Opini oleh: Firman Hidayat, Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Samarinda
SAMARINDA – Pemilihan Umum (Pemilu) sudah di depan mata. Tak lebih dari 100 hari lagi. Waktu yang cepat. Tanpa terasa, Indonesia akan menghelat hajat nasional. Seluruh rakyat, yang memenuhi syarat sebagai pemilih, akan memilih pemimpin baru. Presiden dan wakil presiden. DPR dan DPRD serta Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Semua yang akan terpilih adalah pengampu kebijakan di negeri ini. Artinya, mereka yang terpilih akan membawa dan menentukan nasib bangsa serta rakyatnya selama lima tahun ke depan.
Sarananya adalah Pemilu. Rakyat secara merdeka menentukan pilihan di Tempat Pemungutan Suara (TPS). Memilih dengan pengetahuan. Dengan hati nurani atas pilihan yang terbaik. Harapannya, mereka yang nanti terpilih akan membawa arah Indonesia menjadi lebih baik. Lebih berguna bagi dirinya, anak dan cucu mereka kelak.
KPU memutuskan, Pemilu akan digelar, Rabu, 14 Februari 2024. Banyak arti terkandung dalam penentuan waktu hari pemungutan suara. Bukan tanpa pertimbangan, KPU menetapkan. Ini tak lebih untuk memudahkan rakyat bisa datang ke TPS. Tidak golput. Harapannya, legitimasi terpilihnya pemimpin terpenuhi.
Jika diurai, waktu pemungutan yang banyak arti. Ditilik dari tanggal pelaksanaannya, harusnya para kaum muda sudah memahami benar. Ya, Hari Valentine atau Hari Kasih Sayang. Tapi maknanya jangan ‘ditelan’ utuh. Makna dalam bahasa demokrasi, memilih dengan ceria, dengan senang hati dan memilih dengan cinta. Cinta dengan pemimpin yang nanti terpilih. Dengan demikian tidak akan terjadi perpecahan, atau konflik lantaran beda pilihan terhadap pemimpin negeri.
Selanjutnya, penentuan Hari Rabu juga bukan tanpa makna. Hari Rabu merupakan hari yang letaknya pas ditengah-tengah dalam tujuh hari. Jadi tak ada istilah hari ‘kejepit’ untuk pemilih pergi plesir. Pergi liburan dan meninggalkan memilih. Hari pemungutan adalah hari yang diliburkan secara nasional. Meski demikian, waktu tidak terlalu berdekatan dengan hari libur, Sabtu juga Minggu.
Jika saja, hari pemungutan pada Senin, memungkinkan ada perpanjangan waktu week end. Begitu juga jika hari Selasa. Memungkinkan memperpanjang libur akhir pekan, karena Hari Senin adalah hari ‘kejepit’.
Begitu juga jika pemungutan Hari Kamis, Jumat merupakan hari ‘kejepit’ dan waktu libur juga akan panjang. Oleh karenanya, Hari Rabu adalah hari yang tepat bagi pemilih dating ke TPS bukan untuk berlibur.
Dengan jargon Pemilu sebagai sarana integrasi bangsa juga tepat. Sedianya rakyat bisa menyalurkan hak pilih sesuai dengan pilihannya. Tak ada lagi kemelut yang tajam sehingga menyebabkan perpecahan. Dengan filosofi hari pemungutan suara, hari kasih sayang, memilih dengan hati yang dingin. Perbedaan pilihan bukan sebagai ajang perpecahan. Hari kasih sayang sedianya mengingatkan untuk tetap berhati dingin.
Tahapan Pemilu semakin maju. Memasuki tahapan genting. KPU sudah menerima pendaftaran bakal calon presiden dan wakil presiden. Ada tiga pasangan hingga hari terakhir pendaftaran. Setelah pendaftaran, obrolan politik langsung mewarnai semua ruang. Di warung-warung kopi, di setiap perkumpulan bahkan sampai di akar rumput. Sedianya perbedaan dukungan tak mempertajam konflik. Perbedaan dimaknai sebagai aset bangsa untuk semakin bersatu memajukan negeri.
Perbedaan dukungan dan pilihan adalah ilmiah. Wajar. Yang tak wajar jika perbedaan dukungan dan pilihan membawa perpecahan. Bukan hanya ditingkat elit, perpecahan sedianya tak terjadi di akar rumput.
Indonesia sedang menuju perkembangan pembangunan. Bahkan, negara kini tengah gencar mensukseskan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. IKN adalah lambang kebesaran Kalimantan Timur dan Kalimantan untuk disambut riang gembira. Dengan suka cita.
Semoga Pemilu serentak 2024 berjalan lancar dan damai. Terlebih lagi Pemilu bisa menjadikan momen pemersatu untuk memajukan Indonesia yang lebih baik. (*)








