TENGGARONG – Memasuki H+3 Idulfitri, Museum Kayu Tuah Himba di Kecamatan Tenggarong tetap menjadi salah satu destinasi pilihan bagi wisatawan. Meski secara kuantitas jumlah kunjungan mengalami penurunan dibanding tahun lalu, daya tarik koleksi kayu langka dan tanaman obat tradisional Kalimantan Timur tetap memikat antusiasme pengunjung.
Inovasi museum dalam menghadirkan koleksi spesifik menjadi alasan utama bagi warga luar daerah untuk tetap berkunjung ke museum kebanggaan Kota Raja ini.
Koordinator Museum Kayu, Sofian Hadin, mengungkapkan adanya tren penurunan arus kunjungan pada libur lebaran 2026 ini. Durasi cuti bersama yang lebih singkat disinyalir menjadi faktor utama masyarakat lebih memilih berdiam diri atau membatasi waktu wisata.
“Tahun lalu kunjungan bisa mencapai 700 hingga 800 orang. Untuk tahun ini, pada lebaran kedua (Minggu) sekitar 65 orang dan Senin naik ke angka 85 orang. Penurunannya mencapai 50 persen karena waktu libur yang mepet,” ujar Sofian, Selasa (24/3/2026).
Aneka Kayu yang Jadi Favorit Pengunjung
Meski menghadapi tantangan anggaran perluasan ruang pameran, pihak museum tetap berinovasi. Saat ini, terdapat lebih dari 10 jenis kayu baru yang difungsikan sebagai obat tradisional di dalam etalase kaca.
Sejumlah koleksi unggulan menjadi magnet perhatian para pengunjung karena keunikan sekaligus manfaatnya yang jarang ditemui di tempat lain. Salah satunya adalah kayu bajakah, yang namanya telah dikenal luas sebagai bahan alami yang dipercaya memiliki khasiat untuk pengobatan kanker. Tak kalah menarik, pasak bumi dan gaharu turut dipamerkan sebagai koleksi multifungsi yang telah lama dimanfaatkan, mulai dari menjaga kesehatan hingga bahan dasar kosmetik.
Sementara itu, kayu ulin juga menjadi sorotan tersendiri, terutama bagi pengunjung dari luar Kalimantan. Kayu yang kerap dijuluki sebagai “kayu besi” ini memancing rasa penasaran banyak orang untuk melihat dan membuktikan langsung kekuatan serta ketahanannya yang legendaris.
Momentum unik terjadi pada libur lebaran kali ini ketika seorang pengunjung asal Sangatta berusia 50 tahun sengaja datang ke museum dengan misi khusus. Ia mencari Kayu Kerenanga yang dipercaya memiliki khasiat anti-racun untuk pengobatan orang tuanya.
“Beruntung kami memiliki tanaman tersebut di area depan museum. Pengunjung tersebut memang sengaja datang untuk mencari khasiat kayu itu,” tambah Sofian.
Meski puncak kunjungan diprediksi telah terlewati pada Senin kemarin, Museum Kayu Tuah Himba tetap bersiaga menyambut sisa pengunjung di akhir masa libur dengan koleksi-koleksi langka yang menjadi identitas kekayaan alam Kalimantan Timur.
Laporan: Nur Fadillah Indah/mediaetam.com








