Kisah Zahra, Juara I Resensi Novel Se-Kaltim yang Ingin Bangun Perpustakaan

Adji Zahra Mahdiyyah (kiri) bersama ibunya Helda Mildiana saat menerima penghargaan resensi novel pada perlombaan di tingkat kabupaten. [Elton Wada / Mediaetam.com]
Adji Zahra Mahdiyyah (kiri) bersama ibunya Helda Mildiana saat menerima penghargaan resensi novel pada perlombaan di tingkat kabupaten. [Elton Wada / Mediaetam.com]

“Kecintaannya terhadap dunia literasi tidak ingin diakhirinya begitu saja. Kelak, Zahra ingin membangun perpustakaan dari uang hasil kerjanya sendiri. Siapapun boleh mengunjungi perpustakaan itu, terutama anak-anak. Agar mereka dapat lebih cerdas dalam memilah informasi, mana yang benar dan mana yang hoaks.”

Oleh: Elton Wada – Berau

Air matanya tumpah. Tangisnya pecah. Dirinya tak pernah menyangka akan menjadi yang terbaik dari peserta lainnya.

Itulah perasaan Zahra, ketika namanya disebut dari balik microfon sebagai peserta terbaik dalam lomba resensi novel tingkat SMA, se-Provinsi Kalimantan Timur.

Meraih juara satu, tentu menjadi impian semua orang. Remaja bernama lengkap Adji Zahra Mahdiyyah yang kini berusia 18 tahun ini pun, mengimpikan hal yang sama. Kecintaannya pada novel telah membawanya ke posisi itu.

Kepada jurnalis media ini, Jumat (10/02/2023), Zahra mengaku bahwa menempati posisi pertama dalam perlombaan itu membuat perjuangannya sangat terasa dan tidak sia-sia.

Sejak duduk di bangku PAUD, dia sudah gemar membaca. Bahkan, menjadi seorang “kutu buku” telah menjadi habitusnya sejak dini.

Namun, siapa sangka, ketertarikannya pada buku bermula dari dongeng. Setiap hari sebelum terlelap dalam tidur, ibunya selalu membacakan dongeng-dongeng untuknya.

Dongeng-dongeng itu membuat Zahra memberi perhatian lebih pada buku. Baginya, buku-buku mampu menenggelamkan sensasi dan imajinasi pembacanya dalam rak-rak wawasan.

“Karena itu saya menyukai buku, terutama novel. Genre yang saya suka itu fantasi, misteri, teka-teki, dan percintaan,” ucap remaja yang saat ini duduk di bangku kelas 12 MAN Berau.

Alhasil, banyak novel telah dilahapnya. Nama-nama pengarang seperti Andrea Hirata, Sir Arthur Conan Doyle, Pramoedya Ananta Toer, dan Tere Liye tidak lagi asing baginya.

Kendati demikian, dari sekian banyaknya novel yang telah dia baca, ada satu novel yang sangat berkesan baginya. Novel itu berjudul Orang-orang Biasa (Ordinary People), karya Andrea Hirata.

Bagi Zahra, novel itu telah membuka mata batinnya untuk melihat cakrawala kemungkinan (horizon of possibility) dunia dan peradabannya secara lebih luas.

“Dari novel itu saya dapat mengetahui bahwa ternyata di luar sana, banyak sekali anak-anak miskin yang cerdas namun tidak bisa melanjutkan sekolahnya karena terkendala keuangan,” kisahnya.

Kendala ekonomi dan finansial itu, menurutnya, menyebabkan terjadinya banyak ketimpangan sosial yang memicu munculnya konflik, seperti maraknya kasus penjarahan dan pencurian.

Pengalaman anak-anak yang dikisahkan dalam novel itu, membuatnya ingin lebih bersyukur lagi atas hidup yang sedang dijalaninya.

Lebih dari itu, siap berempati pada teman-teman sepergaulan yang membutuhkan kehadirannya.

Andrea Hirata rupanya benar-benar menginspirasi Zahra. Novel Orang-orang Biasa lalu menjadi judul novel yang diresensinya pada perlombaan tingkat Kabupaten Berau.

Memang, Zahra sempat ragu menerima tawaran dari gurunya untuk mengikuti perlombaan yang diadakan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Berau tersebut.

Namun, berkat dorongan yang selalu saja datang, Zahra memberanikan dirinya, walau belum pernah mengikuti perlombaan yang sama. Dari dalam dirinya terkumpullah kekuatan untuk menerima tawaran itu.

Alasannya untuk mengikuti perlombaan itu pun amat sederhana. Ia ingin menantang kemampuannya. Selain itu agar masa kelas 11-nya tidak berjalan begitu datar.

“Kan, bosan juga tuh kak, kalau sehari-sehari cuma sekolah, pulang, makan, lalu tidur,” ungkapnya.

Potensi dari dalam diri dan tawaran dari luar itu melapangkan hati Zahra untuk mengikuti lomba. Ia pun siap melewati dua tahapan seleksi yang disiapkan panitia lomba tingkat kabupaten.

Tahap pertama, seleksi naskah resensi. Orang-orang Biasa karya Andrea Hirata jadi referensi. Setelah menyelesaikan resensi, teks itu lalu dikirim ke panitia untuk dinilai layak masuk 10 terbaik.

Zahra masuk nominasi itu dan berhak melangkah ke tahap pemaparan/presentasi dan tanya jawab dengan juri.

Rupanya, dia mampu memukau perhatian para juri dan membawa pulang piala, piagam, dan uang tunai Rp 1 juta lebih dari kabupaten dan berhak menuju Samarinda.

