Bagi Fabio Lefundes dan Dandri Dauri, pertandingan Borneo FC kontra Madura United besok lebih dari sekadar laga lanjutan Super League. Karena ada luka yang ditinggalkan oleh Sape Kerab pada keduanya. Dan kemenangan di Segiri adalah satu-satunya obat penawar luka batin tersebut.
Oleh: Ahmad A. Arifin (Dang Tebe) –Pengamat Borneo FC
Borneo FC akan menjamu Madura United di Stadion Segiri, dalam lanjutan Super League musim 2025/26, Sabtu malam, 22 November 2025. Pesut Etam sedang dalam kepercayaan diri tinggi, usai menyelesaikan seluruh laga musim ini dengan kemenangan. Kini mereka tengah mengincar perpanjangan 2 rekor sekaligus, yakni rekor kemenangan terpanjang di Liga Indonesia (sudah pecah pekan lalu), dan kemenangan terpanjang di awal musim kompetisi modern Indonesia (sebelumnya 3 kemenangan beruntun).
Sementara untuk Madura United, mereka butuh poin untuk menjauhkan diri dari zona degradasi. Saat ini tim asal Jawa Timur hanya berselisih 5 poin dari peringkat 16. Pertandingan besok pun diprediksi berlangsung ketat dengan tensi tinggi.
Pembuktian Fabio Lefundes
Madura United adalah tim yang akan selalu mendapat tempat spesial di hati Fabio Lefundes. Sebab di tim asal Pulau Garam itulah, untuk pertama kalinya dalam karier sepak bolanya ia menjadi seorang pelatih kepala.
Untuk diketahui, Lefundes memulai kariernya sebagai pelatih fisik. Setelah 17 tahun menjalani profesinya itu, ia akhirnya mendapat kesempatan berpindah karier ketika diminta menjadi caretaker di Jeonbuk Hyundai pada tahun 2012. Ia memimpin Jeonbuk memainkan 22 laga, selama periode Kang-hee Choi menukangi Timnas Korea Selatan.
Pada tahun 2017, Lefundes berpindah klub dan menyandang status asisten pelatih di SD Luneng. Ia banyak belajar selama menjadi tangan kanan pelatih legendaris China: Xiaopeng Li.
Tiga tahun di China, Lefundes pulang ke negaranya, juga untuk menjadi asisten pelatih di Botafogo. Pekerjaannya di klub tersebut berjalan singkat, hanya 6 laga selama 25 hari saja.
Ia rela menyudahi kontraknya lebih cepat karena ada kesempatan menjadi pelatih kepala –posisi yang ia idamkan sejak lama, dari klub asal Indonesia, yakni Madura United.
Fabio Lefundes datang ketika Liga 1 sudah berjalan 12 pekan. Menggantikan Rahmad Darmawan yang gagal membawa Madura United menjaga tradisi papan atas. Lima hari setelah diumumkan sebagai nakhoda anyar Sape Kerab, pria Brasil langsung menjalani debutnya sebagai pelatih kepala, untuk pertama kali dalam hidupnya di sana. Laga bersejarah itu berakhir dengan kemenangan pertama Lefundes sebagai pelatih kepala, usai menundukkan Persik dengan skor 2-0.
Hingga akhir musim, Madura United meraih 8 kemenangan, 5 imbang, 8 kekalahan dan finis di posisi ke-9 bersama Lefundes. Pada musim berikutnya, Lefundes mendapat dukungan besar dari klub. Mulai dari penyesuaian staf pelatih hingga kebijakan transfer.
Hasilnya langsung terlihat, di pekan pertama, Madura langsung menang besar 8-0 dari Barito Putera. Hingga pekan ke-10, mereka menang 7 kali, imbang 2 kali, dan hanya sekali kalah. Favorit juara.
Namun gelombang besar datang, Madura menjalani fase naik turun. Puncaknya, dari pekan ke-19 hingga ke-28, mereka hanya meraih 1 kemenangan, 3 imbang, dan 6 kekalahan. Rangkaian hasil buruk ini membuat Lefundes tertekan dan merasa frustasi.
Tekanan besar datang, hubungan di internal klub ikut terimbas. Namun puncak keresahan Lefundes, setidaknya yang terungkap di media, adalah ia merasa tertekan dan frustasi karena tak mampu mengendalikan permainan anak asuhnya ketika bertanding. Padahal pemahaman taktik dari pemain sudah ia pastikan benar selama sesi latihan. Tapi setiap bertanding, buyar begitu saja.
Atas alasan itu ia mengundurkan diri setelah kekalahan dari Borneo FC dengan skor 1-0. Ia pergi saat kompetisi menyisakan 7 pertandingan lagi, dengan membawa luka di hati.
Petualangan selanjutnya di Persita tak berjalan lebih baik. Cenderung lebih buruk jika berpatok pada presentase kemenangan.
