Mediaetam.com, Samarinda – Sorotan mata Septian Muhammad Bagus tajam kepada setiap pengendara yang melintas depan tokonya, Raja Bagus, di kawasan Citra Niaga, Selasa (5/7/2022) siang.
Sesekali ia menguap. Segelas kopi yang dipesan dua jam sebelumnya, menemaninya melawan rasa kantuk. Pria 26 tahun itu, menunggu pengunjung membeli barang dagangan miliknya.
Ada sarung tenun motif lokal, kain ulap doyo, mandau, taming, sumpit, kaos, hingga kalung manik-manik Dayak.
Sejak pagi hingga siang, tak banyak pengunjung yang mampir. “Kalau pun ada, hanya lihat-lihat,” ungkap Bagus saat ditemui media ini di Citra Niaga, Selasa.
Tak hanya Bagus, Rahim (28) penjaga toko sebelah juga demikian. Rahim tak bisa berbuat banyak, selain bersabar menunggu jualannya diserbu warga kota.
Kendati begitu, kawasan Citra Niaga sejak beberapa tahun terakhir mengalami penurunan pengunjung. Turunnya pengunjung Citra, dipengaruhi banyak faktor.
Tapi satunya di antaranya, menurut Rahim, fasilitas pendukung Citra yang tak diurus Pemerintah Kota Samarinda.

“Sebelum Covid-19 bisa tembus Rp 3 juta per bulan, tapi setelah Covid-19 bisa tidak ada penjual,” kata Bagus.
Penjaga toko lain, Lina (48), nasibnya lebih miris. Dia kerja di toko souvenir dengan upah per hari Rp 50.000. Jika, penjualan merosot hingga nol persen, ia otomatis tak digaji.
“Sepi banget. Perlu banyak promosi pemerintah tempat ini,” kata Lina.
Seturut Lina, Rahim meminta Pemkot Samarinda harus konsisten memperbaiki infrastruktur pusat perbelanjaan di Citra Niaga. Hal itu agar menarik minat pengunjung.
“Biar banyak yang datang. Kami kemarin minta atap pendopo Citra dibaiki saja tidak ada,” keluh Rahim.
Rahim mengaku tak berharap lebih dari Pemkot Samarinda mendorong peningkatan pusat perbelanjaan yang sempat moncreng di zamannya itu.
“Percuma mau diharap tapi enggak dibaiki juga. Jadi apa yang mau diharap,” keluh pria yang sudah 12 tahun bekerja ini.
Asisten II Sekretariat Daerah (Setda) Kota Samarinda, Sugeng Chairuddin membantah pemkot tak mengurus Citra.
“Sudah ada perencanaan kok itu, nanti kami bakal dorong biar ramai lagi,” ungkap Sugeng saat dihubungi media ini.
Sebagai karyawan, Rahim, Lina maupun Bagus hidup dengan pendapatan seadanya.
Bagus mengisahkan kisah sulit saat ia dan keluarganya terserang Covid-19. Saat itu, ia tak bisa bekerja.
“Otomatis pendapatan turun juga. Memang masa sulit banget saat itu,” kisah dia.
Namun, perlahan keadaan itu membaik, seiring meredahnya Covid-19 di Kota Samarinda.
“Meski pun tak banyak. Tapi cukup ketimbang dulu (saat Covid-19 tinggi),” terang Bagus.
Mengutip data Dinas Pariwisata Kota Samarinda, jumlah pelaku UMKM yang berjualan di Citra Niaga sebanyak 224 UMKM. Pantauan lapangan, rata-rata petak jualan mereka berukuran 3 x 4 meter.
Masa Kejayaan Citra Niaga
Jejak sejarahnya, kawasan Citra Niaga punya masa kejayaan, 1978. Penggiat Sejarah Lokal Kaltim, Muhammad Sarip mengungkapkan, saat itu kawasan Citra Niaga jadi destinasi hiburan, pusat perbelanjaan hingga pusat kuliner.
“Pengunjungnya dari mana-mana, bahkan dari wilayah di sekitar Samarinda datang ke Citra,” ungkap Sarip melalui keterangan tertulis kepada media ini.
Bahkan setiap akhir pekan, kata Sarip, kawasan itu digelar pertunjukan seni tradisi seperti mamanda, atraksi sirkus, sulap, konser musik, dan lainnya.
“Jadi lokasi primadona,” kata dia.
Sarip menerangkan, kawasan Citra Niaga direhab dari kawasan kumuh. Konsepnya, mengadopsi perpaduan tradisional dan modern.
Pada 1989, kawasan Citra Niaga dianugerahi penghargaan Aga Khan Award for Architecture, setelah diresmikan oleh Menteri Tenaga Kerja, Sudomo.
Atas capaian tersebut, Wali Kota Samarinda kala itu yang dijabat A Waris Husain menerima langsung trofi Aga Khan di Kairo, Mesir.
Perlu Peran Pemerintah
Para pelaku UMKM, Bagus, Rahim maupun Lina meminta pemkot Samarinda mengembalikan masa kejayaan Citra.
Asisten II Sekretariat Daerah (Setda) Kota Samarinda, Sugeng Chairuddin mengatakan awal 2020, Pemkot Samarinda berupaya merevitalisasi sejumlah fasilitas di Citra Niaga.
Upaya tersebut dilakukan guna mendorong Citra Niaga berubah lokasinya, menjadi pusat ngopi anak muda.
“Itu sudah ada perencanaannya. Nanti dibikin ramai lagi,” kata Sugeng.
Sugeng meminta masyarakat bersabar terlebih para pelaku UMKM di kawasan Citra Niaga. (Zk)
Editor: Maulana








