TAK mudah menemukan mangrove di hilir Teluk Balikpapan. Keberadaan mangrove, tersisa di hulu teluk. Namun, seiring dengan aktivitas di Teluk Balikpapan yang makin riuh, dengan pembangunan ibu kota nusantara (IKN), mangrove terancam. Hal ini berimbas pada ekosistem di Teluk Balikpapan.
Direktur Eksekutif Pokja Pesisir Nelayan Mapaselle mengungkapkan, upaya perlindungan ekosistem di Teluk Balikpapan memag sangat minim. Pembukaan lahan besar-besaran. Tidak ada tindakan tegas bagi mereka yang melanggar aturan.
“Padahal, dampak pembukaan mangrove itu berbahaya. Dengan pembukaan mangrove, sedimen mudah turun ke laut dan menutup daunnya padang lamun,” jelasnya.
Mereka mengharapkan kawasan konservasi 30 ribu hektare. Namun, Peraturan Daerah (Perda) Kaltim Nomor 2 Tahun 2021 tentang Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, hanya mengakomodasi 1.137 hektare.
Padahal, Teluk Balikpapan memiliki posisi strategis dengan luas daerah aliran sungai (DAS) sekitar 211,5 ribu hektar dan luas perairan sekitar 160 kilometer persegi. Selain itu, terdapat 22 pulau kecil dengan luas mangrove 17 ribu hektare. Namun, sayangnya mangrove itu tidak memiliki penetapan perlindungannya. Nasib ribuan nelayan pun terdampak karena ekosistem teluk yang rusak.
Secara umum keanekaragaman mangrove di sekitar Teluk Balikpapan didominasi jenis mangrove yang resisten terhadap salinitas tinggi. Antara lain Api-Api, Bakau, dan Langadai. Keberadaan formasi mangrove di Teluk Balikpapan tersebar secara parsial. Kondisi ini, disebabkan konversi lahan mangrove karena tingginya pertumbuhan industri yang tinggi di Teluk Balikpapan.
Dari laporan yang turut melibatkan Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (YKRASI), Beberapa riset yang dilakukan di Teluk Balikpapan memaparkan kekayaan hayati mangrove, 20 – 36 jenis mangrove dengan tipe pohon, belukar hingga anggrek. Selain itu, hutan mangrove hanya berada pada pulau-pulau dalam ruang Kawasan Konservasi Perairan, Pesisir, dan Pulau-Pulau Kecil (KKP3K). Pulau-pulau tersebut adalah Pulau Dato besar, Datok kecil, Situndru, Pelarian besar,Pelarian kecil, Tonda / Benawa Besar, Tonda / Benawa kecil, dan Pulau Jepang
Mangrove menjadi buffer zone laut. Ketika semakin banyak lumpur yang mengalir ke laut karena tak ada buffer zone, maka air bakal keruh. Sehingga membuat terumbu karang dan padang lamun kekurangan cahaya. Akibatnya kerusakan di kawasan teluk terus terjadi.
Dalam laporan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kaltim pada akhir 2022, dari hasil survei, secara garis besar terumbu karang masih sangat minim di Teluk Balikpapan. Sebagian besar lokasi yang mereka amati memiliki profil dasar perairan yang tertutupi oleh lapisan lumpur tebal maupun alga. Terumbu karang yang berhasil teramati pada kawasan ini hanya koloni-koloni karang yang tersebar dalam kelompok-kelompok kecil. Sehingga tidak membentuk suatu hamparan terumbu. (redaksi)








