Hasan tidak memiliki pengalaman dalam berkebun. Dia hanya memiliki hati, tekad, dan keberanian untuk berkebun. Setelah usaha kayunya tutup, dia tak memilih tambang dan sawit. Dia inginkan jeruk dan pohon karet.
Elton Wada – Berau
Mediaetam.com – Mentari siang pukul 14.30 Wita dari langit Sukan Tengah, RT 02 yang cerah, memang sungguh menyengat.
Namun, langkah kaki Hasan tak urung berhenti. Dari pondoknya, pria berusia 73 tahun itu masih tegar berjalan menuju kebunnya untuk bekerja.
Ditemui jurnalis media ini, Selasa (14/03/2023) siang, Hasan masih terlihat kuat walau keriput di wajahnya tidak membohongi usianya.
Di atas lahan miliknya, Hasan memutuskan untuk berkebun walau tak memiliki pengalaman di bidang itu.
Rupanya, ada pengalaman tersendiri yang membuat Hasan lebih memilih menjadi pekebun jeruk dan karet daripada sawit.
Pada tahun 1970-an dirinya sudah mengenal sawit. Usia produktif sawit, menurutnya, hanya sampai 20 tahun. Setelah itu, pohon sawit mesti ditebang.
Jika usia sawit tak lagi produktif dan mesti ditumbang, tanah yang ditinggalkannya tidak lagi subur. Berikutnya, tak ada tanaman yang bisa hidup dari bekas lahan itu.
Perusahaan tentu mampu menggali akar-akar sawit dan menyuburkannya kembali dengan persediaan pupuk yang banyak.
Namun, masyarakat biasa, apalagi tanpa modal ekonomi yang cukup, tentu tidak mampu melakukannya.
Selain itu, bekerja di sawit juga sangat melelahkan. Bila ada kecelakaan kerja, nyawa bisa jadi taruhannya.
Sejumlah alasan dari pengalaman pribadinya itu membuat Hasan sejenak melupakan sawit lalu ingin menetap lebih lama di atas lahan jeruk.
Namun, sebelum memutuskan untuk giat di perkebunan jeruk, Hasan adalah seorang pengusaha kayu berkualitas ekspor.
Usaha kayu itu digelutinya sejak tahun 1985 hingga tahun 2000-an. Karena krisis moneter 1998, usaha kayu itu terpaksa ditutup.
Dengan modal awal yang diyakini cukup, Hasan lalu membeli lahan masyarakat di Sukan Tengah untuk usaha karet dan jeruknya.

Lahan karet dan jeruk yang kini digarapnya itu mulanya merupakan hutan dan daerah rawa-rawa.
Niatnya yang kuat membuat Hasan berani melangkah. Apalagi sudah ada anggaran Rp 1 miliar lebih yang sudah ditampung sebelumnya.
Uang itu dipakainya untuk membeli lahan. Namun, pembelian lahan itu tidak dilakukan secara serentak melainkan bertahap.
“Kadang saya beli 1 Ha dengan Rp 30 juta. Ada yang Rp 20 juta dan ada yang Rp 10 juta,” kisahnya dalam perjalanan mengitari kebun jeruk.
Setelah lahan sudah dibeli, pada tahun 2010 Hasan mulai membuka perkebunan karet di atas lahan seluas 35 Ha.
Untuk usaha karet memang lebih menjanjikan. Sebab, makin tua makin subur getahnya.
Selain itu, usia produktifnya pun lebih lama dari sawit. Tiap 1,5 bulan, getah karet sudah siap untuk dipanen.
Dalam sekali panen bisa mencapai 10 ton dengan pengali Rp 9.000/Kg. Hasil itu lalu dibagi dua. Setengah untuk Hasan, setengah untuk penyadap.
Saat ini, sudah ada 13 pekerja di perkebunan karet miliknya. Ditambah lagi penyadap getah karet dari Banjarmasin 4 orang dan Palembang 13 orang.
Berbeda dengan karet yang sudah lebih lama ditanam, jeruk baru ditanam lima tahun lalu, walaupun lahannya sudah dibeli bersamaan dengan lahan untuk karet.
Terpisah dengan karet, lahan untuk jeruk disiapkan tersendiri dalam satu hamparan sejumlah 16 Ha bersamaan dengan tanaman lainnya.
Dari 16 Ha itu, 13 Ha disiapkan untuk jeruk. 2 Ha untuk 1.000 pohon kelapa. Sisanya untuk buah alpukat, rambutan, matoa, semangka, nanas, mangga, lombok, dan tanaman jenis buah lainnya.
Khusus jeruk, Hasan membeli bibit awal dari Pontianak. Jenis jeruk yang dibeli itu yakni Jeruk Madu Susu dan Jeruk Pontianak.