Tahap dan dinamika lomba di Samarinda sama persis dengan yang terjadi di kabupaten. Bedanya, Zahra mesti meninggalkan sejenak Andrea Hirata dan berkutat dengan Novel Gampiran-Takdir Munita, karya Inni Indarpuri.

Novel itu mengisahkan Munita yang lahir sebagai buaya jadi-jadian. Munita tinggal di kedalaman sungai dan dipercaya oleh masyarakat Kaltim sebagai gampiran yang memiliki kembaran bernama Monika.

Berbeda dengan Munita, Monika terlahir sebagai manusia dan tinggal bersama sang ibu di daratan.

Namun, buaya jadi-jadian ini memiliki andil bagi perubahan nasib Kampung Sangta, yang menjadi latar tempat dibuatnya novel itu.

Sangta, kononnya, sangat asri, tetapi menjadi rusak parah akibat keserakahan manusia karena aktivitas penebangan hutan, penambangan batubara, dan sebagainya.

Tak dapat bertahan pada takdir, Munita pun berubah menjadi manusia normal untuk mengembalikan keasrian Kampung Sangta.

Novel yang dilombakan pada tingkat provinsi itu, menghadirkan langsung penulisnya, Inni Indarpuri. Bersama dewan juri lainnya, Inni Indarpuri menyeleksi 6 teks resensi yang masuk.

Hati Zahra campur aduk dihantui perasaan susah, sedih, senang, cemas dan khawatir ketika mengikuti perlombaan itu.

Lawan lomba pun dianggapnya cukup berat karena berasal dari sekolah-sekolah favorit, di antaranya SMA YPK Bontang, SMAN 3 Bontang, SMAN 2 Sangatta Utara, SMAN 2 Balikpapan dan SMAN 3 Tenggarong.

Namun, Zahra tak patah arang. Kata minder dibuangnya jauh-jauh. Berhadapan dengan siswa-siswi dari sekolah-sekolah favorit itu, Zahra memacu dirinya untuk makin giat dan semangat. Dia berusaha memberikan yang terbaik dan tampil percaya diri.

Saran dan dukungan, baik moril maupun materiil, dari keluarganya, pihak MAN Berau, Bapak Ali Muttaqin, teman-teman terdekat, dan pembimbing lombanya, seorang guru Bahasa Indonesia, Fikri Setiawan, menjadi daya dobrak yang luar biasa, mengatasi keresahan hatinya.

Kesungguhan dan totalitas yang ditaburinya itu akhirnya membuahkan hasil. Dewi Fortuna kembali berpihak pada Zahra. Sekali lagi, dirinya keluar sebagai pemenang. Sertifikat, piagam (plakat), dan uang tunai Rp7.000.000,- berhasil dikantonginya.

Zahra pun diberikan kesempatan untuk mengikuti tour literasi yang diselenggarakan oleh Dispusip di Jakarta, selama tiga hari.

Atas prestasi yang diraihnya itu, Zahra berharap agar kecintaannya terhadap dunia literasi tidak hanya berhenti sampai di situ.

Jika sudah memiliki penghasilan sendiri di masa depan, dia ingin membangun perpustakaan. Siapapun boleh mengunjungi perpustakaan itu, terutama anak-anak.

Pasalnya, dewasa ini, anak-anak lebih banyak menghabiskan waktunya di depan gadget daripada membaca buku.

Kehadiran perpustakaan itu, diharapkannya mampu menumbuhkan budaya dan minat baca anak-anak.

“Supaya saat dewasa nanti, mereka lebih cerdas lagi dalam mencerna dan memilah informasi; mana yang benar dan mana yang hoaks,” harapnya.

Impian dan cita-cita Zahra itu kelihatan tidak main-main. Di rumahnya saat ini sudah ada banyak buku yang terpajang di perpustakaan pribadinya.

Buku-buku itu dibelinya di Gramedia, di toko-toko buku, dan sebagian lainnya merupakan hadiah atau pemberian orang lain.

Buah hati pasangan Adji Sumarly Saputera (wiraswasta) dan Helda Mildiana (jurnalis), serta adik/kakak, Adji Mutiara dan Adji Ayuni Khairunnisa ini; mengucapkan terima kasih untuk semua orang yang telah membantunya.

Pasalnya, perlombaan yang telah dilaluinya pada November 2022 lalu itu, membawa kenangan tersendiri baginya.

Begitu pula novel-novel yang membahas masalah-masalah sosial, budaya, politik, dan ekonomi yang telah dibacanya.

Pada akhir percakapan dengannya, kepada jurnalis media ini, Zahra menyodorkan sepenggal kutipan yang penting baginya dalam novel Gampiran – Takdir Mutina yang diresensinya.

Tak hanya penting bagi Zahra. Kutipan yang menggelitik ini patut pula kita renungkan, dalami, dan temukan relevansinya dalam hidup kita masing-masing.

Demikian kutipan itu: “Efek pembangunan sudah berkembang tidak wajar. Anak-anak sudah tidak nyaman berada di sekolah. Debu-debu itu sudah sangat mengganggu pelajaran. Orang tua mereka kehilangan pekerjaan sebagai petani.

Sangat kontras dengan areal pertambangan yang terus mempekerjakan deru mesinnya siang dan malam, 24 jam tanpa kenal lelah demi mengejar target menguras isi perut bumi Sangtana hingga ludes. Haruskah, masa depan anak-anak kita terenggut oleh kepentingan sesaat?” (*)

Bagikan:

Pos terkait