Cerita Anak yang Terpaksa Hidup di Balik Jeruji Besi

Kegiatan Andik Pas di dalam LPKA Kelas II A Samarinda. (Indah, Mediaetam.com)
Kegiatan Andik Pas di dalam LPKA Kelas II A Samarinda. (Indah, Mediaetam.com)

Puluhan anak ruang geraknya terbatas. Kesalahan membuat mereka harus menghuni Lembaga Pemasyarakatan Khusus Anak (LPKA). Meski begitu, masa depan mereka masih panjang. Berbagai upaya dilakukan untuk memastikan masa depan itu tetap cerah dan keceriaan tak sirna semua.

Indah Hardiyanti – Kutai Kartanegara

Bacaan Lainnya

Remaja itu memaksa langkah kakinya. Dari gerak-geriknya, dia merasa tak nyaman. Sepertinya tempat ini begitu asing. Bagi remaja yang saat itu masih duduk di kelas XI, tempat ini tak pernah terbayangkan.

Petugas yang menyambut menunjukkan ruangannya. Sejak saat itu, si remaja menyandang status anak didik pemasyarakatan (Andikpas). Jauh dari orangtua, tak sekolah seperti biasa, dan hidup bersama puluhan kawan senasib lainnya.

Sebut saja remaja itu AI (bukan nama sebenarnya). Dia baru saja mengenang kisah awalnya masuk di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Samarinda di Tenggarong, Kukar, kepada wartawan Mediaetam. 

AI tentu bersedih saat masuk. Namun, siswa kelas XII SMA ini, sekarang sudah bisa beradaptasi dan tetap melanjutkan mimpinya. AI mengatakan di LPKA cukup banyak kegiatan seperti pelatihan Barbershop, menyablon, dan menjahit. AI memiliki hobi dalam berolahraga, dia cukup lihai bermain futsal dan selalu mengikuti kegiatan olahraga seperti ketika diadakan sparing di sana.

 “Di LPKA keseharian kami ada olahraga, mengaji dan sekolah juga, yang paling saya suka itu olahraga. Besok ada sparing futsal dan saya ikut,” cerita AI kepada Mediaetam.

Sesibuk apapun, rindu masih ada. AI sering merindukan keluarganya. Beruntung dia masih bisa berkomunikasi dengan orang tuanya melalui daring telepon yang disediakan oleh petugas.

“Saya sering komunikasi sama keluarga, kita video call. Kadang sedih karena sudah dua kali lebaran di dalam sini, biasanya selalu sama orang tua. Tapi namanya takdir mau seperti apa, jadi saya jalani saja,” ungkapnya.

AI tidak ingin perasaan sedih terus menyelimutinya. Dia selalu berusaha tetap semangat dengan menyibukkan diri beraktivitas. Menurutnya dengan menyibukkan diri dan terus semangat, bisa menghindarkannya dari perasaan sedih dan stres. 

“Di sini kayak di rumah saja. Saya tidak mau terlalu bersedih atau merenung. Kalau merenung gitu malah makin terasa dan jadi stres,” ucapnya  

Sekolah masih AI lanjutkan di balik penjagaan ketat LPKA. Setelah keluar, AI ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang Universitas, dia juga tertarik dengan dunia pertambangan. “Saya tertarik dengan pertambangan. Kalau sudah keluar nanti saya ingin menjadi orang yang lebih baik lagi, tidak ingin jauh dari orang tua lagi,” ujar AI.

Bekal Ragam Ilmu, Mempersiapkan Kehidupan di Luar

Kepala LPKA Kelas II Samarinda Mudo Mulyanto mengatakan, pihaknya memberikan perhatian khusus kepada andikpas. Mulai dari pendidikan, moral, hingga pembinaan rohani. Untuk andikpas yang berstatus muslim mereka tuntun untuk wajib sholat 5 waktu, dan juga pembelajaran fiqih. Termasuk membaca tulis Al-Qur’an dengan metode tilawati yang diadakan setiap dua kali dalam seminggu.

Sementara, yang beragama nasrani mereka mendapatkan kebaktian dan pendalaman Al kitab dua kali seminggu. 

LPKA berusaha memberikan pembinaan dan pembelajaran yang positif. Agar andikpas ketika sudah tidak berada di dalam LPKA lagi, bisa menjalani kehidupan yang lebih baik dan layak. 

“Sepanjang itu positif akan kami dukung. Kami ajak mereka sparing futsal dengan melawan anak-anak dari sekolah lain. Itu salah satu kegiatan Rekreasional, dengan membaurkan mereka dengan masyarakat atau anak-anak di luar LPKA agar saat mereka sudah keluar nanti tidak merasa canggung,” tuturnya.

Mudo berharap dengan kegiatan-kegiatan positif yang sudah dijalani andik pas bisa meningkatkan kapasitas hidupnya lebih baik dari sebelum masuk ke LPKA. Selain itu, andikpas mendapat keistimewaan pada remisi hari anak. Tahun ini ada 30 andikpas di LPKA yang mendapat remisi hari anak.

Pada Sabtu (22/7) dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional pada 23 Juli, pihaknya juga melakukan beberapa kegiatan. Serta tak lupa mendatangkan para keluarga andikpas. (Mediaetam)

baca juga: https://mediaetam.com/menjamin-pendidikan-anak-dari-balik-jeruji/

Bagikan:

Pos terkait