Tenggarong – Pemerintah Desa Loa Lepu, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), mulai serius mengembangkan sektor pertanian sebagai langkah mendukung ketahanan pangan desa. Pemanfaatan lahan tidur menjadi fokus utama tahun ini, agar dapat diubah menjadi lahan yang produktif.
Kepala Desa Loa Lepu, Sumali, menyatakan bahwa pengembangan pertanian sejalan dengan visi desa untuk mandiri, tidak hanya dalam hal lingkungan, tetapi juga dalam penyediaan pangan.
“Kita juga mulai membangun pertanian kaitannya dengan ketahanan pangan. Lahan-lahan kosong yang ada di Loa Lepu mulai kita garap tahun ini supaya menjadi lahan produktif,” kata Sumali, Jumat (4/7/2025).
Ia menambahkan bahwa jenis tanaman yang diutamakan adalah hortikultura dan buah-buahan karena masa panennya relatif cepat dan manfaatnya bisa segera dirasakan oleh warga.
“Fokus kita pada tanaman hortikultura, selain itu juga tanaman buah. Untuk buah, di pinggir jalan itu sudah kita tanami pepaya. Nantinya, di sela-selanya akan kita tanami tomat dan cabai lombok,” jelasnya.
Sumali menuturkan, selain untuk mengoptimalkan lahan kosong, langkah ini juga menjadi cara desa menciptakan ketahanan pangan dan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
“Jadi, fokus kita jelas tomat, cabai, dan pepaya. Itu yang cocok dan dibutuhkan masyarakat juga,” ucap Sumali.
Tak hanya lahan pinggir jalan, desa juga menyiapkan area lain di sekitar kantor desa. Salah satunya lahan di belakang kantor yang memiliki karakteristik tanah lebih lembap dan sedang dalam proses pembersihan.
“Nanti kita akan lihat jenis tanaman apa yang cocok ditanam di sana. Karena daerah itu agak basah, perlu kita sesuaikan dulu,” katanya.
Untuk saat ini, pepaya menjadi tanaman utama yang sudah mulai ditanam. Di bekas kantor desa yang berada di tepi jalan, sekitar dua ribu batang pepaya ditargetkan bisa tumbuh secara optimal.
“Kita tanam pepaya cukup banyak, sekitar dua ribuan batang. Itu sedang kita kembangkan di lahan kantor lama, kami menargetkan hasil dari pertanian ini mulai tampak tahun depan, dengan pola tanam berkelanjutan yang melibatkan masyarakat secara aktif,” tandas Sumali.