Rasa Jeruk Madu Susu, manis seperti jeruk siam dengan ciri fisik kulit yang agak kasar dengan pori-pori yang lebar ditambah ukuran buah yang lebih besar dari Jeruk Pontianak.
Sedangkan Jeruk Pontianak (citrus nobilis var. microcarpa) memiliki rasa manis seperti Jeruk Siam. Hanya bedanya kulitnya lebih tipis dan licin mengkilat.
Jeruk tersebut, saat ini, merupakan salah satu komoditas unggulan di Kota Pontianak.

Setelah tiga bulan ditanam, buah jeruk baru bisa dipanen. Jika terus berbuah pada pohonnya maka buah jeruk itu akan terus dipanen.
Apalagi dengan ukuran kebun yang luas dan penanaman yang tidak serentak maka setelah dipanen pada tiga bulan pertama, seminggu kemudian sudah bisa dipanen lagi.
Meskipun panenan terus berjalan, Hasan masih mengalami kendala pada soal racun, pupuk, kapur tanaman, dan pemasaran.
Biasanya tiga bulan sekali kebun jeruk mesti diracuni agar tanaman pengganggu tidak menghalangi perkembangannya.
Namun, harga racun cukup mencekik leher. 1 drum yang dibeli harganya tidak main-main, bisa mencapai Rp 23 juta.
“Kadang kami pakai racun Noxon yang 20 liter harganya Rp 1.600.000. Kadang Bablas Rp 2.300.000. Kadang juga Brantas,” jelas ponakannya Hairul yang tiap hari bersamanya bekerja di situ.
Tak hanya racun. Pupuk dengan berbagai jenisnya seperti urea, kompos, KCL dan sebagainya juga mencapi puluhan juta dalam sekali beli.
“Kadang kami pakai itu pupuk mutiara. Harganya sekarung 50 Kg itu mencapai Rp 1 juta lebih. Kalau urea Rp 200.000.
Sedangkan KCL itu Rp 800 ribu lebih. Mungkin sekarang Rp 900.000. KCL itu untuk pemanis buah,” lanjut Hairul.
Pupuk tentu digunakan untuk menetralisir keasaam tanah di kebun itu yang memang cukup tinggi.
Selain itu, pupuk juga membantu dan mendorong buah tanaman agar dapat tumbuh dengan lebat.
Lebih dari itu, dibutuhkan juga kapur tanaman untuk mendukung kesuburan tanah sebelum jeruk diberi pupuk.
Meskipun harganya Rp 90.000, ukuran kebun yang luas tentu membutuhkan jumlah kapur yang cukup besar.
Memang untuk saat ini, sesulit apapun harga pupuk, racun, dan kapur; kesulitan itu masih bisa diatasi. Namun, soal pemasaran sangat berbeda.
Untuk pemasaran jeruk, biasanya para pembeli sendiri yang langsung datang ke kebun Hasan.
Pada umumnya para pembeli pun merupakan masyarakat sekitar Berau. Pembeliannya juga tentu tidak banyak.
Namun, Hasan merasa beruntung saat ini karena ada satu pembeli dari Bulungan yang mau membeli jeruknya dalam jumlah besar.
Kerja sama di antara Hasan dan Pembeli itu pun sudah dibangun. Meskipun tidak memiliki jadwal pembelian tetap, tiap bulan pembeli itu selalu datang dengan mobil pick up-nya untuk membeli jeruk Hasan.
Dalam sekali beli, pembeli itu kadang membeli hingga 500 Kg sampai 1000 Kg (1 ton).
Setelah dibeli dari Hasan, pembeli tersebut lalu menjualnya kembali ke toko-toko buah yang ada di Bulungan.
Kendati demikian, jeruk yang dibeli itu hanya jenis Jeruk Pontianak. Selain karena rasanya manis, harganya juga Rp 6.000-7.000/Kg.
Jeruk Madu Susu memang dibeli juga. Namun, tidak dibeli dalam jumlah yang banyak. Akibatnya, jeruk itu hanya ditanam untuk sekadar makan atau diberi secara cuma-cuma kepada pembeli atau keluarga dan para kerabat.
Selain karena harganya mahal, jeruk ini juga merupakan jenis jeruk varietas baru hasil kawin silang dari Jeruk Sunkist, sehingga belum dikenal banyak orang.
Harganya pun mencapai Rp 13.000/Kg. Jeruk dengan harga itu memang untuk ukuran supermarket.
“Tapi kalau kita punya pasar di Samarinda pasti bisa. Sebab tengkulak kita ini juga tidak mau jual di Samarinda. Selain karena jauh, toh kalau dibeli, sudah habis terjual di Bulungan atau Malinau,” tegas Hairil.

