Habis Fano-Leo Terbitlah Peralta-Caxambu

Peralta dan Caxambu berpotensi mengulangi kisah sukses duet Leo dan Fano. (BFCS)

Borneo FC telah kehilangan Stefano Lilipaly dan Leo Guntara secara bersamaan musim ini. Keduanya bukan hanya individu yang hebat, tapi juga duet terbaik di sisi kiri –sepanjang sejarah Pesut Etam pada 3 musim terakhir. Namun lubang besar yang mereka tinggalkan, rasanya akan, atau sudah tertutupi dengan potensi duet ciamik Peralta-Caxambu.

Stefano Lilipaly telah merumput 108 kali bersama Borneo FC Samarinda di semua ajang. Membuat 29 gol dan 36 asis. Catatan itu ia buat pada usia di atas 30 tahun. Usia yang dianggap sudah tidak produktif lagi di sepak bola Indonesia. Ini berarti satu hal, Fano adalah pesepakbola dengan talenta luar biasa.

Bacaan Lainnya

Setelah periode suksesnya berasama Bali United usai, ia masih mampu mendapat prime keduanya bersama Borneo. Perannya kompleks, sebagai kreator peluang dan pencetak gol sekaligus. Walau hanya 3 musim, eks wakil kapten Pesut Etam itu layak dimasukkan dalam daftar pemain terbaik klub sepanjang sejarah.

Meski kerap menggendong tim, Fano sejatinya bukanlah manusia super yang mampu bermain sendirian. Dia tetap butuh tandem.

Matheus Pato, Felipe Cadenazzi, Wiljan Pluim, M. Sihran, hingga Peralta adalah deretan tandem terbaiknya di lini depan. Namun ada dua nama yang layak mendapat tempat lebih istimewa. Karena selain menjadi tandem, keduanya adalah ‘pelayan’ terbaik Stefano. Mereka adalah Adam Alis dan Leo Guntara.

Duet Leo-Fano sangatlah ikonik. Keduanya adalah pemain yang berposisi di sisi kiri –sebagai penyerang dan bek. Memang tak kebal dari rotasi, tapi tetap tak bisa dipungkiri bahwa duet ini telah membuat banyak cerita hebat.

Fano adalah motor serangan tim, keberhasilannya tak lepas dari dukungan Leo Guntara yang rajin overlap –baik untuk menjadi sasaran oper, pengalih perhatian, ataupun menarik lawan agar memberi ruang untuk Fano.

Soal chemistry, jangan ditanya lagi. Tanpa melihat pun, Fano bisa mengoper bola ke Leo dengan tepat. Bersama Leo, Fano mampu memberi banyak magis karena percaya pria asal Padang selalu ada untuk mem-back up-nya.

Peralta Adalah Suksesor Stefano

Sebelum liga bergulir, Fabio Lefundes tanpa keraguan sedikitpun menyatakan bahwa motor serangan Pesut Etam saat ini adalah Mariano Peralta. Pemain lain harus bermain di sekitar Peralta saat melakukan serangan. Itu adalah bahasa sederhana dari: Peralta menggantikan peran Stefano Lilipaly yang melegenda.

Untuk mencapai level itu, Peralta harusnya tak susah. Ia punya skill set yang kurang lebih Stefano. Juga punya pengalaman 1 musim bersama Pasukan Samarinda. Modal dasar sudah punya.

Yang justru menjadi kekhawatiran Lefundes adalah siapa penerus Leo Guntara? Meskipun belum sempat melatihnya, pelatih Brasil menilai Leo adalah sosok yang kuat di pos bek kiri. Ia memfavoritkannya, tapi harus menerima kenyataan tak bisa bekerja sama dengannya.

Haykal Alhafiz dan Rayhan Utina didatangkan. Punya potensi sebagai individu yang mantap, tapi ada keraguan langsung mampu melayani Peralta.

Caxambu Pelayan Ideal Peralta

Kebimbangan itu akhirnya berakhir ketika klub berhasil mendapatkan jasa Caxambu. Bek kiri asal Brasil itu sejak hari pertamanya langsung memikat Lefundes. Seolah berkata, “Tenang, Pak Prabowo, saya di sini.” Eh.

Soal kualitas, pemain 28 tahun itu punya kapasitas. Yang kurang darinya adalah waktu adaptasi. Sehingga di laga perdana kontra Bhayangkara, Caxambu dan Peralta masih tampak bermain sendiri-sendiri.

Pemandangan berbeda terlihat pada laga kedua kontra PSBS. Peralta dan Caxambu telah menemukan ritmenya. Punya ikatan dalam permainan. Dan akhirnya saling mendukung dalam proses menyerang.

Memang baru 2 laga, belum cukup waktu untuk memberi penilaian. Tapi potensinya terlihat jelas, bahwa Habis Leo-Fano, Terbitlah Peralta-Caxambu. (gis)

Bagikan:

Pos terkait