Saat Guru Sejarah Belajar Jurnalistik, AGSI Kaltim Kirimkan Delegasi Terbanyak

Para Guru Sejarah Saat Belajar Jurnalistik (dokumen AGSI Kaltim)
Para Guru Sejarah Saat Belajar Jurnalistik (dokumen AGSI Kaltim)

SAMARINDA – Tiga belas guru dari AGSI (Asosiasi Guru Sejarah Indonesia) Kaltim mengikuti Pelatihan Jurnalistik secara daring.

AGSI Pusat menyelenggarakan pelatihan ini pada Rabu-Kamis (2-3/08 /2023). Dalam pelatihan ini AGSI Kaltim. Mengirimkan tiga belas perwakilannya. AGSI Kaltim mendapat apresiasi dari Presiden AGSI. 

Tiga belas delegasi AGSI Kaltim tersebut adalah guru SMA sederajat dari berbagai penjuru Kaltim. Total, dari seluruh Indonesia ada 93 guru yang turut serta dalam pelatihan ini.

Mereka mengikuti kelas dengan pemateri dosen Desain Komunikasi Visual Universitas Negeri Malang (UM)  Andreas Syah P. Selain itu, juga ada pemateri Heni Purwono Guru Sejarah SMA Negeri 1 Sigaluh Banjarnegara sekaligus sebagai Ketua AGSI Propinsi Jawa Tengah. 

Ketua Bidang Humas PP AGSI Marfianto dalam sambutannya juga memberikan apresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada AGSI Kaltim yang mengirim delegasi terbanyak untuk mengikuti Pelatihan Jurnalistik ini. 

Dalam pelatihan ini para peserta akan diberikan ilmu tentang cara membuat flyer digital dan cara menulis berita langsung dengan baik dan benar. Sehingga harapan kami setelah pelatihan ini para peserta bisa mempublikasikan segala kegiatan AGSI di daerahnya masing-masing,” ujar Marfianto.

Dalam sambutannya, Presiden AGSI Sumardiansyah Perdana Kusuma mengatakan, kegiatan ini bertujuan agar para guru mendapatkan kemampuan profesionalnya melalui kompetensi dalam membuat atau menulis berita. 

“Guru dan Dosen bukan profesi biasa, yaitu memiliki kompetensi. Sejarah harus membuka diri dan inklusif terhadap ilmu lain. Ke depan, jejak sejarah juga ada di media sosial, perjuangan AGSI akan menjadi jejak sejarah. Dan guru sejarah bukan katak dalam tempurung,” lanjut Sumardiansyah.

Jadi Bekal Menghadapi IKN

Terpisah, Ketua AGSI Kalimantan Timur Joni mengapresiasi tiga belas peserta AGSI Kaltim.  Menurutnya, guru sejarah zaman sekarang harus memiliki kemampuan update. Seperti  memiliki kemampuan dalam membuat flyer digital. Hal ini sebagai upaya membudayakan literasi yang cocok dengan dunia anak-anak sekarang. Selain itu guru Sejarah harus memiliki kemampuan jurnalistik sebagai sarana dalam mendokumentasikan segala kegiatan yang dilakukan oleh guru Sejarah di sekolah masing-masing. 

“Tentunya kemampuan-kemampuan tersebut sangat mendukung dan relevan dengan keberadaan pembangunan Ibukota Negara (IKN) di Kalimantan Timur yang mengusung smart city. Kesimpulannya guru Sejarah di Kalimantan Timur harus bisa mengambil bagian dalam Pembangunan IKN, namun syaratnya harus memiliki kompetensi salah satunya kompetensi IT dan kemampuan dalam membuat jurnalistik,” tutupnya. (Joni)

Bagikan:

Pos terkait