Manajer Borneo FC Dandri Dauri marah dan kecewa berat pada oknum suporter yang melakukan teror ke bus Madura United. Selain memberi teguran keras, Dandri juga telah menjatuhkan sanksi larangan ke stadion bagi para pelaku sampai batas waktu yang belum ditentukan. Lebih jauh, Borneo FC akan mengevaluasi komunitas suporter yang menaungi para pembuat ulah.
Dandri Dauri tak mau lagi memberi hati pada pembuat teror sekelompok pemuda yang meneror bus Madura United, Kamis malam.
“Selama ini saya menjalin hubungan yang baik dengan suporter. Aspirasi dari komunitas suporter juga kami akomodir. Tapi kali ini beda lagi urusannya. Saya gak akan kasih kelonggaran,” ujar Dandri, Jumat malam.
Ia mengaku tak tahu menahu soal rencana peneroran itu. Karena jika tahu, ia pasti akan turun tangan untuk mencegahnya.
“Samarinda ini dikenal damai, ramah dengan suporter tamu. Tim tamu juga kami atur mendapat layanan terbaik. Semalam malah dirusak dengan kelakuan tak bertanggung jawab seperti itu. Bikin malu Samarinda aja!”
Jatuhkan Sanksi dan Teguran Keras
Menindaklanjuti kejadian ini, Dandri Dauri selaku manajer tim telah menegur keras para pelaku. Mereka juga sudah dibawa ke hadapan ofisial Madura United untuk meminta maaf secara langsung.
Meski begitu, sanksi tetap berjalan. Yakni larangan hadir ke stadion, sampai batas waktu yang belum ditentukan.
“Mereka ini berpikir gak, sih soal konsekuensinya? Kalau misal kemarin Madura langsung putar balik pulang, apa gak geger?”
“Kalau nanti Borneo disanksi menggelar pertandingan tanpa penonton, apa mereka mau tanggung jawab?”
Tak hanya itu, di masa depan, potensi aksi balas dendam pun bisa saja terjadi. Baik yang akan dialami tim ataupun suporter away.
“Besok-besok pas kita ke Madura, kira-kira sambutan suporter mereka ke tim bagaimana? Teman-teman suporter yang hadir saat laga away juga bagaimana nasibnya nanti? Hal-hal seperti ini tuh harus dipikirkan sebelum bertindak. Jangan semaunya saja tanpa memikirkan orang lain!”
Bertindak Wajar
Dandri meminta kejadian ini menjadi yang terakhir kalinya. Dia memahami antusiasme dan kecintaan suporter pada Borneo FC. Namun kecintaan itu sebaiknya ditunjukkan lewat cara yang baik.
“Datang ke stadion, nyanyi, menari, itu baru bagus. Sekadar tepuk tangan juga merupakan bentuk dukungan yang dibutuhkan oleh pemain.”
“Jangan malah membuat tindakan yang tidak perlu. Ingat, ketika melakukan hal buruk, yang terseret semua suporter, tim, dan kota kita,” tegasnya.
Berbagi rasa dan tanggung jawab juga ditekankan oleh Dandri. Tim pelatih dan pemain sudah bekerja keras untuk menghadirkan rekor 10 kemenangan beruntun, dan membawa tim memuncakli klasemen. Staf dan ofisial juga bekerja keras di posnya masing-masing.
Maka ia berharap suporter dapat melakukan ‘tugasnya’ juga dengan baik.
“Kita semua, baik orang di tim maupun suporter tentu ingin Borneo berprestasi. Makanya kita bekerja keras untuk itu. Maka jangan melakukan tindakan yang mengkhianati kerja keras semua orang.”
Tak ada Ruang untuk Kericuhan
Kembali ke aksi teror, Dandri tidak menemukan alasan yang layak untuk … setidaknya memahami tindakan itu. Jika disebut sebagai aksi balas dendam, menurutnya sangat tidak perlu. Beberapa friksi yang pernah terjadi antara kedua tim, belum sampai di tahap yang harus dibalas.
Pun jika disebut sebagai ekspresi dukungan, Dandri lebih tak terima. Karena lebih banyak cara menyalurkan dukungan yang positif, alih-alih melakukan tindakan tidak suportif yang berpotensi menghadirkan kerugian lebih besar.
“Mari kita belajar dari kejadian ini. Tolong jangan ada lagi,” pungkasnya. (has)








