Pemdes Loa Ulung Sebut Perbaikan Jalan, Fokus Utama tahun 2025

Tenggarong – Pemerintah Desa Loa Ulung, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), menetapkan pembangunan infrastruktur jalan sebagai fokus utama pada 2025. Langkah ini diambil untuk mendorong pertumbuhan sektor pariwisata yang kini menjadi andalan desa tersebut.

Kepala Desa Loa Ulung, Hermi Kuaria, menyebutkan bahwa banyak pengunjung mengeluhkan kondisi jalan menuju objek wisata, yang dinilai kurang memadai untuk kendaraan berukuran besar.

Bacaan Lainnya

 

“Kendaraan besar sering kesulitan masuk. Paling hanya bus dengan kapasitas 40 penumpang yang bisa lewat. Kalau yang 50 sampai 55 penumpang, tidak bisa masuk karena jalan terlalu sempit,” ujar Hermi, Kamis (26/6/2025)

 

Keluhan seperti ini, lanjutnya, cukup sering diterima dari para rombongan wisatawan dan menjadi alasan kuat bagi pemerintah desa untuk memprioritaskan pelebaran jalan dalam program pembangunan tahun ini.

Objek wisata di Loa Ulung sendiri dibangun di atas bekas kolam tambang batu bara. Kawasan ini kini disulap menjadi destinasi alternatif yang cukup diminati, di antaranya adalah Taman Gubang, Langit Timur, Dermaga Gadis, Bogenville, dan Taman Seri.

 

“Tanpa sektor wisata ini, mungkin desa kami tidak banyak dikunjungi. Karena itu kami berkomitmen menjadikan wisata sebagai motor penggerak ekonomi masyarakat,” jelasnya.

 

Namun begitu, Hermi menjelaskan bahwa pengelolaan wisata sepenuhnya dilakukan oleh masyarakat, baik secara individu maupun lewat komunitas. Pemerintah desa hanya mengambil peran pada penyediaan sarana dasar seperti jalan, semenisasi, dan lampu penerangan.

 

“Alhamdulillah, sekarang jalan sudah terang. Jadi malam pun pengunjung bisa datang dengan aman,” tutur Hermi.

 

Ia mengungkapkan bahwa meski telah terbentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), koordinasi antar pengelola masih terbatas karena kegiatan operasional sepenuhnya bersifat swadaya.

 

“Pokdarwis ini memang ada, tapi karena sifatnya mandiri, agak sulit mengakses dukungan dana dari desa. Dana desa memang tidak bisa digunakan untuk operasional wisata, jadi semuanya murni dari kantong pribadi pengelola,” jelasnya.

 

Hermi juga menambahkan bahwa geliat pariwisata di desa tersebut telah berkembang selama tiga tahun terakhir. Namun akses dari wilayah tetangga yang belum memadai masih menjadi tantangan tersendiri.

 

“Kami sudah pernah berkoordinasi dengan desa-desa sekitar, termasuk para kepala desanya. Harapannya, akses dari desa tetangga juga bisa dibenahi, supaya mereka ikut merasakan manfaat dari geliat wisata ini,” pungkas Hermi.

 

Bagikan:

Pos terkait