mendapat debutnya di Piala Menpora 2021. Juga debut profesionalnya di laga perdana Liga 1 musim 2021 era pelatih Mario Gomes, menggantikan Terens Puhiri di posisi penyerang sayap –posisi naturalnya pada usia 19 tahun, 3 bulan, 6 hari.

Pada musim tersebut, ia memang masih menjadi pemain pelapis. Tapi ada satu laga yang mengubah hidupnya. Pelatih pengganti, Fakhri Husaini, yang sudah mengenal Fajar sejak membesut timnas muda, menggeser posisinya menjadi bek kanan pada laga kontra Bali United di pekan ke-21.

Dari laga itu, Fajar yang hampir menyerah pada kariernya di Pesut Etam, berbalik menjadi pemain utama pada musim berikutnya hingga sekarang, dengan bermain di posisi bek kanan.

Memulai sebagai penyerang sayap, kini Fajar tumbuh menjadi bek kanan muda paling menjanjikan di Indonesia. Total, sampai laga kontra Persis kemarin, ia sudah mencatatkan 126 penampilan bersama Pasukan Samarinda.

Komang Teguh

Komang merupakan saudara seperjuangan Fajar Fathur Rahman. Bersama-sama membela Timnas U-19, bergabung ke Borneo FC, pun dengan durasi kontrak yang sama. Juga bersama meraih medali emas SEA Games.

Perbedaan mencoloknya, Komang Teguh harus melalui perjuangan yang lebih besar. Posisinya sebagai bek tengah harus terus bersaing dengan bek berpengalaman ataupun bek asing.

Namun Borneo FC terus memberi kepercayaan pada Komang yang setiap musimnya selalu bertumbuh. Debut profesionalnya didapat dari pelatih interim Ahmad Amiruddin, pada pekan ke-6 Liga 1 musim 2021. Di usia 19 tahun, 5 bulan, 4 hari ia tampil 9 menit sebagai gelandang bertahan.

Selama 4 musim, ia terus menjadi pelapis kedua dan ketiga. Baru lah musim ini ia akhirnya menembus skuad inti. Bermain sebagai bek tengah kanan, persis berdampingan dengan saudara seperjuangannya, Fajar Fathur Rahman. Sejauh ini, ia baru mencatat 49 penampilan, namun dengan potensi besarnya, capaian 100 laga lebih harusnya sudah terjamin di masa mendatang.

Rivaldo Pakpahan

Pemuda asal Tapanuli Utara ini mengandalkan tekad keras untuk menembus sepak bola kasta tertinggi Indonesia. Ia terjaring tim pemantau bakat Borneo FC, dan merekrutnya ke Serpong City –tim satelit Borneo FC.

Semusim di sana, Rivaldo mengikuti seleksi masuk tim utama pada musim 2023/24. Rivaldo tahu jalannya menjadi pemain inti sangat berat. Karena harus menembus persaingan dengan Kei Hirose, Hendro Siswanto, hingga Adam Alis. Tapi ia juga paham, kalau tidak mampu menembus posisi inti di Pesut Etam, kansnya untuk menjadi pemain profesional di kasta tertinggi selanjutnya akan menipis.

Maka sejak hari pertama, ia bertekad memberi penampilan terbaiknya di sesi latihan. Juga terus mengembangkan kemampuan teknik dan taktikalnya.

Berkat kerja kerasnya itu, pelatih Pieter Huistra memberinya kesempatan debut profesional, langsung sebagai starter pada pekan ke-10 Liga 1 2023/24. Di usia 20 tahun, 7 bulan, 5 hari. Di musim perdananya, ia bermain 10 kali, 2 di antaranya sebagai starter. Catatan yang hebat untuk debutan.

Kemudian di musim 2024/25, Rivaldo mendapat kesempatan emas untuk mengisi slot pemain U-22 di Liga 1. Borneo sebenarnya memiliki banyak pemain muda yang memenuhi kriteria, namun Pieter Huistra memilih Rivaldo.

Sadar naik kelas dengan privilege regulasi usia, Rivaldo tak mau berhenti. Permainannya di lapangan menunjukkan itu. Dari seorang gelandang yang grasak-grusuk, kini ia tumbuh menjadi gelandang bertahan yang tak hanya pandai memotong serangan, namun sekaligus mampu menjadi dirigen permainan.

Ia sudah mencatat 46 laga sejauh ini di semua ajang. Jika terus berada dalam perkembangan yang tepat, Rivaldo rasanya akan terus menjadi pemain inti Borneo di masa mendatang.

Pemain Lain

Selain 5 pemain di atas yang berada di skuad inti (langganan starter) di bangku cadangan, Pesut Etam masih memiliki banyak pemain muda yang siap menjadi tulang punggung di masa depan.

Mereka adalah Daffa Fasya (kiper), Alfharezzy Buffon (bek kanan), Dika Kuswardani (bek kanan), Ikhsanul Zikrak (gelandang serang), Dwiki Hardiansyah (gelandang tengah), Ousemane Camara dan Dika Adi (penyerang), serta nama-nama muda potensial lainnya. Artinya apa? Borneo FC kini sedang memanen investasinya di aspek pemain, dan akan terus begitu di masa mendatang. (has)

Bagikan:

Pos terkait