Samarinda- Kain Ulap Doyo merupakan kain tenun tradisional khas Kalimantan Timur (Kaltim).
Kain ini dikenal dari masyarakat Dayak Benuaq yang mendiami daerah Tanjung lsuy di Kabupaten Kutai Barat, Kaltim.
Dikutip dari laman Kemendikbud, sejarah perkembangan tenun tradisional Ulap Doyo ini diperkirakan baru berlangsung pada masa tentara Jepang masuk dan menguasai daerah tersebut.
Ulap doyo artinya adalah daun doyo, daun atau tanaman doyo memiliki serat daun yang kuat sehingga dapat digunakan sebagai benang dan ditenun menjadi kain oleh suku Dayak Benuaq.
Tenun tersebut biasa digunakan oleh laki-laki maupun perempuan suku Dayak, saat merayakan acara adat ataupun tarian khas daerah.
Motif dan warna tenun Ulap Doyo memiliki keunikan tersendiri. Hal ini akan menjadi daya tarik para wisatawan saat berkunjung ke Provinsi Kaltim.
Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Kaltim, Awang Khalik mengatakan bahwa, tenun Ulap doyo merupakan salah satu wastra kreatif yang dihasilkan oleh pelaku ekonomi kreatif di Bumi Etam.
“Di dalam tenun itu, terdapat nilai estetika dan fungsional yang bersifat rohaniah. Misalnya, motif naga yang melambangkan kecantikan wanita, motif perahu yang melambangkan kerja sama, hingga motif harimau yang melambangkan keperkasaan seorang pria, dan masih banyak lagi,” ungkap Awang Khalik menjelaskan motif tenun Ulap Doyo kepada Mediaetam.com.
Dijelaskan Awang bahwa, proses pembuatan tenun Ulap Doyo ini rata-rata menggunakan sistem alami. Tidak menggunakan mesin, tapi penenunan memakai sistem gedogan. Pewarnaannya pun menggunakan rempah-rempah seperti kunyit, pandan, daun ketapang, dan lain-lain.
“Ulap Doyo adalah representasi produk hijau yang mendukung pengurangan karbon dan ramah lingkungan,” jelasnya.
Awang menginginkan agar pelaku wastra bisa lebih sering membuat tenun Ulap Doyo, dengan variasi dan motif yang beragam. Sebab, keunggulan produk tersebut berbasis ekologi, natural, dan kental dengan khas daerah.
“Saya menginginkan agar tenun Ulap Doyo ini bisa terus dilestarikan, mengingat produk ini merupakan kebanggaan khas Kalimantan dan memiliki filosofis yang unik di dalamnya,” tandasnya. (Iswanto/Adv).