Hasan paham bahwa saat ini kesukaran mencari pasar memang tidak bisa dihindari.
Namun, dia memilih tetap tenang menyikapi semua itu sambil tetap berkebun dan terus menghidupi keluarganya serta para pekerja yang setia menemaninya.
Saat ini, Hasan, duda 11 anak yang 4 anaknya sudah meninggal itu pun memiliki 10 orang pekerja yang membantunya.
Dalam sehari, Hasan mesti mengeluarkan uang Rp 1 juta untuk semua pekerjanya. Masing-masing mendapat bayaran uang tunai Rp 80.000.
Ditambah biaya rokok dan makan maka sehari untuk satu pekerja dikeluarkan anggaran sejumlah Rp 100.000.
“Para pekerja mulai masuk kerja pada pukul 08.00 pagi. Jam 11 istirahat. Jam 02.00 siang masuk, 4.30 istirahat. Jadi hanya 5,5 jam kerja,” sambung pria berdarah Bugis-Banjar itu.
Jadi, dengan hitungan waktu kerja 5,5 jam sehari dan biaya makan minum yang telah diuangkan, maka para pekerja mendapat upahnya untuk sebulan sejumlah Rp 3 juta.
Dengan demikian, Hasan mesti mengeluarkan uang Rp 30 juta per bulan untuk para pekerja yang membantunya.
Jika dijumlahkan secara keseluruhan maka anggaran untuk perawatan kebun, termasuk pupuk, racun, kapur, gaji dan sebagainya dalam sebulan sejumlah Rp 70 juta lebih.
Berhadapan dengan masalah finansial itu, keuntungan yang diperoleh Hasan dari kebunnya pun cukup kecil.
Namun, sekali lagi Hasan tetap bersyukur dengan usahanya itu dan tetap memilih untuk terus bertahan. Yang terpenting adalah makan minum sehari-hari untuk keluarga dan pekerjanya tetap ada.
Dia pun berharap agar para pekerja sepertinya pun dapat dibantu oleh pemerintah daerah untuk pupuk dan racun serta pemasaran.
Pemilik kebun pribadi saat ini memang tidak seberuntung para kelompok tani yang walaupun dalam kekurangannya masih mendapatkan dukungan anggaran dari pemerintah.
Kendati mendapat anggaran, pria yang telah ditinggalkan almarhuma istrinya pada 8 bulan yang lalu itu, sejak awal lebih memilih untuk menjalankan usahanya secara mandiri.
Pasalnya, dia sadar bahwa dirinya tak mampu bekerja dalam kelompok. Sebab, bekerja dalam kelompok cukup susah jika tidak sehati.
Lebih dari itu, kelompok tani pun kadang bekerja ketika ada anggaran dan bantuan. Jika tidak ada lagi anggaran maka tidak ada lagi pekerjaan yang kreatif yang bisa dikerjakan.
Hal itu yang dikhawatirkannya sehingga Hasan lebih memilih membuka usahanya sendiri daripada bergabung dengan kelompok tani tertentu.
Pada Januari tahun ini, pihak Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Berau memang sempat mengunjungi areal perkebunannya.
Namun, kedatangan mereka hanya untuk melihat-lihat keadaan sekitar tanpa ada pembicaraan yang serius terkait bantuan pupuk dan sebagainya.
“Waktu mereka datang mereka kaget karena pikir lahan ini milik kelompok dan bukan lahan pribadi.
Kalau lahan pribadi, 2 Ha itu sudah besar. Tak ada pembicaraan soal pupuk dan lain-lain,” paparnya.
Walaupun dinas terkait datang hanya untuk melihat keadaan di kebun itu, Hasan tetap mengharapkan agar pemerintah dapat membantunya juga untuk urusan pupuk, racun, termasuk menyiapkan pasar jeruk.
“Kalau pasarnya ada pasti kita bisa memasarkan ke luar dalam skala yang lebih besar dan belajar lebih giat merawat kebun,” lanjut Hairil menimpali.
Ketika waktu sudah menunjukkan pukul 15.30 Wita, masih terdengar pesan Hasan untuk para kawula muda saat ini.
Baginya, penting untuk melihat bahwa ada gejala yang timbul di pikiran orang muda zaman sekarang bahwa bekerja di tambang atau sawit lebih menjanjikan.
Padahal, ada banyak alternatif usaha lain yang bisa dijalankan. Menjadi pekebun jeruk juga menjadi satu pilihan yang bisa mendatangkan keuntungan finansial.
“Saran saya untuk anak muda, kalau punya gaji 5 juta misalnya, simpanlah 2 juta agar nanti bisa beli tanah sedikit demi sedikit.
Intinya anak-anak muda bisa menabung dan berani berinvestasi,” terangnya penuh keseriusan. (*)