Belum menyerah, Lefundes mengetuk pintu Borneo FC untuk menjadi juru taktik selepas kepergian Joaquin Gomes. Hari-hari berikutnya, ia akhirnya menemukan sesuatu yang ia cari.
Pembuktian Sang Pelatih
Di Borneo FC, meski tidak diberi skuad mewah. Bahkan tidak lebih ‘mahal’ dari skuad yang ia tangani saat membesut Madura. Namun di klub Samarinda, Lefundes mendapatkan dukungan yang berbeda.
Yang paling mencolok adalah keseriusan manajemen menata keharmonisan dan kondusifitas ruang ganti. Klub membuat para pemain nyaman dan saling terikat. Membuat chemistry terbangun dan terus terjaga. Hal non teknis yang kemudian memudahakan pekerjaan Lefundes sebagai juru taktik.
Walaupun kadang ada hal-hal di lapangan yang di luar kendalinya, namun secara umum, ia menilai para pemain mampu menerjemahkan taktiknya lewat permainan. Di luar hasil positif yang diraih, ia mengaku puas dengan respons pemain pada taktik yang ia buat setiap pekan.
Sampai sekarang, tak ada yang tahu isi hati terdalam Fabio Lefundes. Apakah ia menyimpan dendam atau tidak terhadap Madura. Namun yang pasti, saat ini ia sudah menjadi pelatih yang berbeda. Ia satu-satunya pelatih yang meraih 10 kemenangan beruntun di Liga Indonesia. Capaian yang didapat dari koneksi kuat antara pelatih, pemain, dan manajemen. Nanti malam, kemenangan atas Madura adalah hal yang paling ia inginkan. Demi koleksi poin Borneo FC, demi pendukung yang hadir ke stadion, dan demi dirinya sendiri –yang dulu mengalami patah hati di klub pertamanya sebagai pelatih.
Singa Terluka; Dandri Dauri
Lain Lefundes lain pula Dandri Dauri. Kisahnya bukan karena keterikatan dengan Madura United. Namun klub Pulau Garam pernah menghadirkan patah hati terbesar untuk sang manajer.
17 April 2024, Madura United bertamu ke Stadion Batakan dalam lanjutan Liga 1 musim 2023/24. Borneo FC yang menjalani musim fantastis, tak tergoyahkan di puncak klasemen, dan sedang mencatat unbeaten di 19 pertandingan. Harus takluk dari Madura di kandang (sementara) sendiri. Skornya tak main-main, 4-0!
Laga itu bikin sesak, tapi bukan pertandingan yang menghancurkan Dandri. Hari sial itu hadir satu bulan kemudian. Masih di tempat yang sama, Stadion Batakan. Pesut Etam menjamu Sape Kerab di leg kedua semifinal Championship Series Liga 1. Mereka butuh keunggulan 2 gol untuk lolos ke partai final yang diimpikan.
Di musim itu, bukan hanya Dandri, semua pecinta sepak bola sepakat Borneo FC akan mencapai partai final, atau bahkan mengunci gelar juara. Seburuk-buruknya, mereka mendapat jatah bermain di kompetisi Asia lewat jalur runner-up. Tapi semua mimpi itu sirna. Tidak ada bintang pertama, tidak ada kompetisi Asia.
Pesut Etam justru terjungkal ke jurang ekspektasi. Untuk ketiga kalinya secara beruntun, mereka kalah dari Madura di musim itu. Kekalahan terakhir dengan skor 2-3 (agregat 2-4) adalah yang paling menghancurkan.
Semua orang yang terhubung dengan Borneo FC sampai kehabisan akal untuk menerima kenyataan pahit itu. Ketika tak ada yang mampu menegakkan kepala, masih di lapangan, usai pertandingan. Ia mengambil pengeras suara, lalu menyampaikan permohonan maafnya pada suporter.
Pidatonya tegas, suaranya keras, seperti biasa. Ia mengambil semua tanggung jawab atas kegagalan menuju final. Sekilas, tak ada bedanya dengan Dandri seperti biasanya. Tapi siapa sangka, itu menjadi terakhir kali Dandri mendampingi timnya. Karena setelah malam itu, ia melepas semua aktivitas sepak bola. Pergi menyendiri untuk menenangkan batinnya yang luluh lantak.
Bayangkan, Dandri Dauri adalah sosok paling keras di tim. Orang yang setiap hari menempa mental para pemain. Tapi di malam itu, ia sendiri gagal menata mentalnya. Bukti bahwa patah hati yang timbul besar tak terkira.
Setahun lamanya Dandri menyepi. Lalu kembali di awal musim ini, sebagai sosok yang berbeda. Tetap keras namun lebih bijaksana. Dia telah belajar banyak hal dalam penepiannya.
Malam nanti, Peralta dkk sudah selayaknya meraih kemenangan. Bukan sekadar menjaga marwah Segiri dan terus berlari di puncak klasemen. Tapi untuk memberi obat penawar luka terbaik untuk sang manajer. (has)








